Bagaimana Anak-Anak Muslim Prancis Berlibur?

Kamis, 30/07/2009 13:15 WIB | Arsip | Cetak

Liburan sekolah baru saja berlalu. Walau pun tidak ada alasan khusus, tetapi hampir di semua negara liburan sekolah dilaksanakan pada bulan Juli. Alasan di Barat, karena Juli termasuk salah satu bulan di musim panas yang selalu saja memberikan cuaca yang cerah. Sejarah yang lainnya, sebelum Juni 1963, tak ada yang namanya liburan. Barulah sejak tahun 1936 itu, liburan menjadi tradisi bagi semua orang di dunia.

Di antara negara-negara Eropa, hanya Finlandia, Austria, Yunani dan Prancis yang memiliki jumlah hari libur di atas rata-rata. Biasanya, mereka memilih pegunungan atau daerah dekat pantai. Selain karena lebih murah, juga sangat digemari. Namun ada satu cerita unik tentang liburan di pantai di Eropa. Pada pertengahan abad ke-17, laut dianggap berbahaya. Pada tahun 1930-an, orang sudah mulai akrab dengan laut untuk alasan kesehatan dan pengobatan. Pada tahun 1946, mulai dikenal Bikini dengan Louis Reard sebagai pencetusnya.

Lantas, bagaimanakah Muslim di Eropa—tepatnya di Prancis—berlibur? Di negara ini, lebih dari 60% rakyatnya memiliki kebiasaan liburan. Bertahun-tahun, Muslim Prancis konon mengikuti saja arus liburan yang selama ini berlaku di negaranya itu. Namun, mulai tahun ini, diyakini, anak-anak Muslim Prancis tidak lagi mengisi liburan seperti orang tuanya, melainkan punya gaya dan caranya sendiri.

Seperti kebanyakan 30% siswa Prancis, anak-anak Muslim Prancis pun sekarang lebih selektif dalam mengikuti kemah musim panasnya. Selama ini yang mereka ketahui adalah Muslim tidak boleh minum khammer, dan tidak boleh makan daging babi. Pada awalnya, keluarga Muslim di Prancis lebih senang mengirim anak-anaknya ke negara asal mereka (karena kebanyakan mereka imigran di Prancis) pada saat liburan. Barulah pada decade 1990-an, hal itu berubah.

Perlahan-lahan, Asosiasi Muslim Prancis mulai melibatkan diri dalam kegiatan liburan musim panas. Saat ini, sebagian masjid menggelar kursus bahasa Arab dan kajian Al Aquran. Dengan embel-embel “Perjalanan Islam,” dalam pesantren kilat inilah ajang yang cukup efektif dalam mengenalkan nilai-nilai Islam yang luas dan sebenarnya.

Yang paling berhasil dalam bidang ini adalah Muslim Scouts in France (SMF) atau kurang lebih Pramuka Muslim Prancis. Selain menggelar kemah untuk remaja, mereka juga mengadakan program pelatihan kepimpinan. Dengan melakukan ini, mereka sudah turut andil dalam mengentaskan masalah krusial Muslim di Eropa saat ini.

Bagaimana dengan biaya paket liburan ini? Ternyata tidak masalah. Banyak keluarga Muslim Prancis yang menginginkan anak-anaknya terlibat dalam liburan ini. Pasalnya, dalam kehidupan sehari-hari, sedikit sekali interaksi mereka dengan komunitas Islam.

Satu-satunya masalah besar adalah lokasi. Ini kesulitan paling besar. Karena tidak banyak tempat yang bisa dipakai untuk hal ini. Tempat liburan itu tentu saja harus ada masjid dan lapangan yang luas. Pada 9 Oktober 2007, untuk pertama kalinya, pengadilan Prancis menuntut seorang lelaki yang menolak Muslim yang berada di areanya karena mengenakan jilbab. Orang ini didenda hukuman penjara empat bulan dan 1000 Euro €. Para penyelenggara tidak ingin lagi terulang kejadian seperti ini. Apalagi sekarang tengah merebak Islamofobia di Prancis. (sa/iol)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dakwah Mancanegara

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


Penerapan Syariah dalam Bisnis Tidak Merugikan
Penerapan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis ternyata tidak merugikan. Hal ini dibahas dalam Sesi Panel keempat 2nd Bank Indonesia International Seminar on Islamic Finance, ...

Universitas Gunadarma Gelar Sharia Economic Forum
KULIAH INFORMAL EKONOMI SYARIAH 2012 Melihat tingginya permintaan SDM untuk bergabung dalam pesatnya pertumbuhan industri keuangan syariah, Sharia Economic Forum (SEF) UG bers...

N5M hadir di iB Expo Pekanbaru
Film Negeri 5 Menara hadir dalam iB Expo yang digelar oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Film yang disponsori oleh iB Perbankan Syariah ini mendapat sambutan lu...

Siap-Siap iB Akan Hadir di IFRA 2012 Ini
Bank Indonesia bekerjasama dengan Panitia Expo IFRA 2012 kembali membuka iB Paviliun. Dimana akan hadir industri perbankan syariah untuk memberikan informasi mengenai produk-p...


Peluang