Iblis dan Surga Nabi Adam

sigit1Assalammualaikum Pak Ustad,

Hingga kini, masih ada pertanyaan yang masih menyelam di benak saya. Dalam sebuah kisah tentang Nabi Adam dijelaskan bahwa Iblis saat itu telah terusir dari surga. Ketika Hawa digoda Iblis untuk memakan buah khuldi (yang dilarang Allah untuk dimakan), logikanya Iblis berada di surga. Padahal, dijelaskan bahwa Iblis telah terusir dari surga. Mohon penjelasan dan pencerahannya.

Jazakallah

Waalaikumussalam Wr Wb

Iblis Dikeluarkan dari Surga

Firman Allah swt

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqoroh : 34)

Setelah Allah swt menciptakan Adam as maka Dia swt memerintahkan seluruh malaikat termasuk iblis untuk bersujud kepada Adam as bukan dengan sujud ibadah namun sebagai penghormatan kepadanya, menampakan kelebihannya dan sebagai bukti ketaatan mereka kepada Allah swt.

Seluruh malaikat mentaati perintah Allah swt dengan bersujud kepada Adam as kecuali iblis dikarenakan kengganannya menjalankan perintah-Nya dan kesombongannya. Perbuatannya ini menjadikannya keluar dari ketaatan kepada Allah swt dan menjadikannya sebagai makhluk Allah pertama yang kafir kepada-Nya.

Adapun makna iblis—menurut Abu Ja’far—menggunakan pola if’iil dari kata al iblaas yaitu putus asa dari kebaikan, penyesalan dan kesedihan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata,”Iblis berarti yang telah Allah jadikan dirinya berputus asa dari seluruh kebaikan dan menjadikannya setan yang terkutuk dan mendapatkan siksa dikarenakan kemaksiatannya.” (Tafsir Ath Thobari juz I hal 509)

Tidak ada perbedaan dikalangan para ulama bahwa perbuatan iblis yang tidak bersujud kepada Adam as menjadikan dirinya diusir dari surga, sebagaimana firman-Nya :

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

Artinya : “Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. (QS. Shaad : 77 – 78)

Perkataan Allah swt kepada iblis seperti فاهبط منها atau فاخرج منها adalah dalil bahwa iblis sebelumnya berada di langit lalu diperintahkan untuk turun darinya serta keluar dari rumah atau tempat yang didapatnya selama ini karena ketaatan dan ibadahnya yang seperti malaikat. Surga itu ditarik darinya dikarenakan kesombongan, dengki dan durhaka kepada Tuhannya untuk kemudian diturunkan ke bumi dengan kehinaan dan terusir. Setelah itu Allah swt memerintahkan Adam as dan juga istrinya untuk menempati surga.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلاَ مِنْهَا رَغَداً حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَ تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الْظَّالِمِينَ

Artinya : “Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqoroh : 35)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan dari banyak sahabat Nabi saw bahwa mereka mengatakan,”Iblis dikeluarkan dari surga kemudian Adam as ditempatkan di surga. Dia berjalan sendirian di surga tanpa ada seorang istri yang menjadikannya tentram. Suatu ketika ia tertidur dan saat terbangun dia mendapati disisi kepalanya ada seorang wanita yang sedang duduk.

Wanita ini diciptakan Allah swt dari tulang rusuknya, maka Adam pun bertanya kepadanya,”Siapa kamu?’ dia menjawab,’wanita.’ Adam bertanya lagi,’Untuk apa kamu diciptakan.’ Dia menjawab,’Agar engkau menjadi tentram denganku.’ Para malaikat mengatakan kepada Adam as—untuk melihat kemampuan pengetahuannya—,”Siapa namanya wahai Adam.’ Adam menjawab,’Hawa.’ Mereka bertanya,’Mengapa Hawa.’ Dia menjawab,’Karena dia diciptakan dari sesuatu yang hidup.” (Bidayah wa Nihayah juz I hal 92 – 93)

Adam dan Hawa menetap di surga dan diperbolehkan menikmati seluruh kenikmatannya dengan berbagai makanan dan minumannya kecuali satu pohon yang dilarang untuk dimakan buahnya.

Upaya Iblis Masuk Lagi ke Surga

Adam dan Hawa tetap tidak lepas dari gangguan iblis yang ingin menyesatkannya dan terus mendesak mereka berdua untuk melanggar perintah Allah swt agar memakan buah dari pohon yang dilarang tersebut. Bahkan dengan segala bujuk rayunya hingga dia mengatakan kepada mereka berdua bahwa itu adalah pohon abadi.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Artinya : “Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. (QS. Al A’raf : 20)

Lantas bagaimana setan itu bisa masuk kembali ke surga serta menggoda Adam dan Hawa ?! Bukankah dia telah diusir sebelumnya tatkala tidak mau sujud kepada Adam as ?!

Diriwayatkan dari as Suddiy dari Abi Malik dari Abi Sholih dari Ibnu Abbas—dan dari Murroh al Hamdani, dari Ibnu Mas’ud—dan dari banyak sahabat nabi saw berkata,”Tatkala Allah Azza wa Jalla berkata kepada Adam,’Tinggallah kamu dan istrimu di surga. Makanlah darinya yang banyak lagi baik sekehendak kamu berdua dan janganlah mendekati pohon ini sehingga kamu berdua menjadi orang yang zhalim.”

Iblis berupaya untuk masuk menemui mereka berdua di surga namun terus dihalangi oleh para penjaganya. Lalu muncul seekor ular yang memiliki empat buah kaki seperti layaknya onta dan tampak sebagai hewan yang paling bagus. Iblis membujuk ular itu agar mau memasukannya kedalam mulutnya sehingga ia membawanya bertemu dengan Adam. Ular itu pun memasukan iblis kedalam mulutnya kemudian melewati para penjaga surga dan berhasil masuk kedalamnya sementara mereka tidak mengetahuinya tatkala Allah menghendaki suatu perkaranya.

Iblis itu berbicara melalui mulut ular itu sementara Adam tidak memperdulikannya maka iblis pun keluar menemui Adam dan mengatakan,”Wahai Adam maukah aku tunjukan kepadamu sebuah pohon yang abadi dan kekuasaan yang tidak sirna.” Dia mengatakan lagi,”Maukah aku tunjukan kamu sebuah pohon apabila engkau memakan darinya maka engkau akan jadi raja seperti Allah swt atau kalian berdua akan kekal dan tidak akan mati selamanya.

Iblis pun bersumpah atas nama Allah—dengan mengatakan—,”Sesungguhnya aku hanya menasehati kalian berdua.” Sesungguh iblis menginginkan dengan itu agar aurat mereka berdua tampak dengan terlepasnya pakaiannya. Iblis telah mengetahui bahwa mereka berdua memiliki aurat setelah membaca kitab malaikat. Adam tidak mengetahui perihal ini…

Adam enggan untuk memakan dari pohon itu, akan tetapi Hawa mendekati pohon itu dan memakannya kemudian dia berkata,”Wahai Adam makanlah, sesungguhnya aku telah memakannya dan tidak terjadi apa-apa padaku. Dan tatkala Adam memakannya maka tampaklah aurat mereka berdua dan mulailah mereka berdua menutupinya dengan daun-daun surga. (Tarikhur Rusul wal Muluk juz I hal 28)

Abdurrazaq dan Ibnu jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,”Sesungguhnya musuh Allah swt Iblis menawarkan dirinya kepada setiap binatang melata, agar dapat membawanya masuk ke surga dan berbicara kepada Adam dan istrinya. Namun semua hewan menolak tawarannya itu.

Lalu dia berkata kepada ular,”Aku akan melindungi dirimu dari gangguan Adam dan engkau ada dalam jaminanku jika engkau memasukanku kedalam surga.’ Maka ular itu membawa iblis diantara dua taringnya lalu masuk kedalam surga. Tadinya ular ini berjalan dengan empat kakinya lalu Allah menjadikannya berjalan diatas perutnya.”

Ibnu Abbas berkata,”Maka bunuhlah ular dimanapun kalian mendapatkannya. Pendamlah makhluk yang pernah mendapat jaminan dari musuh Allah itu.” (Luqthul Marjan fi Ahkamil Jaan, Imam Suyuthi, edisi terjemahan hal 178)

Wallahu A’lam