Ilmuwan Nuklir Pakistan Abdul Qadir Khan: Pakistan Menjadi Korban Propaganda Barat

Kamis, 19/05/2011 14:23 WIB | Arsip | Cetak

Ilmuwan nuklir Pakistan Abdul Qadir Khan, saat berada di pemakaman kakaknya pada tahun 2011 ini, mengatakan bahwa program nuklir Pakistan selalu menjadi sasaran propaganda Barat dan tuduhan palsu.

Saya ingin membuat jelas persoalannya, saat itu India melakukan uji coba nuklirnya, pada Mei 1974. Kemudian mendorong situasi ancaman nuklir di kawasan Asia Selatan, selanjutnya kami berusaha membuat program nuklir untuk mengimbangi India. Ancaman nuklir itu memotivasi saya untuk kembali ke Pakistan, membantu menciptakan penangkal nuklir yang kredibel dan menyelamatkan negara saya dari bahaya ancaman nuklir India.

Saya hampir lebih 15 tahun di Eropa dengan pengalaman berharga dalam teknologi pengayaan nuklir. Saya pulang ke Pakistan pada bulan Desember 1975. Dan, saya diberi tugas untuk memproduksi senjata nuklir oleh perdana menteri Zulfiqar Ali Bhutto. Pada 10 Desember 1984, saya memberitahukan Jenderal Zia-ul-Haq, kita bisa membuat senjata nukilr dalam waktu satu minggu, dan bisa meledak, setiap kali bertemu Zia ul-Haq,saya mengatakan keinginan seperti itu.

Kami mencapai kapasitas nuklir pada paruh kedua tahun 80-an, dan sistem pengiriman disempurnakan pada awal 90-an. Untuk sebuah negara seperti Pakistan tidak mudah menjadi kekuatan nuklir dan memiliki rudal nuklir dalam rentang waktu yang pendek.Kemampuan membuat nuklir ini di mata kalangan yang oposisi-Barat merupakan prestasi.

Bagaimana berbagai senjata nuklir yang diperlukan untuk melakukan penangkalan yang efektif melawan India, tanya News Week?

Menurut Abdul Qadir Khan, India terlibat dalam sebuah program besar untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh Cina. Dan India berusaha menjadi negara adidaya dengan kemampuan senjata nuklir yang dimilikinya. India memiliki lima hulu ledak senjata nuklir, khususnya menghadapi kami, dan kami membutuhkan lebih dari 10 untuk membalas ancaman itu. Itulah sebabnya tidak ada perang di antara kami selama 40 tahun terakhir.

Saya memiliki sedikit pengetahuan tentang status sekarang program nuklir kami, seperti saat saya meninggalkan Kahuta, fasilitas nuklir utama Pakistan, 10 tahun yang lalu. Sebagai pelopor program ini, saya duga bahwa upaya kami telah menyempurnakan desain, mengurangi ukuran senjata untuk sistem hulu ledak rudal kami, dan menjamin g sistem yang aman untuk penyimpanan. Sebuah negara membutuhkan senjata yang cukup untuk disimpan di tempat yang berbeda dalam rangka untuk memiliki kemampuan menyerang.

Jangan mengabaikan kenyataan bahwa tidak ada negara berkemampuan nuklir yang tidak mengalami agresi dari luar. Seperti Irak dan Libya yang memiliki kekuatan nuklir, mereka dapat dihancurkan dengan cara yang kita lihat baru-baru ini. Jika kita telah memiliki kemampuan nuklir sebelum 1971, kita tidak akan kehilangan separuh dari negara kami, yang sekarang menjadi negara Bangladesh, di mana setelah kekalahan kami yang memalukan melawan India.

Ada kesalahpahaman tentang uang yang dibelanjakan pada program nuklir kami. Ketika kita mulai, anggaran kami hanya $ 10 juta dolar per tahun, meningkat menjadi $ 20 juta dolar per tahun, sampai ketika pada kapasitas penuh, termasuk semua gaji, transportasi, perawatan kesehatan, perumahan, utilitas, dan pembelian peralatan teknis dan material. Ini hanyalah setengah biaya pesawat tempur modern.

Propaganda tentang jumlah pengeluaran selangit pada program nuklir yang dipropagandakan oleh orang-orang yang bodoh, mereka ini sengaja dibayar oleh asing. Supaya Pakistan tidak memiliki kemampuan nuklir.

India dan Pakistan memahami prinsip lama yang menjamin perdamaian dalam Perang Dingin: Saling Meyakinkan Adaknya Kehancuran Akibat Perang Nuklir. Kedua tidak muncul perang nuklir. Meskipun pedang kami berderak, tidak ada kesempatan perang nuklir yang akan mengirim kami berdua kembali ke Zaman Batu.

Perhatian dan keprihatinan saya bahwa kita memberikan kemampuan nuklir kepada Pakistan, agar Pakistan memiliki harga diri, dan sekaligus melakukan pencegahan terhadap musuh. Dengan demikian kedaulatan kami aman.

Saya mendesak berbagai pejabat pemerintah untuk berkonsentrasi pada pengembangan untuk meningkatkan standar hidup rakyat. Sayangnya, penguasa yang muncul adalah mereka yang tidak kompeten, serta tidak tahu kepentingan nasional yang lebih besar. Kondisi kami jauh lebih buruk sekarang daripada kami 20 atau bahkan 40 tahun yang lalu, ketika kami mengalami embargo.

Program kami-senjata nuklir telah memberikan kita suatu pertahanan yang kokoh, dan kami terpaksa untuk mempertahankan dengan melakukan pencegahan, ini sampai perbedaan-perbedaan kita dengan India diselesaikan. Yang akan membawa ke era baru perdamaian bagi kedua negara.

Saya harap, saya masih hidup untuk melihat Pakistan dan India hidup harmonis. Tidak seperti Jerman dan Perancis yang mengalami masa-masa pahit dalam hidup mereka akibat perang. (mh/nw)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Bincang-Bincang

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


Penerapan Syariah dalam Bisnis Tidak Merugikan
Penerapan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis ternyata tidak merugikan. Hal ini dibahas dalam Sesi Panel keempat 2nd Bank Indonesia International Seminar on Islamic Finance, ...

Universitas Gunadarma Gelar Sharia Economic Forum
KULIAH INFORMAL EKONOMI SYARIAH 2012 Melihat tingginya permintaan SDM untuk bergabung dalam pesatnya pertumbuhan industri keuangan syariah, Sharia Economic Forum (SEF) UG bers...

N5M hadir di iB Expo Pekanbaru
Film Negeri 5 Menara hadir dalam iB Expo yang digelar oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Film yang disponsori oleh iB Perbankan Syariah ini mendapat sambutan lu...

Siap-Siap iB Akan Hadir di IFRA 2012 Ini
Bank Indonesia bekerjasama dengan Panitia Expo IFRA 2012 kembali membuka iB Paviliun. Dimana akan hadir industri perbankan syariah untuk memberikan informasi mengenai produk-p...


Peluang