Korporatokrasi, Dari Arab Saudi Sampai Pilpres Indonesia

Jumat, 03/07/2009 10:47 WIB | Arsip | Cetak

Hitman ekonomi itu memang ada. John Perkins, dalam bukunya yang berjudul Confessions of an Economic Hit Man berkata, “Saya seorang hitman.” Siapa dan apa gerangan Perkins dan hitman itu sendiri?

Secara khusus hitman ekonomi diartikan sebagai seseorang yang dibayar secara professional untuk "mengintip" negara-negara di seluruh dunia. Mereka bertugas mengepak uang dari Bank Dunia, agen AS untuk pembagunan ekonomi dunia dan organisasi bantuan luar negeri lainnya kepada sebagian kecil korporasi besar dan segelintir orang kaya di sebuah negara yang mengontrol kekayaan alamnya. Perlengkapan mereka adalah laporan finansial, pemilu, seks, dan pembunuhan. Mereka memainkan perannya seperti memainkan sebuah kerajaan besar, dan menyesuaikan diri dengan dimensi globalisasi.

Pasca kejadian September Hitam 9/11 dan invasi AS atas Iraq, John Perkins dilanda ketakutan luar biasa akan masa depan dunia. Peristiwa ini yang menurut Perkins membuatnya menuliskan pengalamannya sebagai seorang hitman. Awalnya adalah  melalui sebuah seri kejadian yang tampaknya memang telah disiapkan, Perkins direkrut oleh Agen Keamanan Nasional dan mulai bekerja sebagai seorang ekonom di perusahaan Boston, Chas. T. Main, Main. Faktanya, dia adalah seorang hitman ekonomi dan Main hanya sebuah mesin operasinya.

“Kami sebuah klub kecil yang ekslusif. Kami dibayar, sangat mahal, untuk meneliti negara-negara di seluruh dunia. Tugas besar kami adalah membuat para pemimpin dunia mau menerapkan kepentingan komersial AS. Pada akhirnya para pemimpin negara ini terperangkap dalam jaringan utang yang harus membuat mereka setia (kepada AS).” Perkins memaparkan deskripsi pekerjaannya.

Sejarah hitman ekonomi dunia dimulai di Iran pada tahun 1953 ketika seorang agen CIA, Kermit Roosevelt memimpin pemilu demokrasi Mohammed Mossadegh. Dengan jalan menyuap dan ancaman, kekisruhan dan rusuh massal, usaha Roosevelt menghasilkan tergulingnya Mossadegh dan dimulainya kepemimpinan Shah Iran, tanpa menggunakan militer.

Namun pencapaian ini menyebabkan masalah besar lainnya. Risiko Kermit Roosevelt tertangkap, maka akan terbongkar semua hubungannya dengan CIA dan pemerintahan AS. Maka, Hitman ekonomi menjadi solusi. Perkins menulis, “Hitman ekonomi tidak digaji oleh pemerintah; tapi mereka mengambil gajinya dari sektor swasta. Hasilnya, jika kerja mereka terungkap ke publik, maka yang tercoreng adalah badan swasta tersebut, bukan kebijakan pemerintah.” Di sini taktik Kermit Roosevelt menjadi prosedur standar kerja bagi Hitman ekonomi.

Sekelompok banker dari Bank Dunia, IMF, dan bank swasta; pemimpin perusahaan: dan pejabat pemerintah adalah kombinasi sempurna yang oleh Perkins disebut sebagai "korporatokrasi", dan mereka semua inilah yang mengendalikan sistem ekonomi dunia. Perkins menyebut nama Robert McNamara sebagai pemain kunci dalam sistem yang menggerakkan antara pemerintah, pihak swasta dan institusi bank.

Sebagai seorang hitman ekonomi, Perkins plesir ke berbagai negara di Asia, Amerika Latin dan Timur Tengah. Dia menulis kerja Shah Iran dengan tinta emas, melumatkan Indonesia, dan bahkan kekonyolan pangeran-pangeran Arab Saudi. Dia bekerja sama dengan presiden Panama Omar Torrijos dan presiden Ekuador Jaime Roldos, dua orang yang Perkins sebut sebagai “semangat keluarga”. “Mereka berdua dilenyapkan karena mereka menentang kemapanan korporatokrasi yang tujuannya adalah mendirikan kerajan dunia.” demikian Perkins.

Buku Perkins telah menguncang dunia dan memberikan cerita menegangkan kepada orang-orang di berbagai Negara.

Perkins menerangkan bahwa kekacauan dalam laju ekonomi global sekarang adalah sesuatu yang tak bisa dideteksi oleh para hitman ekonomi, begitu juga Robert McNamara yang tak mengerti penyebabnya. Ia menyebutkan bahwa di dunia ini hanya ada enam negara yang sekarang ini menolak korporatokrasi dalam pemilu mereka, yaitu Chile, Argentina, Brazil, Uruguay, Venezuela, and Ekuador. Selebihnya, termasuk Indonesia, masih lekat dengan dominasi korporatokrasi. (sa/dlycllgn)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Laporan Khusus

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang