free hit counters
 

Teddy Snada : Setiap Hari adalah Hari Ibu

Redaksi – Kamis, 17 Rabiul Akhir 1439 H / 4 Januari 2018 10:07 WIB

EramuslimAdvertorial – Bagi seorang Teddy Snada, ibu adalah teman hidup yang melebihi istri. Seorang ibu, kata Teddy, kedudukannya lebih tinggi dari ayah dan istri. Ibu jualah yang menjadi cerminan bagaimana Teddy Snada menjadi seperti sekarang ini. Teddy mengisahkan, ibunya yang sudah sepuh masih suka menyanyi keroncong, bahkan masih sering siaran langsung di RRI untuk menyanyi keroncong.
Darah seni ini diturunkan kepada Teddy. Jadi, baginya, seorang ibu itu cerminan. Menurutnya, tak usahlah susah-susah melihat dari DNA atau gen, karena melihat dari kebiasaan saja beberapa hal di antaranya akan ada kesamaan.

“Ibu nyanyi keroncong, saya juga jadi suka menyanyi. Ibu sering menari tarian sunda, sejak kecil saya pun terpengaruh kebiasaan ibu ini,”kata Teddy kepada Sayati.


Menjelang hari ibu ini, menurutnya hari ibu memang penting, namun, baginya setiap hari adalah hari ibu. Tengoklah kebiasaan setiap anak kecil yang selalu memanggil ibunya. Ibunya tidak ada, pasti akan dicari. Bahkan, menurutnya, pada saat seorang Ayah mau menyampaikan sesuatu pasti harus disampaikan kepada ibu. Ibulah yang akhirnya menjadi orang yang cerewet karena kedekatan dengan anak-anaknya.

“Pada saat anak lepas dari rumah pun pasti yang ditelepon itu ibu,”kata Teddy.
Untuk itu, kata Teddy, memaknai hari ibu tak harus menyoal bagaimana bakti anak terhadap ibunya. Namun, ujar dia, lihat juga bagaimana komitmen ibu dan ayah untuk memperhatikan anak-anaknya. Menurut Teddy, anak usia 0-7 tahun adalah generasi emas. Apabila seorang ibu menyerahkan pengasuhan kepada orang lain, tentu tidak akan dekat dengan ibunya. Pada suatu masa jika ada konflik yang berat, anak-anak tidak akan menurut kepada orang tuanya.

“Jadi di hari ibu ini, tekankan bagaimana ibu khususnya memperbaiki diri, terutama pada saat anak di periode emasnya,”ujar Teddy.

Ia mencontohkan, bagaimana penghafal cilik ALquran, Musa La Ode Hanafi bisa menghafal Alquran di usia mudanya tentu tak terlepas dari peran seorang ibu dan ayahnya. Kedua orang tuanya dengan luar biasa membuang kegiatan mereka demi memperhatikan Musa dan membela kepentingan Musa. Jadi menurutnya, ibu harus bisa mendidik anak sejak dini karena anak ibarat sebuah tanaman.

“Ibarat menyemai kebun, ibu akan bahagia jika tanaman sudah dipanen. Bagaimana proses menanam yang baik akan memberikan buah yang memuaskan. Tanaman pun dijaga supaya tidak kena hama dan perusak lainnya,”ujar Teddy.

Begitulah peran seorang ibu, jika ibu mau mendekatkan diri dengan anak, membela kepentingan anak, dan menjaga dari lingkungan yang buruk, tentu ibu akan mendapatkan manfaat dengan mendapatkan anak yang soleh dan solehah. Jadi, seorang anak dibentuk bagaimana orang tua mendidik dan bagaimana lingkungan mempengaruhi mereka. Patutlah, kata Teddy, Rosulullah sangat mencintai anak-anak yatim. Karena anak yatim telah kehilangan sesuatu yakni bapak dan ibunya.
Teddy menceritakan mengenai kedekatannya dengan anak yatim yang setiap membuat status di media sosial pasti mengandaikan jika ibunya masih ada. “Mau kita hibur demikian rupa juga kita nggak mampu, karena dia pasti mellow lagi,”ujar Teddy.

Untuk itu, aada baiknya ibu harus selalu belajar menjadi orang tua yang baik dengan meneladani bagaimana Rosulullah memelihara Fatimah. Ibu juga harus menjaga perilaku yang baik karena nanti suatu saat anak berjodoh, pasti melihat apakah jodoh tersebut menyamai ibunya.

“Jadi dalam hari ibu nanti, perlu ditekankan, marilah para ibu, menjadi ibu yang baik, dengan lebih memperhatikan anak-anaknya,”ungkap Teddy.

loading...

Wakaf Terbaru

blog comments powered by Disqus