free hit counters
 

Akar Akar penghinaan terhadap Islam dalam pemikiran barat (3)

Magdalena – Rabu, 17 Ramadhan 1427 H / 11 Oktober 2006 16:38 WIB

Pelecehan terhadap sesuatu yang Sakral: Kehancuran Berfikir dan Etika

Oleh: Sohaib Jassim

Respon media Eropa di dalam memberikan alasan justifikasi pembenaran karikatur pelecehan terhadap Nabi tersebut tidak lain hanya sekadar simbol kebebasan berekspresi.

Koran Perancis, Frances Siwar mengatakan: “Itu adalah haknya menggambarkan tuhan dengan cara karikatur yang menyindir.” Sedang Koran Jerman Dei Filt mengatakan: “Itu adalah haknya melakukan pelecehan sesuatu yang sakral.”

Dilihat dari pernyataan kedua Koran itu, maka bisa disimpulkan bahwa ada perbedaan mendasar dalam melihat sesuatu yang sakral dalam agama dalam peradaban sekuler barat.

Seorang pemikir Prancis, Arick Gofra, melihat bahwa hegemoni filsafat nihilisme –yang muncul setelah masa dominasi gereja di Eropa– merupakan salah satu akar pemikiran lain yang digunakan untuk melecehkan Islam. Dalam pandangannya, filsafat Barat sekuler membuka ruang untuk melakukan penghinaan terhadap nilai-nilai agama dan moral, apapun agama tersebut. Bagi sebagian orang Barat, agama adalah sekadar realitas sosial tidak berbeda dengan realitas lainnya. Bagi masyarakat Eropa, tidak ada yang namanya sistem tata nilai dan etika. Karena itu, segala sesuatu yang disakralkan menjadi sasaran untuk diragukan dan dilecehkan.

Seorang pemikir Maroko Thayyib Buizat melihat bahwa pelecehan terhadap agama secara logika tidak terjadi kecuali pada saat-saat degradasi dan penurunan kesadaran berfikir. Maka dengan merujuk kepada sejarah filsafat Barat sejak masa Yunani, kita melihat bahwa kemunculan pemikiran ateis yang bertentangan dengan agama terjadi pasa saat-saat kemunduran filsafat bukan pada saat-saat perkembangan dan keemasannya.

Manakala Socrates, Plato dan Aristoteles mengibaratkan nilai kesadaran filsafat Yunani, maka itu adalah saat keimanan dan keyakinan bagi peradaban Yunani kuno. Agama tidak mendapatkan serangan kecuali pada saat-saat maraknya pertanyaan-pertanyaan ateis yang menyudutkan. Pada masa-masa filsafat Barat modern berjaya, yaitu pada abad ke-17, agama bisa mengubah dan mewarnai pemikiran para filosof Eropa terkemuka.

Namun pada abad ke-18 terjadi kampanye cara berfikir yang bertentangan dengan agama di dalam budaya intelektual Eropa. Tetapi realitasnya menunjukan bahwa abad itu adalah yang paling sedikit memberikan kontribusinya dalam peradaban filsafat Barat bila dibandingkan dengan abad ke-17. karena sebagian besar filsafatnya hanya berkisar tentang politik seperti hubungan sosial. Bahkan mayoritas pendapat dan penemuan pada abad 18 hanya penemuan yang diulang-ulang dari sebelumnya.



Sebagian pengkritik agama menggunakan pemikiran filsafat tidak sesuai dengan makna yang dimaksud oleh ahli filsafat sebelumnya, seperti Augest Konet misalnya, ia tidak memperdulikan kesesuaian makna dan universalitas filsafat itu sendiri. Hal ini mungkin terjadi karena cara berfikir intelektual Eropa pada masa Augest Konet, pada abad ke-19 didasarkan kepada lintas idiologi dan agama yang melampaui stereotype pemikiran, agama dan filsafat itu sendiri. Tujuan utama mereka adalah untuk menghilangkan teori ilmiah empiris dan menjadikannya mengungguli teori lainnya. Namun mimpi para kritikus agama tidak berhasil karena pendapat mereka bertentangan dengan hakikat entitas dan fitrah manusia dan fitrah keagamaannya.

Di antara catatan yang diberikan para ahli antropologi dan juga para pengkaji sejarah agama-agama adalah bahwa ideologi dan keyakinan beragama agama adalah masalah fitrah yang melekat pada manusia. Walaupun Augest Konet berupaya membuktikannya dengan memberikan teori tiga periodesasi manusia mulai dari kehidupan agama menuju kehidupan filsafat kemudian menuju kehidupan ilmiah. Hanya saja teorinya ini tidak memiliki bukti sejarah.

Fase dan rentang waktu intelektual yang dijalani Augest Konet pada abad ke-19 tidak mampu menghilangkan dan menghapus kebutuhan manusia akan ideologi dan agama, bahkan orang Kristen sekalipun. Dan anehnya, sebagaimana yang terjadi pada Augest Konet sendiri pada akhir hidupnya terpaksa mengakui filsafatnya sebagai “agama baru”.

Pada akhirnya kita saksikan sendiri dia menegaskan kebutuhan akan agama sebagai kebutuhan asasi di dalam entitas manusia. Oleh karena itu, kecenderungan kepada hal yang sakral dan penyembahan, sebagaimana pengakuan Konet, adalah masalah yang menjadi bagian dari tabiat manusia yang tetap harus dipenuhi. Dan di dalam bukunya “Harmoni Politik Kemapanan”, Konet menegaskan bahwa nasib perjalanan manusia adalah menjadi lebih agamis. Bahkan dalam ungkapannya tentang Islam kita dapati dia menulis ungkapan kekaguman dengan terang-terangan. (bersambung)

Laporan Khusus Terbaru