Mualaf dan Teror Orang Tua

sigit1Ass. Wr. Wb. Pak…

Sebelumnya saya ingin berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk mengajukan beberapa pertanyaa.

Saya adalah mualaf dan saat ini sudah menikah dan punya anak.

Keluarga saya tidak setuju atas keputusan saya untuk pindah agama apalagi menikah dengan orang yang berbeda agama. Keputusan untuk pindah agama tidak didasari atas cinta belaka tetapi memang keputusan atas kepercayaan saya bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan keraguan saya akan kebenaran agama saya yg dulu dan saya juga telah belajar agama Islam selama beberapa lama dengan bimbingan ustadz IM.

Masalah ini sempat menimbulkan perseteruan bahkan keluarga saya mengancam saya dan suami saya (bahkan mengancam ingin membunuh suami saya) dan membawa masalah ini ke pihak berwajib dengan tuntutan bahwa keluarga suami saya sudah mencuci otak saya dan menculik saya (karena saya kabur dari rumah ketika mereka tahu bahwa saya sudah pindah agama dan ingin meng-isolasi saya) Tapi Alhamdulillah atas dukungan orang-orang hebat di samping saya dan pastinya atas izin Allah SWT sampai saat ini kami dalam keadaan aman dan keluarga saya tidak pernah mengancam kami lagi walaupun jalinan komunikasi masih sangat kaku dan mereka belum merestui saya.

Yang ingin saya tanyakan adalah, saat ini saya baru punya anak, dan saya belum memberitahukan orang tua saya, selain karena tempat tinggal yg berjauhan dan memang hampir tidak pernah berkomunikasi. Ada rasa trauma dan takut mengingat mereka pernah mengancam kami. Yang paling saya takutkan adalah apabila saya memberitahukan keluarga saya bahwa saya sudah punya anak, saya takut mereka nantinya akan mempengaruhi anak kami dan melakukan tindakan yg tidak diinginkan.

Apa yang harus saya lakukan pak Ustadz. Di satu sisi saya ingin menjalin hubungan lagi dengan keluarga saya dan memberitahu bahwa orang tua saya sudah punya cucu, tapi disisi lain mengingat “keberanian dan kenekatan” mereka dulu terhadap saya dan suami saya, saya takut sesuatu terjadi sama anak saya, apalagi jika nanti mereka sering berkunjung ke ruamah saya, saya takut mereka berpura-pura baik padahal ingin mempengaruhi anak saya. Terus terang saya masih sangat takut dan trauma atas kejadian dulu.

Mohon petunjuknya.

Terima kasih.

Wass.

AM

Waalaikumussalam Wr Wb

Semoga Allah swt senantiasa memberikan kesabaran kepada anda didalam menghadapi berbagai ujian dan memberikan kekuatan kepada anda untuk tetap istiqomah diatas jalan-Nya yang haq yang mengarah kepada kebahagiaan dunia dan akherat.

Memang permasalahan yang anda alami sering pula dialami oleh saudara-saudara kita—para muallaf—lainnya dan ini pulalah yang dialami oleh sahabat Sa’ad bin Abi Waqash yang mendapat ancaman dari ibunya yang tidak akan makan dan minum sampai mati sehingga Sa’ad kembali ke agama nenek moyangnya. Namun jawaban Sa’ad adalah seandainya ibu memiliki seratus nyawa dan keluar satu persatu maka aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku. Jadi jika ibu mau makanlah dan jika ibu mau maka tidak usahlah makan dan akhirnya ibunya pun mau memakan makanan, sehingga turun ayat Allah swt :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 8)

Didalam ayat yang lainnya Allah swt berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا ﴿٢٣﴾
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ﴿٢٤﴾

Artimnya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al israa : 23 – 24)

Kedua ayat diatas memerintahkan setiap muslim untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun mereka masih belum memeluk islam. Bahkan perintah ini ditempatkan setelah perintah untuk bertauhid (mengesakan) Allah swt. Hal itu dikarenakan bahwa kedua orang tualah yang menjadi sebab keberadaannya di dunia, ayahnyalah yang mengusahakan nafkahnya sedangkan ibunya telah memberikan kelembutan kasih sayangnya.

Namun demikian ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya lebih utama untuk didahulukan olehnya daripada ketaatan kepada yang lainnya, termasuk kedua orang tuanya terlebih jika mereka berdua menghalanginya dari jalan Allah swt, seperti yang dilakukan Sa’ad bin Abi Waqash yang terus menerus memberikan hidangan makan dan minum kepada ibunya walaupun ibunya begitu murka kepadanya dan berniat untuk tidak makan hingga ajal menjemputnya.

Didalam firman-Nya yang lain :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan jka keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 15)

Imam Al Qurthubi mengatakan terhadap firman-Nya “pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” adalah dalil untuk tetap menjaga hubungan dengan kedua orang tua yang masih kafir sesuai dengan kemampuannya seperti dengan memberikan harta jika mereka berdua termasuk orang-orang fakir atau dengan perkataan yang lemah lembut dan ajakan untuk memeluk islam dengan kelembutan.

Asma binti Abu bakar ash Shiddiq mengatakan kepada Nabi saw bahwa bibinya datang menemuinya, ia juga ibu susuannya. Asma menanyakan hal ini kepada Rasulullah,”Sesungguhnya ibuku telah datang menemuiku dan ia sangat ingin membina hubungan apakah aku perlu (membina) hubungan dengannya? Nabi saw menjawab,”Ya.” (al Jami’ Li Ahkamil Qur’an jilid VII hal 386)

Selanjutnya Allah swt memerintahkan kepada mereka yang mengalami permasalahan seperti ini untuk tetap mengikuti jalan orang-orang sebelumnya yang tetap istiqomah didalam ketaatan kepada Allah swt walaupun orang-orang yang dikasihinya selama ini menentang keislaman mereka.

Bahkan tidak jarang dari mereka dikarenakan kesabarannya dan keistiqomahannya didalam perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya yang masih belum seaqidah dengannya pada akhirnya menjadi pelita di rumah itu dan berhasil mengarahkan mereka ke jalan Allah swt, seperti Sa’ad bin Abi Waqash yang setelah keislamannya itu menjadikan saudara-saudaranya kemudian memeluk islam seperti ‘Amir dan Uwaimir kecuali Utbah yang masih tetap memilih agama leluhurnya.

Dan apa yang terjadi pada anda selama ini berupa perlakuan keluarga anda yang dirasakan begitu berlebihan dan sangat menyakitkan anda maka bersabarlah dan janganlah itu menjadikan anda menutup rapat pintu hubungan dengan mereka dan terimalah itu semua dengan rasa ridho sehingga menjadi pahala yang besar disisi-Nya. Dan tetaplah menjalin hubungan dan komunikasi dengan mereka berdua walaupun mungkin mereka belum berkenan untuk itu.

Sebenarnya masih adanya komunikasi antara anda dengan mereka meskipun anda rasakan hal itu masih terasa canggung dan kaku adalah modal besar untuk mengembalikan hubungan anda dengan mereka. Adapun perasaan kaku maupun canggung didalam hubungan itu adalah hal yang biasa muncul pasca perseteruan diantara dua kubu. Dan manakala komunikasi ini bisa terus dijaga secara baik maka ia akan bisa menjadi pintu masuk untuk mengembalikan hubungan antara anda dengan mereka seperti sedia kala tanpa mempermasalahkan perbedaan agama.

Hal lain yang bisa menjadi modal anda adalah kehadiran anak anda sebagai suatu kabar gembira yang bukan hanya bagi anda berdua akan tetapi juga bagi kedua orang tua dan keluarga besar anda.

Dan sebaiknya sebelum anda memutuskan untuk mendatangi kedua orang tua anda dengan membawa suami dan anak anda maka perlu kiranya anda terlebih dahulu memberitahukan mereka akan kelahiran putra anda. Hendaklah pemberitahuan ini dilakukan pada waktu atau timing yang tepat dengan terlebih dahulu melihat keadaan mereka terhadap anda. Dan jika anda merasa tanggapan mereka terhadap informasi kabar gembira itu adalah positif maka teruskanlah dengan dialog-dialog yang lebih hangat lagi hingga pada saat berikutnya anda memberitahukan rencana kunjungan anda kepada mereka.

Akan tetapi jika tanggapan mereka terhadap informasi anda adalah negatif maka tetaplah anda bersabar untuk terus berusaha pada waktu-waktu berikutnya dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt. Dan anda harus tetap meyakini bahwa hati manusia ada didalam genggaman Allah swt dan bagaimanapun mereka membenci anda namun sifat kasih sayang seorang ibu (juga keluarga) terhadap masih tetap ada didalam diri mereka. Sekecil apapun rasa kasih sayang itu maka itu semua bisa menjadi peluang untuk anda bisa membina kembali hubungan dengan mereka dan menjadi pelita penerang ditengah-tengah mereka yang menunjuki ke jalan-Nya. Dan kepada Allah lah orang-orang beriman bertawakal.

Semoga Allah memudahkan semua urusan anda dalam berda’wah ditengah-tengah keluarga anda. Amin

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo Lc

Bila ingin memiliki  karya beliau dari  kumpulan jawaban jawaban dari Ustadz Sigit Pranowo LC di Rubrik Ustadz Menjawab , silahkan kunjungi link ini :Resensi Buku : Fiqh Kontemporer yang membahas 100 Solusi Masalah Kehidupan…