Zohran Mamdani Kecam Ancaman Penangkapan dari Trump, Sebut Itu Serangan terhadap Demokrasi

Eramuslim.com - Zohran Mamdani, kandidat dari Partai Demokrat dalam pemilihan wali kota New York City yang akan datang, mengecam ancaman Presiden Donald Trump untuk menangkap dirinya karena berjanji akan menentang penggerebekan oleh Imigrasi dan Bea Cukai (ICE). Ia menyebut pernyataan Trump sebagai “serangan terhadap demokrasi kita” dan bentuk “intimidasi.”
Mamdani, anggota parlemen negara bagian dari faksi Sosialis Demokratik, meraih kemenangan mengejutkan dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pekan lalu setelah mengalahkan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo. Ia sebelumnya telah menyatakan bahwa dirinya akan menjadi “mimpi buruk terbesar bagi Donald Trump.” Dalam pidato kemenangan malam itu, Mamdani mengecam upaya pemerintahan Trump untuk melakukan deportasi massal, dan berjanji akan menggunakan wewenangnya untuk “menghentikan agen ICE bertopeng yang mencoba mendeportasi tetangga kita.”
Trump telah melancarkan kritik terhadap Mamdani sejak politisi berusia 33 tahun itu memenangkan pemilu pendahuluan, bahkan menyebutnya sebagai “komunis gila 100%” setelah hasil diumumkan. Serangannya semakin memanas dalam konferensi pers pada Selasa, ketika ia mengeluarkan klaim palsu bahwa Mamdani berada di Amerika Serikat secara ilegal.
Faktanya, Mamdani tidak tinggal secara ilegal di AS. Ia lahir di Uganda dan pindah ke Amerika Serikat pada usia 7 tahun, lalu menjadi warga negara AS melalui proses naturalisasi pada tahun 2018.
Ketika ditanya dalam konferensi pers mengenai responsnya terhadap janji Mamdani yang akan menentang agen ICE, Trump menjawab, “Kalau begitu, kita harus menangkap dia.”
Beberapa jam kemudian, Mamdani menanggapi melalui media sosial, mengecam komentar Trump dan menyatakan bahwa ancaman penangkapan itu “bukan karena saya melanggar hukum, melainkan karena saya menolak membiarkan ICE meneror kota kita.”
“Pernyataannya bukan hanya serangan terhadap demokrasi kita, tetapi juga pesan ancaman bagi setiap warga New York yang menolak hidup dalam ketakutan: jika kamu bersuara, mereka akan mengejarmu,” kata Mamdani dalam pernyataan resminya. “Kami tidak akan tunduk pada intimidasi ini.”
Operasi deportasi massal yang dijalankan oleh pemerintahan Trump telah memicu kontroversi dan kritik luas, termasuk dari para politisi di New York. Pada bulan Juni lalu, pengawas keuangan New York City, Brad Lander—yang saat itu juga mencalonkan diri sebagai wali kota dari Partai Demokrat—ditahan oleh agen federal di gedung pengadilan imigrasi Manhattan saat ia mencoba mendampingi seorang individu yang tampaknya akan ditangkap oleh pejabat federal.
Lander sedang mengamati proses persidangan imigrasi setelah banyak laporan yang menyebutkan bahwa imigran yang hadir di pengadilan sering ditangkap oleh agen ICE.
Pada bulan yang sama, ribuan orang turun ke jalan di Los Angeles untuk memprotes penggerebekan ICE di wilayah tersebut. Aksi itu memicu kemarahan Trump dan mendorongnya untuk mengerahkan Garda Nasional. Protes terhadap kebijakan imigrasi Trump yang agresif pun menyebar ke banyak kota lain di seluruh Amerika Serikat, termasuk New York City.
Sumber: Time.com