Ciri-Ciri Orang Saleh yang Disebutkan dalam Alquran

Ketua Yayasan Madinatul Ilmi Ustaz Muhammad Hisyam Asyiqin, sebagaimana dikutip dari Harian Republika menjelaskan, secara etimologi, kata shalih berasal dari shaluha-yashluhu–shalahan yang artinya ‘baik’, ‘tidak rusak’, dan ‘patut’. Sedangkan, shalih merupakan isim fa’il dari kata tersebut di atas yang berarti ‘orang yang baik’, ‘orang yang tidak rusak’, dan ‘orang yang patut’.

Menurut definisi Alquran yang menukil dari ayat di atas, saleh adalah orang yang senantiasa membaca Alquran pada malam hari, melaksanakan shalat malam (tahajud), beriman, dan beramal saleh, menyuruh kepada kebaikan, mencegah perbuatan munkar, dan bersegera mengerjakan kebajikan.

 

Kita patut berbaik sangka dan optimistis bahwa umat Islam sedang menuju kesalehan seperti apa yang disebutkan Alquran. Setidaknya, ada gejala peningkatan kesadaran beragama yang semakin terasa di tengah masyarakat.

Hanya, Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada kita tentang kondisi umat Islam pada akhir zaman. Beliau bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, al-Baihaqi, Abu Dawud)

Melihat kondisi sekarang, hadits tersebut masih relevan untuk direnungkan. Ada kalanya penyakit cinta akan dunia dan takut mati masih merasuk kepada jiwa kita. Ini terlihat manakala adanya perpecahan dan konflik di dalam tubuh umat Islam sehingga mengecilkan umat itu sendiri. Umat Islam sering kali disibukkan dengan pertengkaran antarsesama saudara Muslim.

Mungkin saja apa yang menimpa umat ini merupakan ujian agar kita menjadi umat terbaik seperti zaman rasul dan sahabat. Bukankah Rasulullah SAW, ditukil dari HR Tirmizi dan Ibnu Majah, berpesan bahwa seorang hamba akan diuji sebanding dengan kualitas agamanya?

Apabila agamanya begitu kuat maka semakin berat pula ujiannya. Jikalau agamanya lemah maka ia akan diuji juga sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa. Wallahualam. ROL