eramuslim

Habibie Center: 1 Persen Orang Terkaya Indonesia Kuasai 45 Persen Aset Nasional

Eramuslim - Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini terus meningkat. Bahkan pertumbuhan ekonomi pada 2017 sebesar 5,07 persen menjadi yang tertinggi sejak Jokowi menjabat di 2014.

Di tengah upaya meningkatnya pertumbuhan ekonomi, masih banyak pekerjaan pemerintah yang juga harus dijadikan perhatian utama. Salah satunya adalah penurunan angka gini rasio.

Ketua Dewan Direktur The Habibie Center, Sofian Effendi, mengatakan dengan gini rasio Indonesia yang masih di posisi 0,39 dirasa belum cukup baik untuk mencapai predikat pemerataan ekonomi.

"Dengan pertumbuhan seperti itu data yang dikeluarkan BPS September 2017 menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan, pemerataan belum berhasil kita ciptakan, terbukti gini rasio masi 0,391, bahkan data Credit Swiss menunjukkan 1 persen orang terkaya Indonesia menguasai 45 persen kekayaan nasional," terangnya dalam Seminar Nasional: Ekonomi Pasar Pancasila: Jalan Baru Ekonomi Indonesia di HOtel Le Meridiean, Jakarta, Selasa (3/7).

Angka gini rasio ini sedikit melebar dalam beberapa tahun dikarenakan adanya comodity booming yang terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu Indonesia lengah untuk membangun industri yang memiliki nilai tambah dan berorientasi ekspor.

Maka dari itu, demi mengurangi angka gini rasio tersebut, percepatan pembangunan industri berorientasi ekspor yang memiliki nilai tambah wajib dilakukan pemerintah. "Kita lambat karena bukan bertumpu pada sektor barang jadi. Sekarang ekonomi kita lebih banyak didrive ekspor bahan mentah dan konsumsi sehingga industrialisasi dari segi itu kita mundur," terangnya.

Tak kalah penting, peran pemerintah daerah harus lebih maksimal. Selama ini pemerintah pusat sudah cukup bagus dalam membuat kebijakan, namun saat ini masih belum teraplikasikan semua di level daerah. "Untuk itu ekonomi pancasila itu ekonomi yang digerakkan harus saling menguntungkan dan menolak modal dikelola oleh segelintir orang saja," pungkasnya. (Mdk)