Bentuk-Bentuk Ibadah Umat Terdahulu

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ustad Ana ada pertanyaan. Bagaimana cara (bentuk) bentuk ibadah umat terdahulu sebelum datangnya nabi Muhammad. Dan mohon bantuan untuk mencantumkan dalil yang mendasarinya? Terima kasih ustad

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di dalam Al-Quran kita menemukan dalil bahwa umat-umat terdahulu disebut juga dengan umat Islam. Bahkan mereka pun disyariatkan untuk melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan bentuk-bentuk ibadah lainnya. Termasuk berlaku juga syariat dan hudud seperti rajam, potong tangan, cambuk dan seterusnya.

Kalau pun ada perbedaan, berkisar pada tataran teknis saja. Di mana perbedaan ini dapat terjadi karena dua faktor. Pertama, karena faktor perbedaan dari Allah. Kedua, karena faktor bias dan penyelewengan para penerus agama tersebut.

Umat Terdahulu Mengerjakan Shalat, Puasa, Zakat dan Haji

Selain berstatus muslim, umat terdahulu juga diperintahkan untuk mengerjakan ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

Shalat dan Zakat

Nabi Isa alaihissalammenyebutkan bahwa Allah SWT telah memerintahkannya melakukan shalat dan zakat.

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup. (QS. Maryam: 31)

Namun mereka hanya dibenarkan shalat di dalam mihrab (tempat shalat khusus), tidak boleh dikerjakan di sembarang tempat. Bahkan tanah yang kita injak ini tidak suci bagi mereka, sehingga tidak boleh digunakan untuk bertayammum.

Sedangkan khusus untuk nabi Muhammad SAW, shalat boleh dikerjakan di mana saja di atas tanah dan tanah itu bisa dijadikan media untuk bersuci (tayammum). Sesuai dengan sabda beliau SAW:

وعن أبي أمامة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: جعلت الأرض كلها لي ولأمتي مسجدا وطهورا ، فأينما أدركت رجلا من أمتي الصلاة فعنده مسجده وعنده طهوره رواهما أحمد

Dari Abi Umamah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Telah dijadikan tanah seluruhnya untukkku dan ummatku sebagai masjid dan pensuci. Di manapun shalat menemukan seseorang dari umatku, maka dia punya masjid dan media untuk bersci. (HR Ahmad 5: 248)

Tentunya shalat mereka tidak lima waktu seperti kita sekarang ini, karena perintah shalat lima waktu hanya ada setelah mi’rajnya Rasulullah SAW.

Shalat yang diwajibkan kepada nabi Sulaiman adalah shalat Ashar, yaitu shalat pada sore hari.

Bangsa Arab jahiliyah pun mengenal shalat, namun seperti yang disebutkan dalam firman Allah, teknis ritualnya sudah mengalami pergeseran total dari yang seharusnya. Tinggal berbentuk siulan dan tepuk tangan.

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal: 35)

Dan shalatnya umat kristiani sepeninggal nabi Isa telah bergeser menjadi nyanyi-nyanyi di gereja, bahkan sekedar meletakkan tangan segitiga. Mereka bahwa ruku’ dan sujud bukan kepada Allah, melainkan kepada pemuka agama mereka.

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. At-Taubah: 31)

Puasa

Ritual puasa adalah ibadah yang dilakukan umat terdahulu, sebagaimana firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Namun bentuk puasa umat terdahulu sedikit berbeda dengan puasa yang disyariatkan kepada umat nabi Muhammad SAW.

Misalnya puasa yang Allah syariatkan kepada Nabi Daud alaihissalam dan umatnya, mereka diwajibkan puasa seumur hidup setiap dua hari sekali berselang-seling. Sedang kita hanya diwajibkan puasa satu bulan saja dalam setahun, yaitu bulan Ramadhan.

Puasa yang dilakukan Maryam adalah tidak berbicara kepada manusia. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran:

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini."(QS. Maryam: 26)

Haji

Ritual ibadah haji di Makkah sudah dijalangkan jauh sebelum nabi Muhammad SAW dilahirkan. Nabi Ibrahim alaihissalam dan puteranya Ismail telah mempelopori ritual itu belasan abad sebelum turunnya Al-Quran.

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Adam alaihissalam juga melakukan ritual haji saat bertemu kembali dengan isterinya di Jabal Rahmah.

Dan sebelumnya, para malaikat yang diutus Allah SWT ke muka bumi telah membangun ka’bah dan bertawaf di sekelilingnya. Ini menunjukkan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang sudah ada semenjak manusia belum diciptakan.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, bentuk teknis ritual haji mengalami pergeseran dan penyimpangan. Hal ini terekam saat Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW. Bangsa Arab saat itu masih menjalankan ritual tawaf di sekeliling ka’bah, namun dengan cara telanjang tanpa busana, sambil bertepuk-tepuk tangan. Ka’bahnya sendiri dikotori dengan 360 berhala yang menggambarkan syirik kepada Allah.

Menjelang akhir hidupnya, Rasulullah SAW bersama ratusan ribu shahabatnya melaksanakan ritual haji. Sejarah mencatatnya sebagai haji wada’. Dan ritual haji wada’ ini menjadi tonggak pelurusan kembali ritual ibadah haji sesuai dengan perintah dan petunjuk dari Rasulullah SAW. Dikunci dengan sabda beliau: Kudzu ‘anni manasikakum, ambillah dariku manasik kalian.

Wallahu a’lam bishshawab, wasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc