eramuslim

Ulama Ikrar Dukung Kiai As’ad Said Ali dalam Muktamar Lampung

Eramuslim.com - Diduga, dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung terjadi money politics melalui organ pengurus PWNU. Bahkan, ada juga bupati turut mengarahkan pada seorang calon Ketum PBNU.

*

SEJUMLAH Ulama Kultural Nahdlatul Ulama berikrar mendukung Dr. (HC) KH As’ad Said Ali sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 23-25 Desember 2021.

“Demi Keselamatan Agama, Bangsa dan Negara, khususnya Jamiyyah dan Jamaah Nahdlotul Ulama Kami NU Kultural khususnya KKNU 1926,

menyatakan:

Mendukung DR (Hc.) KH As'ad Said Ali, untuk Menjadi Ketua Umum PBNU Periode 2021-2026. Semoga kita meraih baldatun toyyibatun warobbun ghofur, dan izzul islam wal muslimin.”

Itulah pernyataan dukungan yang dilakukan oleh Komite Khittah Nahdlatul Ulama 1926 (KKNU-1926) di Galena Sidoarjo pada Jum' at, 17 Desember 2021 tepat pukul 20.00 WIB.

Pertemuan terbatas itu diikuti sekitar 15 ulama NU yang ingin supaya NU kembali ke khittah 1926.

KH Suyuthi Thoha (Banyuwangi), KH Najih Maimun Zubaer (Rembang), KH Ahmad Fauzi (Surabaya), KH M. Ghozi Wahib (Jogjakarta), Gus Sholahul Aam Wahib Wahab (Bogor), KH Ishaq Masykuri (Rembang);

Habib M. Taufiq Aljufri (Sidoarjo), Habib. M. Iqbal Assegaf (Sidoarjo), KH Abdul Malik (Sidoarjo), KH Makmun (Tulungagung), KH Maksum Abd. Rohman (Magetan), Gus Abd. Wahid Muin (Mojokerto);

Gus Abd. Rozak (Sidoarjo), Gus Ahmad Dadik (Malang), dan Ustadz Faisol (Probolinggo).

Sebelumnya, KH Malik Madani, guru besar UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta yang juga mantan Katib Am PBNU hasil Muktamar Makassar mendukung pencalonan Kiai As’ad Ali untuk maju dalam Muktamar ke-34 NU kali ini.

Dengan adanya kegaduhan yang dipicu oleh dua kandidat Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf dan Said Aqil Siradj, maka para sesepuh NU ini mulai memikirkan calon alternatif.

“Dan dari sekian nama yang memenuhi kriteria ideal adalah KH Dr. As'ad Said Ali,” ungkap Kiai Malik Madani. Kiai As'ad Ali adalah sosok pemimpin yang telah terbukti rela berkorban untuk menghidupi NU, bukan mencari hidup dan kebesaran dari NU.

“Orang yang seperti beliaulah yang layak kita dukung untuk memimpin NU ke depan. Mari kita berikhtiar lahir batin untuk itu,” lanjut Kiai Malik.

Kiai Malik menyitir, jika kita mengingat dawuh KH Sholahudin Wahid alias Gus Sholah bahwa "berikan manfaat ke NU jangan ambil manfaat ke NU", maka releven dengan kiprah Kiai As'ad Ali yang selama ini telah memberi manfaat yang besar pada NU khususnya soal pengkaderan.

“Jika kita teringat dawuh KH Muhammad Tholchah Hasan, pengurus NU itu harus melayani umat, bukan mengusai umat, maka sosok Kiai As'ad Said Ali masuk di dalamnya,” tegas Kiai Malik Madani.

Menurutnya, yang dihindarinya adalah SAS yang kebetulan alumni PMII dan Yahya yang kebetulan alumni HMI.

“Kita menolak keduanya (tersebut) bukan karena latar belakang organisasi kemahasiswaannya semasa di bangku kuliah, melainkan karena perilaku dan manuver politiknya sebagai orang NU. Kita butuh figur seperti Kiai As'ad!” ungkap Kiai Malik Madani.

Dukungan untuk Kiai As’ad Ali memang terus mengalir dari daerah. Seperti dukungan Nahdliyin akar rumput di sejumlah daerah agar Kiai As’ad maju sebagai Ketum dalam Muktamar ke-34 NU pada 23-25 Desember 2021.

Menurut Ketum KKNU 1926 Gus Sholahul Aam Wahib Wahab yang turut dalam Ikrar Ulama itu, Jam' iyyah Nahdlatul Ulama adalah Jam'iyyatu Adlin wa Ammaniin, wa Islahiin, dan wa Ahsanin.

Semua itu didasarkan pada Pola Pikir, Pola Sikap, dan Perilaku Individu atau Organisasi yang memperjuangkan Sistim Nilai, bukan Kekuasaan diantaranya.

Nilai-nilai Keagamaan, nilai-nilai Kerakyatan, nilai-nilai Kebangsaan, dan Etika Politik demi menegakkan Kebenaran dan Keadilan.

“Jadi yang diperjuangkan Jam' iyyah NU tersebut yaitu Sistim Nilai, bukan Kekuasaan. Karena yang diperjuangkan Jam' iyyah NU adalah Sistim Nilai. Seharusnya kita semua menyadari dan menginsyafi Jam' iyyah NU harus dijadikan sebagai Ladang Pengabdian,” ungkap Gus Aam.

Berjuang dengan tulus ikhlas demi NU itu seperti yang dicontohkan pendiri, inisiator, dan penggerak NU KH Wahab Chasbullah. Beliau berjuang dengan tenaganya, pikirannya, dan harta bendanya demi NU.

“Tidak seperti yang terjadi saat ini. Para pengurus Jam' iyyah NU ini diduga akan menjadikan Muktamar NU Lampung sebagai Ladang Money Politics,” ujar cucu pendiri NU Kiai Wahab Chasbullah ini.

Padahal, sudah jelas, Jam' iyyah NU adalah organisasinya para ulama-kiai yang fokus dan concern pada Sistim Nilai. “Bukan organisasi/partai politik. Bukan juga organisasi Profesi yang pada akhirnya berujung di kekuasaan dan uang,” lanjut Gus Aam.

Ia menilai, tega-teganya mereka melakukan hal yang tidak terpuji, tercela yang diduga akan melakukan money politics di Muktamar NU Lampung ini. Di mana akhlakul karimah mereka yang mengaku sebagai warga NU.

“Di mana keinginan mereka, tekad mereka menjunjung tinggi martabat dan marwah Jam' iyyah NU di Muktamar NU Lampung ini,” ujarnya. Seharusnya mereka semua Malu kepada pendiri NU Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari, jug kepada pendiri, inisiator, dan penggerak NU KH Wahab Chasbullah,” tegas Gus Aam.

Melansir Duta.co, mendekati Muktamar ke-34 NU yang berlangsung pada 23-25 Desember pekan ini di Lampung, sejumlah manuver dinilai telah memperkeruh suasana.

Ketua Presidium Barisan Nahdliyin Nusantara (BNNU) Sudarsono menduga Sekretaris PWNU Jatim Prof. Akhmad Muzakki offside atau melampaui kewenangan.

Sudarsono menunjukkan edaran chat WhatsApp yang diduga disebarkan oleh Prof. Muzaki kepada Ketua PC NU di tingkat kabupaten/kota se-Jawa Timur. Sebagian kutipan isi WA yaitu:

“Sehubungan dengan itu, PWNU Jawa Timur akan melakukan fasilitasi bagi peserta resmi muktamar dari PCNU se-Jawa Timur, mulai dari transportasi, konsumsi dan akomodasi.

Untuk kepentingan itu, PCNU yang belum menyerahkan agar segera mengumpulkan dokumen yang dibutuhkan untuk suksesnya muktamar yang terdiri dari usulan nama-nama Ahwa dan calon rais aam dan ketua umum. Deadline Sabtu, 11 Desember 2021 jam 23:59.

PCNU yang tidak menyerahkan surat usulan Ahwa dan calon rais aam dan ketua umum hingga tenggat waktu di atas dianggap tidak berkenan untuk berada dalam koordinasi dan fasilitasi PWNU Jawa Timur.

Sekian. Akh. Muzakki, Sekretaris PWNU.”

Darsono telah mengambil sikap dan sangat menyesalkan. “Situasi sudah kondusif dan bagus tapi muncul persoalan baru dari Jatim,” ujarnya, Rabu (9/12/2021) malam.

Dengan edaran itu dia memerinci ada empat keinginan Muzakki yang belum tentu mewakili institusi PWNU Jatim secara resmi ataupun kelembagaan.

“Sekretaris PWNU mengirim WA ke Ketua PCNU se-Jatim yang isinya, satu bahwa PWNU akan memfasilitasi utusan PCNU se-Jatim dengan setorkan nama putusan,” ungkap Darsiono.

“Yang kedua PCNU diminta setor calon Rais Am. Yang ketiga PCNU diminta setorkan nama calon ketua Tanfidziah. Yang keempat nama Ahwa,” lanjut Darsono.

Dengan munculnya edaran ini, kata mantan Ketua IPNU Jatim ini, sama dengan mendikte cabang ke satu kandidat.

“Yang saya kira bukan rahasia umum kandidatnya. Ini fenomena tak bagus, yang tidak boleh dilakukan pimpinan NU tingkat regional dan Sekretaris PWNU,” tegas Darsono.

Menurutnya, ini membuat PCNU resah. “Ini yang kami sikapi dan protes. Seharusnya berikan keleluasaan ke cabang karena kami yakini cabang sudah mampu dan arif siapa yang akan pimpin mereka,” lanjut dia.

“Apalagi ada sinyalemen kata memfasilitasi dalam tanda kutip ini peredaran uang. Ada yang dikatakan mau DP Rp 100 juta, setelah menang (ditambah) Rp 150 juta,” imbuhnya lagi.

Darsono menyebut, hal tersebut tak layak dilakukan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. “Organ kumpulnya para kiai. Hentikan cara itu agar NU bermartabat dan pengayom umat,” pungkasnya.

Indikasi adanya money politics yang dilakukan untuk mendukung seorang kandidat itulah yang membuat ulama-kiai kultural mendukung Kiai As’ad.[Mochammad Thoha, FNN]