Intellectual Impacts (3)

2. IBADAH BENAR

Ibadah adalah merupakan konsekuensi logis dari keyakinan terhadap eksistensi Tuhan Pencipta. Ibadah kepada Tuhan Pencipta adalah misi hidup manusia yang amat mulia. Betapa tidak? Kehidupan di dunia hanya akan bermakna dan bernilai tinggi jika dijalankan dalam frame ibadah. Kalau tidak, kehidupan itu akan sia-sia dan hanya bernilai sebatas nilai materi atau dunia yang diperoleh. Ibadah yang dimaksud adalah ketaatan mutlak dan totalitas kepada Tuhan Pencipta.

Ketaatan itu akan lahir dari ma’rifat (pengenalan) yang benar dan mendalam terhadap Tuhan Pencipta. Sedangkan ma’rifat yang mendalam kepada Tuhan Pencipta akan melahirkan kecintaan yang tulus dan murni kepada sang Pencipta. Ibadah dalam bentuk ketaatan mutlak dan totalitas tersebut merupakan puncak pencapaian dan kebahagiaan Spiritual, Emotional dan Intellectual seorang hamba. Sebab itu, kecintaan kepada Tuhan Pencipta yang ditunjukkan melalui sekumpulan ritual ibadah, khususnya ibadah dzikir lisan, namun tidak melahirkan ibadah dan ketaatan totalitas (sikap tunduk dan patuh) kepada yang dicitai (Tuhan Pencipta) adalah kecintaan semu. Apalagi jika ibadah dzikir lisan terus, sedangkan maksiat pada Allah juga jalan terus, maka tentu akan menimbulkan karakter dan prilaku kontradiktif dan ambifalensi yang merupakan bagian dari bentuk sakit jiwa. Tentang hal ini syair Arab menjelaskan :

Anda durhaka pada Allah…….
Sedangkan Anda mengaku mencintai-Nya….
Demi Allah ini adalah kelakuan yang menjijikkan…..
Jika cinta Anda benar dan jujur,
pasti Anda mentaati-Nya secara total….
Karena sesungguhnya orang yang sedang dimabuk cinta,
pasti mengikuti semua kemauan orang yang dicintainya….

Untuk mengetahui kebenaran ibadadah seorang hamba kepada Tuhan Penciptanya, Islam mensyaratkan empat prinsip dasar berikut :

1. Hidup ini semuanya untuk misi ibadah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat (51): 56)

2. Dalam menjalankan semua urusan, baik terkait ritual ibadah, dunia maupun urusan Akhirat, harus sesuai dengan sistem yang diciptakan Tuhan Pencipta, baik yang tercantum dalam Kitab Suci-Nya (Al-Qur’an) ataupun melalui Sunnah (Jalan Hidup) Rasul-Nya Muhammad Saw.

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (123)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhan Penciptamu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Hud (11): 123)

3. Dalam menjalankan semua aktivitas kehidupan ini tujuannya hanya karena Tuhan Pencipta dan mencari ridha-Nya.

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)

Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (162) tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)"(163) (Q.S. Al-An’am (6): 162-163)

4. Dalam menjalankan ibadah tersebut tidak boleh memiliki suatu keyakinan, perbuatan atau ucapan yang mengandung unsur syirik (menyekutukan Allah). Misalnya, berobat itu adalah ibadah. Jika diyakini atau dikatakan, bahwa “kalau tidak karena dokter atau tabib fulan, maka tidak akan sembuh”. Artinya, keyakinan atau perkataan semacam itu mengandung unsur syirik. Karena yang menyembuhkan itu hanya Allah Tuhan Pencipta. Sedangkan syirik itu akan membatalkan semua iabadah dan amal kebaikan, sebanyak apapun amal tersebut. Allah menjelaskannya :

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Jika kamu syirik (mempersekutukan Tuhan Pencipta), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (65) karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur".(66)”
(Q.S. Az-Zumar (39): 65-66)

Ibadah yang benar yang berdasarkan empat prinsip di atas akan melahirkan sikap syukur dan tawadhu’ (rendah hati) pada Tuhan Pencipta. Ibadah dan ketaatan yang dilandasi rasa syukur dan tawadhu’ pada Tuhan Pencipta merupakan puncak kenikmatan kecerdasan Spiritual, Emotional dan Intellectual manusia. Seorang Rasul kesayangan Allah, yakni Nabi Muhammad Saw mencurahkan semua yang dimilikinya untuk mewujudkan rasa syukur dengan rukuk dan sujud di malam hari serta berda’wah dan berjuang sekuat tenaga di siang hari sambil mempertaruhkan harta, jiwa dan raganya.

Ketika ‘Aisyah Radhiallaahu ‘anha, istri tercinta merisuakan bengkak-bengkak kaki yang dialami Rasulullah akibat lamanya ibadah malam hari (zikir dan tahajjud), dengan rendah hati Beliau menjelaskan, “Apakah aku tidak pantas menjadi hamba-Nya yang bersyukur?” Demikian juga suatu ketika, Rsulullah menjelaskan bahwa ia adalah seorang hamba yang beribadah dan taat kepada Allah secara total dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh kilauan dunia, padahal melalui seorang malaikat, Tuhan Pencipta pernah menawarkan pilihan padanya, jadi raja sekaligus Nabi atau hamba sekaligus Nabi? Ketika itu malaikat Jibril mengisyaratkan padanya sambil berkata, “Tawadhu’lah engkau!” Lalu, Muhammad Saw menjawab tawaran itu sambil berkata, “Jadi hamba dan Nabi saja”. (H.R. Imam Ahmad).

Sesungguhnya sikap syukur dan tawadhu pada Tuhan Pencipta adalah hasil dari mengenal Tuhan Pencipta (Ma’rifatullah) dengan segala nama dan sifat-Nya yang Maha Mulia. Dia Maha Kaya dan tidak membutuhkan kita. Sungguh demikian, Dia tetap mencurahkan nikmat-Nya kepada kita dengan begitu melimpah.

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (34)

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan (minta). Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim (14): 34)

Mari kita banyangkan seorang pegawai yang bekerja pada seseorang atau instansi tertentu. Karena sadar posisinya sebagai pegawai, dia akan mengerjakan semua tugas dan kewajiban yang diberikan majikan atau atasannya. Karena mengharapkan imbalan yang tidak seberapa, dia dengan suka rela melaksanakan perintah tuannya. Tanpa sedikitpun perasaan berat, bahkan dengan bangga menerima tugas dan perintah itu. Dia sama sekali tidak akan berani membangkang, melawan dan apalagi melecehkan aturan yang ditetapkan tuannya, karena ia tahu akibatnya, yakni akan dipecat dari pekerjaannya. Apalagi dalam kondisi ekonomi sulit seperti sekarang ini, tidak gampang mencari pekerjaan.

Padahal, apa yang diberikan majikan atau instansi itu kepada pegawai tersebut tidak dapat dibandingkan dengan apa yang diberikan Tuhan Pencipta kepada kita semua. Di antara nikmat besar yang telah diberikan-Nya kepada kita ialah dengan menjatuhkan pilihan, bahwa kita diciptakan-Nya sebagi manusia, tanpa ada permintaan sedikitpun dari kita, murni sebagai kemuliaan dan kehormatan dari-Nya. Menyadari akan kemuliaan yang dianugerahkan itu, sebenarnya sudah cukup bagi kita untuk patuh dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta. Coba bayangkan jika kita ditakdirkan-Nya sebagai kera, ular atau makhluk lain selain manusia. Apa komentar kita? Tentu : Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin!!!(segala puji bagi-Mua yaa Allah, Pencipta alam semesta)

Di samping itu, tahukah kita kekayaan yang Allah simpan untuk manusia di bumi dan di langit? Sampai hari ini belum ada manusia yang mampu menghitung berapa nilai kekayaan yang tersimpan dalam bumi dan langit itu. Manusia baru mampu memprediksikan sebagian kecil kekayaan yang terkandung dalam perut bumi seperti cadangan minyak bumi, gas, emas dan beberapa jenis tambang lainnya. Itupun dalam bentuk perkiraan, bukan bersifat pasti dan final. Bahkan kekayaan yang ada di langit belum terjamah sama sekali.

Kalau kita kumpulkan semua manusia terkaya di atas muka bumi ini seperti Bill Gates, Sultan Hasanal Bolkiah, Pangeran Al-Walid dan seterusnya, niscaya apa yang mereka peroleh sangatlah sedikit dibandingkan dengan kekayaan yang masih Allah simpan di bumi, baik di darat, di dalam bumi dan juga dalam lautan. Sudah berapa milyar manusia yang memanfatkannya? Berapa juta perusahaan raksasa yang mengeksploitasinya? Sampai hari ini, nikmat Tuhan Pencipta masih sangat melimpah. Oleh Sebab itu, Allah Tuhan Pencipta menantang jin dan manusia terkait dengan begitu besar dan melimpahnya nikmat-Nya yang diberikan kepada mereka.

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (13)

“Maka nikmat Tuhan Penciptamu yang manakah yang kamu ingkari?”
(Q.S. Ar-Rahman (55): 13).

Tantangan ini Allah ulang sebanyak 31 dalam surah Ar-Rahman (55) dan satu kali dalam Surah An-Najm (53), yakni ayat ke 55. Sungguh tak ada satupun nikmat Allah yang dapat kita pungkiri. Tanpa nikmat-Nya, mustahil kita dapat hidup di duni ini. Apakah masih sulit kita menjadi hamba yang beribadah dan bersyukur pada-Nya?