Tujuan Hidup

Assalamualaikum, ustadz.

Saya adalah laki-laki berusia 21 thn. Pada dasarnya saya hidup dari keluarga yang taat beragama, namun dahulu saya adalah orang yang suka melakukan perbuatan dosa dan suka terbuai oleh dunia (pemuja cinta pada selain Allah) dan bahkan dengannya (cinta) saya jadikan sebagai penyemangat hidup saya. HIngga saat ini saya masih mencoba dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki niat, diri dan bertobat kepada Allah.

Namun semakin saya mendekatkan diri padaNya, seakan dunia tidak lagi menjadi terlalu menarik di mata, hati dan hasrat saya. Sehingga saya hanya ingin mendekatkan diri pada Allah saja, dan bahkan sempat terlintas keinginan untuk menjadi sufi. Namun saya teringat akan Hadits rasul untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Kini saya seakan tidak dapat menentukan arah tujuan dan harapan yang dapat menjadikan saya bersemangat dari waktu ke waktu dan sesuatu hal sbg motivator utk saya kejar dari waktu ke waktu. Sehingga jiwa saya seakan menjadi hampa tanpa ambisi atau tujuan, dan hanya mengikuti arah hidup yang mengalir saja. Pertanyaan saya adalah:

1. Apakahyangsaya rasakan ini? Hingga kini pun saya blum dpt mendefinisikannya?

2. Solusi apayangterbaik bagi saya?

3. Dan tujuan apakahyangplg terbaik bagi hambaNya?

Syukran…

Ananda Adha yang saya hormati, sebelumnya salut buat Anda yang dapat memahami serta merubah hidup menuju yang lebih baik.

Menikmati dan menjalani kehidupan ini diawali dari cara pandang kita tentang kehidupan ini. Bagaimana kita memaknai hidup yang dijalani serta prosesnya.

Dan manusia diciptakan oleh Sang Khaliq adalah untuk kemaslahatan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain dan lingkungannya. Allah tidak hanya menyuruh manusia untuk mengerjakan sholat semata dan ibadah-ibadah individual lainnya, tetapi juga diminta untuk mengerjakan amalan-amalan sosial seperti, berzakat, infaq, amal ma’ruf nahi munkar serta memahami penciptaan-penciptaan lainnya. Oleh karenanya Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini serrta menjadi rahmat bagi alam semesta (QS. 21: 107). Dan Rasulullah pun menegaskan dalam sebuah haditsnya “Yang terbaik di antara kalian adalah orang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Untuk itu, perbaiki paradigma hidup kita bahwa yang utama dalam hidup ini adalah penekanan pada proses untuk kehidupan yang lebih baik. Walau bukan berarti niat dan tujuan yang disepelekan. Tabungan amal sholeh adalah yang utama, apalagi dapat meninggalkan warisan bermakna bagi generasi penerus kita sebagaimana para pendahulu kita yang mewariskan berbagai ilmu sehingga kita mudah untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dengan amal shaleh.

Warisan bermakna yang akan membuat kita bahagia di dunia dan tersenyum senang di akhirat kelak. Seperti yang dikatakan Sayyid Quthb ketika ia akan menghadapi kematian di tiang gantungan, “Kebahagiaan yang sesungguhnya aku rasakan adalah ketika aku merasa yakin bahwa aku telah meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi penerusku”.