Masak sih Erick Thohir Begitu?

Eto buka saja tak sanggup melihat kenyataan rakyat makin susah, ia juga tak sanggup melihat masifnya dukungan pada Prabowo lewat jalur sahabatnya SSU itu. Diakui atau tidak, setiap acara yang ia gelar, ia membutuhkan dana bermiliar-miliar. Sementara SSU malah dapat sumbangan, meski tidak bermiliar nominalnya, tapi makna sumbangan itu jelas dan konkret bahwa pendukung SSU utamanya emak-emak adalah nyata.

Belum lagi pendukung petahana yang makin menyepi di setiap acara, lalu adegan keributan saat pembagian makanan, makin tidak mengenakan. Sementara setiap SSU manggung, emak-emak justru membagikan makanan gratis.

Sampai di sini, jelas ada tingkat emosi yang diaduk-aduk. Maka, pernyataannya bahwa SSU adalah sahabatnya, terpaksa disingkirkan. Saya lupa, Eto itu punya kelemahan satu: tidak mau kalah. Jadi, selain fakta di atas jelas dia kalah, dalam hal kedudukan di pilpres pun dia kalah. SSU adalah cawapres dan dia hanya ketua tim ses, yang secara kasat mata tidak juga memiliki kuasa. “Mana bisa dia memerintah jendral-jendral yang ada di timses. Mana bisa juga dia menyuruh orang-orang bu Mega,” celoteh seorang teman.

Lupa?

Terkait Prabowo, saya ingin bertanya: Rick, apakah anda lupa saat Asian Games lalu? Siapakah yang membuat anda terlihat sukses? Cabor apa yang menyumbangkan medali emas terbanyak?

Jawaban dari tiga pertanyaan itu adalah Prabowo Subianto, ketua umum IPSI cabor pencak silat. Tanpa 14 medali emas pencak silat, maka kontingen kita tak akan mampu bercokol di peringkat ke-5. Bayangkan 14 dari 30 medali emas disumbangkan IPSI.

Ingatkah anda Rick? Kok begitu anda bisa bilang Prabowo selalu gagal?

Dan, ingatkah anda menelpon Prabowo untuk meminta bantuan agar cabor silat meraih lebih dari 4 emas yang ditargetkan pemerintah? Ingatkah Prabowo bilang apa?

Kalau saja Prabowo tidak memiliki jiwa nasionalis, tidak cinta NKRI, maka Prabowo tak akan mengintruksikan manajer silat, Eddy Prabowo untuk menambah jumlah medali. Prabowo tak mengindahkan masukan beberapa orangnya agar silat cukup sekedar memenuhi target saja.

“Saya tidak perduli apakah kesuksesan AG ini akan dipergunakan untuk kampanye seseorang. Buat saya Indonesia harus berjaya!”

Ingatkah semua itu? Saya setuju dengan sahabat saya Asyari Usman, Eto emosional. Maaf, saya melihatnya super emosional. Mengapa begitu? Jawabannya hanya satu, dia tahu ada yang tak beres di paslon yang didukungnya.

Lepas dari semua itu, saya tetap tak habis pikir, Masak Sih Erick Begitu? [ts]

Oleh: M. Nigara

Wartawan senior/Mantan Wasekjen PWI