Optimis akan Jaminan Rezeki dari Allah

Muhammad Rizqon – Selasa, 14 Safar 1430 H / 10 Februari 2009 07:42 WIB

Ahmad adalah seorang bapak sederhana yang memiliki kehidupan pas-pasan. Profesi dan keahliannya adalah sebagai tukang/mandor dalam pekerjaan pembangunan/perbaikan rumah. Sudah beberapa bulan ini, Ahmad belum memiliki pekerjaan/proyek yang bisa dihandalkan. Kondisi ekonomi dunia yang memburuk, berimbas pada penurunan daya beli masyarakat termasuk daya beli untuk membeli, membangun, atau memperbaiki rumah tinggal. Karena kondisi itulah, praktis beliau kini banyak menghabiskan hari-harinya di rumah. Hanya sekali-kali Ahmad mendapatkan proyek perbaikan rumah tinggal, itu pun tidak bernilai signifikan.

Meski tidak sedang menangani pekerjaan, bukan berarti beliau tidak memiliki kesibukan. Selaku hamba yang memiliki kesadaran sosial, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan dakwah di lingkungannya. Dalam setiap kegiatan –baik itu berkaitan dengan peringatan hari besar Islam seperti pembagian zakat atau peyembelihan hewan kurban, atau kegiatan sosial lainnya seperti santunan yatim piatu/dhuafa, bakti sosial, pengobatan gratis, penjualan sembako murah dan pakaian layak pakai–beliau sering kali berpartisipasi aktif menyukseskan kegiatan tersebut. Jiwa kerelawanan (volunteer) seakan telah melekat pada diri beliau.

Isterinya, Ibu Kutik, adalah ibu rumah tangga biasa yang hanya tamatan SD. Namun demikian, sebagaimana suaminya, beliau pun banyak berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan dakwah di lingkungannya. Bahkan beliau sering dilibatkan dalam koordinasi kegiatan bersama dengan pengurus inti organisasi selevel ranting atau cabang. Keterbatasan pendidikan tidak menjadikannya minder untuk bergabung dengan rekan sejawat yang sarjana. Jiwa kerelawanan itulah yang menjadi motor penggerak mobilitas diri beliau. Dan sesungguhnya, jiwa inilah yang dibutuhkan oleh organisasi yang menggulirkan program sosial dan dakwah di lingkungannya tersebut agar setiap program yang digulirkan bisa diapplikasikan dengan sukses.

Beberapa hari yang lalu, Ibu Kutik melahirkan anaknya yang ke-4. Cukup surprise karena baru kali itulah beliau melahirkan seorang bayi laki-laki. Tentu anugerah ini menjadikan mereka merasa sangat berbahagia. Rasa syukur begitu melimpah atas persalinan Ibu Kutik yang teramat mudah di ruang bersalin Puskesmas Pondok Gede dekat rumah tinggalnya.

Selang beberapa hari kemudian, beliau menelpon kami meminta sebuah nama untuk bayinya. Sebenarnya kami bukanlah orang yang pandai dalam merangkai sebuah nama. Namun agaknya mereka cukup menghormati kami sehingga untuk pemberian sebuah nama pun mereka meminta dari kami. Kami pun berusaha menggembirakan dengan pemberian nama yang menurut kami cukup indah dan bermakna. Untuk anak mereka sebelumnya (anak ke-3), kami memberi nama “Muti’ah” dengan harapan agar ia menjadi muslimah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk bayi laki-laki kali ini kami memberikan nama yang cukup sederhana yaitu "Mahmud Abdurrazaq". Mahmud yang berarti terpuji, adalah nama pemberian isteri saya. Sedangkan Abdurrazaq yang berarti hamba dari (Allah) Sang Maha Pemberi Rezeki, adalah nama pemberian dari saya. Harapan yang terkandung dari nama itu adalah agar ia menjadi hamba Allah yang terpuji (baik di langit dan di bumi) dan menjadi hamba/abdi dari Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki, bukan hamba/abdi dari Tuhan selain-Nya.

Ada latar belakang yang mendasari kenapa saya memberi nama “Abdurrazaq” kepada si bayi laki-laki itu. Ingatan saya terbayang pada respon pertama dari Ibu Kutik saat mengetahui bahwa dirinya ternyata hamil. Beliau merasa tidak bergairah dan seakan-akan kehamilannya itu adalah kehamilan yang tidak beliau harapkan. Beliau khawatir tidak mampu memelihara si bayi dengan kondisi ekonomi beliau dan suami yang pas-pasan. Namun Alhamdulillah, ibu-ibu sejawatnya termasuk isteri saya, memberikan appresiasi positif dan menguatkan optimisme akan jaminan rezeki dari-Nya.

Dengan memberi nama “Abdurrazaq”, saya ingin menanamkan sebuah kesadaran bahwa bayi yang dilahirkan beliau tersebut adalah pemberian dari Sang Maha Pemberi Rezeki. Seharusnyalah beliau tiada pernah takut akan pemeliharaan dari-Nya. Allah yang berkehendak, tentulah Dia yang menjamin rezekinya. Dalam kondisi buruk sekalipun seperti krisis ekonomi global yang melanda dunia kini, sifat Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki itu tidak akan berubah dan berkurang sedikitpun. Oleh karenanya, kelahiran bayi tersebut sepatutnya tidak dianggap sebagai beban. Sebaliknya, optimisme harus selalu dibangkitkan karena bersama beban yang timbul, maka Allah SWT telah menyiapkan rezeki sebagai sarana untuk memenuhi beban atau tanggung jawab tersebut.


Membangkitkan optimisme akan jaminan rezeki Allah SWT rasanya perlu juga saya sampaikan terhadap seorang sahabat yang juga diliputi kegamangan dan pesimisme akan jaminan rezeki. Baru-baru ini dia membulatkan tekad mengambil kredit mobil keluarga yang selama ini diidam-idamkan. Bukan untuk kemewahan, tetapi untuk memperlancar usahanya.

Ia diliputi keraguan karena beragam pendapat negatif yang muncul dipermukaan. Ada yang berpendapat bahwa sangatlah rugi jika harus membeli mobil dengan cara kredit, karena selain terkena suku bunga yang cukup tinggi, juga akan kehilangan opportunity return dari uang angsuran yang semestinya bisa diputar untuk modal usaha atau investasi.

Ada juga yang berpandangan, sangatlah tidak tepat mengambil kredit mobil di tengah kondisi krisis dan suku bunga yang masih tinggi. Besar angsuran yang harus ditanggung setiap bulan sebagai konsekuensi pengambilan kredit mobil itu, bukanlah jumlah yang kecil. Terlebih tenor waktunya 48 bulan atau 4 tahun. Dibutuhkan daya tahan yang cukup untuk bisa membayar uang cicilan itu hingga lunas.

Belum jika dikalkulasi, ternyata jumlah angsuran setiap bulannya itu lebih dari 30% total pendapatan, tidak  memenuhi syarat sebagaimana direkomendasikan oleh konsultan perencana keuangan keluarga.

Pendapat yang menyejukkan akhirnya ia dapatkan dari seorang sahabat dan seorang anggota keluarganya. Seorang sahabat mengatakan bahwa jika memang pada akhirnya kredit mobil itu jadi diambil, maka itu adalah rezeki. Janganlah dipandang sebagai beban. Pertimbangan panjang yang berakhir pada keputusan membeli mobil (secara kredit) itu mengandung isyarat bahwa bersama dengan pengambilan kredit mobil,  Insya Allah akan terbuka aliran rezeki guna menutupi beban cicilan tersebut. Allah tidak akan memberikan beban di luar kesanggupan seorang hamba.

Sedangkan seorang anggota keluarganya malah memuji keberaniannya mengambil kredit mobil itu. Ia menandaskan, yang penting niatnya bukanlah untuk gagah-gagahan. Peruntukkannya jelas seperti untuk mengembangkan usaha atau memudahkan mobilitas kegiatan. Untuk kalangan pebisnis, mengambil kredit mobil adalah hal yang lazim, karena mobil adalah sarana penunjang bisnis yang cukup bisa dihandalkan dan bisa menjadi barang investasi yang menguntungkan. Bagi yang tidak memiliki cukup uang tunai, membeli mobil secara kredit adalah pilihan yang rasional dan wajar.

Saya pun setuju dan menguatkan dengan saran-saran yang membangun optimisme tersebut. Memiliki anak baru atau mobil kredit baru, bagi sebagian orang memang dianggap sebagai beban. Namun bagi sebagian yang lain, merupakan rezeki yang harus disyukuri. Keyakinan apakah kondisi tersebut merupakan beban ataukah rezeki, sangat berkait dengan proses kemunculannya dan kondisi keimanan saat kemunculan tersebut.

Ibu Kutik sama sekali tidak menduga bahwa dirinya bakal hamil. Beliau sadar bahwa anak ketiganya masih relatif kecil dan “belum siap” memiliki adik. Sumber penghasilan suaminya pun sangat pas-pasan. Beliau telah berusaha “menjaga diri” agar tidak timbul kahamilan. Namun ternyata beliau hamil juga. Jika memang demikian adanya, tentu Allah SWT telah berkenan menyiapkan rezeki untuk sang bayi tersebut. Terbukti kemudian, sang bayi pun tersebut lahir dengan selamat dan Ahmad mampu membeli dua kambing untuk aqiqahan dari upah mengerjakan proyek sebulan terakhir ini.

Sahabat saya pun tidak menduga bakal ditawari paket kredit mobil keluarga oleh marketing executive sebuah dealer mobil. Sempat timbul niatan untuk membatalkan pemesanan setelah ia memberikan tanda jadi satu juta rupiah kepada dealer tersebut. Namun entah kenapa pada detik-detik terakhir, sahabat tersebut mengiyakan anjuran-anjuran yang dikemukakan oleh marketing executive yang terlihat jujur itu. Dia tidak ingat apa-apa selain ingat akan keluasan Allah atas rezeki yang dimiliki-Nya dan harapan agar Allah memudahkan pembayaran angsurannya ke depan sebagaimana Allah memudahkannya mendapatkan mobil itu ready stock tanpa harus meng-indent terlebih dahulu. Padahal biasanya untuk pemesanan mobil tersebut harus indent minimal tiga bulan sebelumnya. Dia berhusnudzon, boleh jadi inilah cara Allah menganugerahinya kemudahan memiliki mobil yang sudah lama diidamkan.

Ya. Dalam setiap kondisi, kita memang harus ingat bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki yang Maha Adil. Tidak sepantasnyalah kita berputus-asa, kecuali bagi orang-orang yang suka melakukan dosa. Bagi orang-orang senantiasa memohon ampun dan bertaubat, Allah SWT senantiasa memberikan karunia rezeki-Nya sebagaimana firman-Nya;

maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (QS 71: 10-13).

Dua kejadian tersebut di atas cukup memberi hikmah bahwa kita tidak perlu ragu dengan jaminan rezeki dari Allah sang Pemberi Rezeki. Bukan berarti saya menganjurkan untuk bersantai-santai dan yakin saja dengan jaminan Allah itu. Sepanjang kita telah berusaha secara optimal dan selalu mengerahkan daya untuk mencapai kondisi yang lebih baik dalam koridor ketaatan kepada-Nya, maka janganlah sekali-kali menganggap bahwa apa yang kita hadapi adalah sebagai beban. Persepsi demikian akan membangun pesimisme yang justru kontraproduktif terhadap kemudahan datangnya rezeki. Anggaplah ia sebagai rezeki. Pada satu sisi, Insya Allah ini akan berdampak pada semangat penjemputan rezeki, dan pada sisi lainnya, Allah akan memudahkan jalan untuk menggapai rezeki yang dijanjikan-Nya itu.

Wallahu’alam bishshawaab
[email protected]
muhammadrizqon’site

Oase Iman Terbaru

blog comments powered by Disqus