Sei Impacts

4. SEI IMPACTS

Seorang sahabat yang bekerja di salah satu Departemen pernah bercerita bagaimana beratnya menjalani hidup sebagai seorang pegawai negeri. Tantangan hidup sebagai pegawai negeri cukup komplek. Bermula dari gaji yang pas-pasan, godaan korupsi dan juga godaan pelanggaran moralitas lainnya. Apalagi setelah Indonesia dilanda krisis multi dimensi sejak Juli 1997, kata sahabat tersebut, gaji bulanan yang diterima tidak lagi cukup menutupi kebutuhan satu bulan karena nilai rupiah merosot menjadi seperempatnya, sedangkan harga barang-barang kebutuhan pokok meroket lebih dari 300 persen.

Yang membuat sahabat tersebut sangat prihatin, sesungguhnya bukan hanya karena persoalan gaji yang pas-pasan. Sebab, sebagai seorang akuntan, ia masih bisa nyambi di sana sini di luar jam kantor atau di hari libur untuk medapatkan penghasilan tambahan terkadang lebih besar dari gaji yang diterima dari tempatnya bekerja. Namun perilaku kehidupan sebagian teman sekantor yang tidak malu-malu melakukan berbagai trik korupsi, sogokan dan penyimpangan moral lainnya. Bagi pegawai yang tidak sejalan dengan mereka akan menghadapi cacian dan olok-olokan. Ada yang mencibir sambil mengatakan sok suci, ada lagi yang menyebutnya suka carmuk (cari muka) pada atasan dan berbagai bentuk ejekan lain yang sangat tidak menyenangkan bahkan diupayakan dengan berbagai cara agar mau mengikuti perilaku mereka yang sangat buruk dan merugikan Negara itu.

Suatu ketika ia dengan timnya ditugaskan ke daerah untuk tugas pemeriksaan keuangan. Ketika berangkat dari Jakarta, ia sudah was-was karena tiga dari lima anggota timnya adalah tipikal manusia kemaruk dan selalu menemukan celah untuk korupsi, sogokan dan pelanggaran lainnya. Sebagai pegawai pusat yang ditugaskan ke daerah, sudah menjadi kebiasan mereka disambut dengan sangat baik dan ditempatkan di sebuah hotel mewah di daerah tersebut. Setelah bertugas seharian dan diteruskan dengan undangan makan malam, iapun pulang ke hotel. Ketika ia membuka pintu kamar hotel ia terkejut bukan kepalang, seorang wanita cantik sudah ada di dalam kamar. Ia tidak habis pikir bagaimana wanita tersebut bisa masuk ke kamarnya begitu mudah dan leluasa. Sambil berteriak minta wanita itu keluar, kalau tidak akan dia laporkan ke polisi, tiba-tiba salah seorang dari tiga temannya yang tidak sepaham dengannya sudah ada di dekatnya sambil berkata, “Makanya, jangan sok sucilah, uang ditolak wanita kok dimakan juga!”

Sahabat tersebut dengan tenang menghadapi kasus yang menimpanya karena sudah mengerti, bahwa ini adalah rekayasa dan jebakan. Ajaibnya, rekayasa tersebut bukan hanya berhenti sampai di situ. Setelah pulang ke Jakarja dan bekerja sebagaimana biasa, tersebar isu bahwa sahabat kita ini membawa seorang wanita ke dalam kamar hotelnya. Sebenarnya saya tidak heran dengan cerita semacam itu, khususnya sebelum era reformasi. Lalu saya berkomentar singkat, “Inilah gambaran suram kehidupan pegawai negeri atau pejabat negara.” Di tengah gaji yang pas-pasan, tantanganpun datang dari segala penjuru, khususnya bagi mereka yang ingin hidup lurus dan bersih. Bagi yang tenggelam dalam dunia materialisme yang kebanyakannya diiringi dengan hedonisme, tentu masalah-masalah seperti itu tidak akan jadi masalah, bak kata sebuah iklan; Enjoy aja!

Sesungguhnya banyak peristiwa yang mengagumkan sepanjang sejarah umat Islam. Pernah terjadi masa paceklik alias krisis ekonomi di Madinah. Harga kebutuhan pokok mulai naik dan bahkan sulit ditemukan di pasar. Sebagai seorang pedagang besar ‘Utsman Ibnu Affan Radhiallaahu ‘anhu (Ra) ketika itu kembali dengan barang dagangannya dengan jumlah yang cukup besar. Barang-barang dagangan tersebut dibawa sekitar seratus ekor unta. Sebelum masuk ke Madinah, ‘Utsman dikagetkan oleh sekumpulan pedagang mayoritas mereka adalah Yahudi. Mereka mencegat ‘Utsman agar tidak masuk kota Madinah sambil mengajak ‘Utsman bernegosiasi. Ada yang menawar dengan harga dua kali lipat, ada yang tiga kali lipat dari harga pokok yang dibeli ‘Utsman. Yang penting semua komoditi yang dibawa armada bisnis ‘Utsman, jangan sampai masuk ke pasar Madinah.

Mengadapai tawaran yang sangat menari itu, dengan tenang Usman berkata, “Ada di antara saudara yang mampu membeli barang-barang saya lebih dari itu?” Para pedagang mulai ricuh dan berkata kepada ‘Utsman dengan suara tinggi, “Engkau tahu bahwa kami adalah pedagang-pedagang besar di Madinah. Tidak akan ada lagi pedagang yang mampu membeli barang-barangmu melebihi dari harga yang kami tawar. Ayolah serahkan barang-barangmu kepada kami, kami akan bayar kontan dan kamu akan mendapat keuntungan yang amat besar sampai sepuluh kali lipat.” Profit 200%?!

Mendengar tawaran yang luar biasa tersebut (dalam kacamata bisnis biasa), ‘Utsman menjawab dengan tawadhu (low profile), “Wahai teman-teman pedagang sekalian! Memang tidak ada lagi pedagang di kota Madinah yang mampu menawar barang-barangku ini lebih dari tawaran kalian semua. Tapi saya tahu bawa Allah telah menwar barang-barangku, dan barang siapa saja, dengan 700 kali lipat dan bakan lebih, jika saja barang-barang kebutuhan pokok masyarakat ini disedekahkan kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya (Q.S. Al-Baqarah (2): 261).”

Mendengar jawaban ‘Utsman tersebut, para pedagang yang hanya mencari keuntungan materi sebanyak mungkin, khususnya saat kota Madinah sedang dilanda krisis ekonomi dan kehidupan masyarakat sedang sulit sehingga dapat kesempatan meraup keuntungan besar dari kesulitan masyarakat itu, mereka terdiam dan tidak bisa lagi berkata apa-apa. Lalu ‘Utsman segera masuk ke Madinah dan menyerahkan barang dagangannya ke Baitul Maal (Lembaga Harta dan Keuangan Negara) untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Itulah salah satu contoh kecerdasan tertinggi dari Spritual, Emotinal dan Intellectual seorang anak manusai berma ‘Utsman Bin Affan yang kemudian menjadi Khalifah Rasulullah yang ketiga dan termasuk sepuluh Sahabat yang diberikan kabar gembira masuk Syurga. Sesungguhnya Spiritual, Emotional dan Intellectual adalah harta yang paling berharga yang dimiliki manusia. Namun demikian, ketiganya juga ibarat pisau bermata dua. Jika kita piawai menggunakannya, ia akan menjadi senjata penyelamat kehidupan dan sumber kebahagiaan serta penyeab kesuksesan besar, kesuksesan tanpa batas atau The Great Success seperti yang dialami ‘Utsman Bin Affan. Kalau tidak, akan menjadi senjata makan tuan yang akan menghancurkan kehidupan dan mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan, seperti yang dialami Namrud, Fir’aun dan sederet manusia sombong lainnya.

Agar menjadi senjata penyelamat, kita dituntut untuk piawai berinteraksi dengan dimensi Spiritual, Emotional dan Intellectual dalam diri kita serta bagaimana memberdayakannya secara optimal. Bukti kepiawaian tersebut ditunjukkan dengan kemampuan berinteraksi dengannya secara konprehensif, seimbang, sesuai mekanisme dan karakter masing-masing serta memberikan suplai gizi secara tepat dan berkecukupan seperti yang dijelaskan pada SEI CONNECTION, SEI MECHANISM, dan SEI REFERENCES. Sedangkan SEI IMPACTS merupakan hasil atau refleksi dari bagaimana kita berinteraksi dengan dimensi Spiritual, Emotional dan Intellectual. Atau dengan kata lain, SEI IMPACTS merupakan alat ukur dan standarisasi bagi kondisi Spiritual, Emotional dan Intellectual seseorang.

Penggalan dua peristiwa tersebut di atas, yang satu terjadi lebih dari empat belas abad silam dan yang kedua terjadi menjelang era reformasi yakni sekitar awal 1997 yang lalu adalah bukti bahwa dimensi Spiritual, Emotional dan Intellectual dapat menjadi senjata penyelamat kehidupan dari praktik dan perilaku yang jahat baik yang akan merusak diri sendiri atau yang berdampak lebih luas terhadap umat manusia dan lingkungan. Artinya, seseorang yang berhasil berinteraksi dengan dimensi Spiritual, Emotional dan Intellcetual secara benar dan konprehensif akan merasakan langsung pengaruh positifnya dalam kehidupan. Itulah yang dialami oleh orang-orang shalih sepanjang sejarah manusia, baik dari kalangan pengikut para Rasul sebelum Nabi Muhammad Saw, maupun setelah kerasulan Muhammad Saw dan akan tetap demikian sampai akhir zaman.

Impact (pengaruh) dari dimensi Spiritual, Emotional dan Intellectual atau apa yang kami sebut dengan SEI IMPACTS terhadap gerak dan perilaku manusia dapat dilihat, dirasakan dan diukur karena ada standarisasi yang amat jelas. Ada empat sisi dalam diri manusia yang dapat dimonitor dengan jelas sebagai hasil dari SEI IMPECTS. Keempat sisi tersebut adalah :

A. Mental Impacts (Pengaruh terhadap mental)
B. Moral Impacts (Pengaruh terhadap moral/akhlak)
C. Intellectual Impact (pengaruh terhadap intelektualitas / pemikiran)
D. Physical Impacts (Pengaruh terhadap fisik)

Untuk lebih jelas, dapat digambarkan dalam diagram berikut :

Empat sisi atau dimensi diri kita tersebut, Mental, Moral, Intellecktual dan Physical, akan mencerminkan jenis dan kualitas perbuatan dan perilaku seseorang. Tingkah laku yang sudah menjadi kebiasaan atau habit lazimnya bermuara dari sebuah sifat yang terbentuk dalam diri. Sedangkan pembentukan sifat adalah melalui proses dan pengaruh dari SEI IMPACTS dengan menggunakan input & output system sebagaimana yang dijelaskan pada SEI MECHANISM. Lalu timbul pertanyaan : Aspek kehidupan apa saja yang dipengaruhi oleh SEI IMPACTS? Jawaban detilnya dapat dilihat pada 10 Noble Characters of SEI Empowerment dalam Bagian II dari buku ini.