eramuslim

Trump Cabut Sanksi AS untuk Suriah: Babak Baru Bagi Timur Tengah?

Eramuslim.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bikin kejutan besar. Pada Senin (tanggal waktu setempat), ia resmi mencabut sanksi ekonomi AS terhadap Suriah yang sudah berlangsung selama lebih dari 50 tahun!

Langkah ini diumumkan dalam konferensi pers di Gedung Putih, tak lama setelah Trump bertemu Presiden Interim Suriah, Ahmed al-Sharaa, di Arab Saudi pada bulan Mei lalu.

“Ini untuk membantu Suriah bangkit menuju perdamaian dan stabilitas,” ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Sanksi Dicabut, Tapi Bukan untuk Assad dan Kroninya

Meskipun sanksi terhadap negara Suriah dicabut, mantan Presiden Bashar al-Assad dan para pendukungnya tetap masuk daftar hitam. Sanksi juga tetap berlaku bagi pelaku pelanggaran HAM, pendukung kelompok teroris, dan proksi Iran.

“Presiden Trump ingin melihat Suriah yang damai, bersatu, dan tidak menjadi ancaman bagi tetangganya,” tambah Leavitt.

Reaksi dari Suriah: Saatnya Bangkit!

Pemerintah Suriah langsung menyambut baik keputusan ini. Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, menyebut pencabutan sanksi sebagai "titik balik penting".

“Sekarang kita bisa mulai membangun kembali negeri ini, membuka lapangan kerja, dan mengembalikan para pengungsi,” ujarnya melalui akun X.

Latar Belakang Singkat: Apa Itu Sanksi Suriah?

Mulai dari 1979, Suriah masuk daftar "negara sponsor terorisme" oleh AS.

Semakin diperketat di 2004 karena diduga menyimpan senjata berbahaya dan mendukung kelompok radikal.

Setelah pecahnya perang saudara 2011, sanksi makin berat, bahkan mencakup larangan ekspor dan pembekuan aset.

Di 2019, lahir UU Caesar, yang memungkinkan AS menghukum perusahaan asing yang berbisnis dengan Suriah.

Rezim Assad Tumbang, Pemimpin Baru Muncul

Pada Desember 2024, pemberontak yang dipimpin Ahmed al-Sharaa berhasil menggulingkan rezim Assad. Bashar al-Assad dan keluarganya kabur ke Moskow. Ini mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung 14 tahun.

Sharaa sendiri dulunya dikenal kontroversial karena pernah bergabung dengan kelompok Al-Qaeda, namun kini memimpin pemerintahan transisi dengan janji memulihkan Suriah secara damai dan demokratis.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bilang, bantuan dan investasi masih terbatas. AS ingin melihat apakah pemerintah baru benar-benar bisa menjaga stabilitas dan tidak mengancam Israel.

“Mereka bilang ini proyek nasional, bukan revolusi. Tapi tetap harus dibuktikan,” kata Rubio.

Israel pun waspada. Mereka sudah mengerahkan pasukan ke wilayah perbatasan dan mengebom beberapa titik di Suriah pasca tumbangnya Assad.

Langkah Trump mencabut sanksi ini bisa jadi angin segar bagi rakyat Suriah. Setelah lebih dari satu dekade perang, harapan rekonstruksi, perdamaian, dan kembalinya pengungsi kini terbuka. Tapi tantangannya tetap besar — dari soal stabilitas dalam negeri hingga hubungan dengan Israel.

Sumber: Middle East Eye