Mengapa Kita Perlu Berterimakasih Pada Reuni 212?

Eramuslim.com – Selama tiga kali perhelatan, aksi ini telah teruji mengangkat reputasi Indonesia sebagai negara dengan Muslim terbanyak di dunia. Aksi ini betul-betul damai. Jutaan Muslim berkumpul, tak menimbulkan kekhawatiran teman-teman non-Muslim.

Sebagian malah turut hadir pada aksi ini. Kita masih mengingat indahnya peserta aksi “mengawal’ sepasang pengantin Katolik menuju Katedral untuk melangsungkan pernikahan.

Narasi buruk, fitnah intoleransi, labeling gerakan radikal, makar, mengganti sistem pemerintahan, terlalu sering dialamatkan pada peserta aksi 212. Bila ada rongrongan terhadap negara ini, justru merekalah yang siap menjadi martir.

Mencintai agama dan negara bukanlah sebuah kontradiksi. Tak ada benturan dan pertentangan di sana. Para pendahulu, pahlawan, telah memberikan teladan yang nyata.

Pada perhelatan 212 setiap tahun, tak ada sampah berserakan, rumput tak diinjak, tak ada peserta yang buang air sembarangan, merusak tanaman, apalagi berebut makanan hingga saling caci seperti pada aksi kebhinekaan. Publik hanya bisa geleng kepala dan mengelus dada melihat aksi politik tersebut.

Setiap tahun dalam aksi ini, Muslim berlomba menebar kebaikan. Mulai air minum kemasan, snack, roti, kurma, penganan, hingga nasi bungkus, secara sukarela peserta bagikan kepada peserta lainnya. Semuanya tertib.

Pada pagi berlangsungnya aksi 212, satu keluarga berjalan membawa keresek berisikan beberapa dus brownies. Sang ibu berkata pada suaminya, “Yah, kasih ke itu saja”, seraya menunjuk seorang kakek yang sedang duduk bersila mendengarkan tausiah.