eramuslim

UMKM Terdesak, F&B China Kuasai Pasar Indonesia: “Mereka Masuk Masif, Kita Mati Perlahan”

F&B asal China membanjiri salah satu ruas jalan di Kebon Jeruk.

Eramuslim.com - Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 4.000 gerai makanan dan minuman asal China seperti Mixue, Tomoro Coffee, dan Chagee menjamur di Indonesia dan Vietnam. Ekspansi besar-besaran ini membuat pelaku usaha lokal waswas. UMKM yang sempat terpukul akibat pandemi kini menghadapi tekanan baru dari raksasa F&B asing yang agresif menguasai pasar.

“UMKM lokal baru mulai bangkit, tapi sudah dikepung brand asing yang modalnya besar dan branding-nya kuat,” keluh Susanty Widjaja, Ketua Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI), kepada BBC News Indonesia.

Riset dari Momentum Works menunjukkan bahwa sejak 2022, lebih dari 6.100 gerai F&B China dibuka di Asia Tenggara, dua pertiganya ada di Indonesia dan Vietnam. Berbeda dengan merek Barat yang biasanya dikuasai oleh konglomerat lokal, gerai F&B China lebih mirip UMKM: kecil, murah, dan mudah diakses. Namun justru model seperti inilah yang paling mengancam UMKM lokal.

Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS, menjelaskan bahwa Indonesia menjadi lahan empuk karena regulasi longgar pasca disahkannya UU Cipta Kerja. Perizinan dan sertifikasi lebih mudah, biaya sewa dan listrik murah, dan jumlah kelas menengah yang tinggi membuat investor asing tergiur.

“Sistem kita belum siap mengontrol arus ekspansi asing yang secepat ini,” ujar Bhima.

Tak hanya itu, menurut Mohammad Faisal dari CORE, bahan baku yang diimpor dari China jauh lebih murah akibat kelebihan suplai di sana. Imbasnya, F&B China bisa menjual produk dengan harga rendah sambil tetap untung, sementara UMKM lokal tak mampu bersaing dalam biaya produksi maupun promosi.

Amelia, seorang mahasiswa, menggambarkan fenomena itu secara kasatmata. “Dulu jajanan lokal banyak, sekarang satu blok isinya Mixue dan Tomoro semua,” katanya.

Kondisi ini diperparah dengan lokasi yang tak adil. F&B asing umumnya mendapat tempat strategis, sedangkan UMKM ditempatkan di sudut belakang pusat perbelanjaan. Dorongan dari pemerintah untuk memberikan ruang lebih bagi UMKM belum diikuti regulasi yang jelas.

Bhima mengingatkan bahwa dominasi F&B asing bukan sekadar ancaman bisnis, tapi juga bisa berdampak pada stabilitas ekonomi nasional. Pendapatan mereka cenderung ditransfer kembali ke luar negeri, tidak berputar di dalam negeri seperti UMKM. Jika tren ini terus dibiarkan, maka devisa bisa terganggu dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang tertekan.

Meskipun F&B asing menyerap tenaga kerja, Bhima menyoroti masalah lain: ketidakpastian kerja dan rendahnya perlindungan buruh. “Mereka gaji belum tentu UMR, pekerja tak punya serikat, dan bisnis ini sangat tergantung tren. Kalau tren turun, mereka tinggal pergi,” jelasnya.

Susanty dan para pengamat sepakat bahwa langkah nyata dari pemerintah dibutuhkan sekarang juga. Mulai dari pembatasan jarak gerai asing terhadap UMKM, peningkatan efisiensi rantai pasok, hingga pemberian insentif pajak dan promosi untuk produk lokal agar mampu bersaing.

“Kita harus jadi raja di negeri sendiri dulu sebelum bicara ekspansi global,” tegas Susanty.

Sumber: BBC Indonesia