Tolak G7, Prabowo Pilih Putin: Indonesia dan Malaysia Makin Mesra dengan Rusia?
Di tengah upaya memperkuat hubungan dagang dan bisnis, Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan PM Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan pesan hangat kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin. Apa yang mendorong pendekatan ini?
Presiden Indonesia Prabowo Subianto membuat langkah diplomatik yang mengejutkan bulan lalu: menolak hadir di KTT G7 di Kanada demi kunjungan tiga hari ke Rusia. Alih-alih bertemu Presiden AS Donald Trump untuk pertama kalinya, Prabowo justru bertemu Vladimir Putin dan menyatakan hubungan Indonesia–Rusia kini semakin kokoh.
“Pertemuan saya dengan Presiden Putin hari ini sangat intens dan produktif. Di berbagai sektor—ekonomi, pertanian, investasi—semua meningkat signifikan,” ujar Prabowo dalam konferensi pers bersama Putin.
Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Ini sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Rusia. Tapi yang membuat geger adalah pesan tersirat dari kunjungan tersebut: Indonesia tak ingin tunduk pada kekuatan global yang dominan. Prabowo bahkan menyebut Rusia dan Cina sebagai mitra konsisten tanpa standar ganda, serta membela kelompok tertindas.

Sikap ini mengingatkan pada langkah serupa dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang dalam dua tahun terakhir sudah tiga kali mengunjungi Moskow. Anwar bahkan sempat melontarkan pujian kepada Putin atas “kepemimpinan dan visinya yang membuat Rusia tetap bertahan di tengah sanksi Barat”.
Baik Indonesia maupun Malaysia terlihat ingin membangun kebijakan luar negeri nonblok baru—menjauh dari dominasi Barat dan merapat ke BRICS, blok ekonomi yang kini jadi alternatif geopolitik global. Indonesia kini sudah menjadi anggota penuh BRICS, sementara Malaysia, Thailand, dan Vietnam berstatus mitra.
Menurut analis, pendekatan ini muncul seiring dengan menurunnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat, terutama sejak AS menjauh dari komitmen internasional dan terus membela Israel dalam konflik di Timur Tengah. Survei ISEAS 2024 mencatat meningkatnya sentimen anti-Barat di Indonesia dan Malaysia—dua negara mayoritas Muslim terbesar di Asia Tenggara.
Analis hubungan internasional seperti Ian Storey dari ISEAS–Yusof Ishak Institute menilai, Prabowo dan Anwar sedang mencoba membebaskan diri dari cengkeraman blok barat demi memainkan peran lebih besar di panggung dunia. Tapi, apakah kedekatan dengan Rusia hanya strategi geopolitik, atau sudah mengarah ke kesamaan ideologis?
Ketika ditanya soal ketidakhadirannya di KTT G7, jawaban Prabowo singkat tapi penuh makna:
“Jangan terlalu banyak menganalisa... Kami ingin berteman dengan semua pihak.”
Namun, pidatonya di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg memicu spekulasi karena mengandung kritik tersirat terhadap AS, sekaligus pujian terang-terangan pada Cina dan Rusia.
Analis seperti Zachary Abuza menyebut Rusia kini tampil sebagai model alternatif bagi negara-negara yang ingin lebih mandiri dan tidak tunduk pada Barat.
“Rusia dianggap bisa berdiri sendiri, menantang dominasi AS, dan membangun tatanan global baru,” jelasnya.
Sementara itu, Bridget Welsh, analis politik dari Asia Research Institute Malaysia, menilai ada pula faktor domestik dalam kedekatan dengan Rusia:
“Banyak warga Malaysia percaya AS yang memprovokasi perang di Ukraina. Maka, sikap pro-Rusia ini juga mencerminkan sentimen dalam negeri.”
Dengan tren ini, Rusia tak hanya makin diterima di Asia Tenggara—tapi juga berhasil menggeser pengaruh Barat secara perlahan di antara kekuatan-kekuatan Muslim regional.
Apakah ini awal dari tatanan global baru, di mana negara-negara Asia seperti Indonesia dan Malaysia mengambil arah berbeda dari Barat? Atau hanya langkah pragmatis semata?
Sumber: DW News