Hadiah Untuk Ibu

quran34Tersebutlah satu Surau kecil akan tetapi gemuruhnya tak pernah padam menyamai Mesjid Agung. Surau tersebut bukan hanya dipakai untuk shalat berjama’ah, akan tetapi  menjadi basis utama para penghafal Al Qur’an cilik yang datang dari berbagai daerah di Kepulauan Riau. Namanya Surau Nurul Mizan berada di Komplek Tahfidz Ashabul Qur’an Km 11 Tanjungpinang. Kegiatan ini dibina oleh portal Al Qur’an online http://www.pusatalquran.com

Sehabis Sholat Magrib, seperti biasa para santri bersiap untuk memulai setoran hafalan. Setiap kelompok melingkar rapi bersama halaqohnya. Namun kali ini ada pengumuman penting yang akan disampaikan. Saat itu saya meminta para santri mengisi selembar kertas yaitu tentang target kapan mereka akan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an 30 Juz. Masing-masing santri mendapatkan selembar formulir yang harus diisi. Disana tertulis kolom pertanyaan tentang hari, tanggal dan tahun target mereka menyelesaikan hafalannya. Selintas dahi mereka mengernyit menampakkan kebingungan, namun terlihat mereka merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa mereka mampu menyelesaikan hafalannya 30 Juz. Mereka diberikan waktu sampai Subuh keesokan harinya untuk menyerahkan kembali lembar tersebut.

“Subhanallah!!”, itulah yang bisa saya ucapkan setelah melihat lembar target khatam Al Qur’an yang sudah dikumpulkan. Tanggal 1 Januari adalah tanggal langganan sebagian besar santri tahfidz dalam kolom tanggal dan bulan khatam, walaupun hitungan tahunnya berbeda. Rata-rata setiap santri menargetkan dua sampai tiga tahun untuk menyelesaikan hafalan Al Qur’an 30 Juz.

Namun ada seorang santri yang berbeda. Namanya Aji, masih duduk di kelas 5 SD. Ketika saya melihat kebagian Ikrar dan Azam santri untuk menyelesaikan hafalan 30 Juz, saya heran karena disana beliau menulis “10 oktober 2016 Insyaallah saya Hafidz Al Qur’an 30 Juz”. Tidak sama dengan santri yang lain. Sebagian besar santri menuliskan “1 januari 2017”,  spontan saya bertanya kepadanya, “kenapa harus tanggal 10 Oktober?”. Beberapa detik beliau terdiam, dan menundukkan kepalanya. Dengan malu-malu beliau menjawab,  “Itu hari ulang tahun ibu, saya belum pernah memberinya hadiah dan saya ingin memberikan hadiah hafalan 30 Juz dihari ulang tahunnya.”. Jawaban itu membuat saya terkesima. Saya begitu terharu. Tak sadar mata ini berkaca-kaca. Saya pun memegang pundaknya dan berkata “InsyaAllah Aji akan bisa mewujudkannya. Itu hadiah yang luar biasa dari seorang anak untuk Ibu,”

RULLY OKTOBERYANTO