Bentuk Bumi Menurut Al-Qur’an (2)

Eramuslim.com -Dalam hal ini, pemahaman kontekstual jelas memerlukan daya nalar yang lebih tinggi dibandingkan sekedar pemahaman tekstual saja. Dengan demikian, pantaslah kiranya jika Allah dalam Al-Qur’an dan Nabi dalam banyak hadis beliau, memuji dan menyatakan bahwa orang yang berilmu pengetahuan, yang memakai akal dan nalar, memiliki derajat yang tinggi jauh berbeda dengan orang awam.

Dalam mempelajari sastra Alquran, mereka harus belajar bahasa Arab terlebih dahulu, kemudian sastra Arab, dan selanjutnya sastra Alquran, mala barulah belajar tafsir Alquran. Bahasa Arab khususnya bahasa Alquran sangat kaya kata-kata. Itu sebabnya Alquran diturunkan berbahasa Arab karena tak ada bahasa di dunia ini sekaya bahasa Arab.

Banyak bahasa Alquran yang tak bisa diartikan ke dalam bahasa-bahasa di dunia. Jika diartikan walau sepotong kata saja, artinya bisa berupa sebuah kalimat karena tidak ada persamaan katanya di dalam bahasa selain Arab. Terkadang para ulama hanya menerjemahkan Alquran secara letterlet bahkan sering sepotong-sepotong.

Dalam mempelajari arti dalam Alquran tidaklah mudah. Bahkan orang Arab yang menggunakan bahasa Arab sehari-hari, tidak semuanya mengerti arti Alquran jika mereka tak mempelajari sastra Alquran.

Dalam hal ini seperti kata:

1. Farasya = ‘fa-ra-syin’

Kata tersebut berasal dari kata ‘farasya’ yang dalam bahasa Inggris dimana bahasa Inggris jauh lebih kaya perkataan dan kosa-katanya dibanding bahasa Indonesia, berarti: to spread out, extend, stretch forth, furnish = menghampar.

Farasya mempunyai kata turunan: furusy (berbentuk jamak). Dan bentuk tunggalnya adalah: firasy. Kata ‘firasy’ dalam bahasa Indonesia berarti: hamparan yang biasanya digunakan untuk duduk atau berbaring. Dari situ kata tersebut juga bisa diartikan: permadani, kasur atau ranjang.

Dalam kalimat ini tidak ada kaitan terhadap sesuatu yang terhampar dengan sesuatu yang ‘datar’. Artinya, firasy bukan secara gamblang berarti  Bumi datar.

Seperti kita membuat kalimat lain, “Lihatlah hamparan padang pasir itu”. Atau “Lihatlah hamparan padi itu”. Atau, “Lihatlah hamparan gunung-gunung itu”. Atau “Lihatlah hamparan lautan itu”. Sekali lagi, bahwa “hamparan” yang dimaksud bukan berarti bahwa planet Bumi adalah datar.

 

Permukaan Bumi adalah hamparan yang luas. Terhampar atau hamparan yang terlihat didepan mata kita seperti yang Al-Quran maksud bukan berarti memiliki pengertian bahwa planet Bumi adalah datar.

2. Dahaahaa / Dahaah

waal-ardha ba’da dzaalika dahaahaa

“Dan bumi sesudah itu dijadikan oleh-nya berbentuk bulat telur (berbentuk telur burung onta).” (QS.An–Naazi’aat [79]:30).

ada juga yang mengartikan:

“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.” (QS.An–Naazi’aat [79]:30).

Kata Arab Dahaahaa artinya seperti bentuk telur burung unta. Kata arab dahahaoleh para penerjemah, ada yang diterjemahkan sebagai “menghamparkan”, walau kurang tepat tapi terjemahan ini juga betul.

Bentuk telur burung unta “Dahaahaa” menyerupai bentuk bulatan Bumi. Dengan demikian, Al-Quran menjelaskan dengan benar bentuk Bumi, meskipun anggapan yang berkembang pada saat itu yaitu pada saat Al-Quran diturunkan, Bumi berbentuk datar, tapi Al-Quran tak pernah menyebutkan dengan gamblang bahwa Bumi datar, dan hanya menjelaskan apa yang mereka saat itu lihat, sebagai “hamparan“.

 

Permukaan Bumi adalah hamparan yang luas. Terhampar atau hamparan yang terlihat didepan mata kita seperti yang Al-Quran maksud bukan berarti memiliki pengertian bahwa planet Bumi adalah datar.

Prof Dr Siileyman Atec, mantan kepala Depertemen Agama di Turki, memberikan definisi berikut untuk kata “Dahaahaa” tersebut, berdasarkan kamus Arab yang terkenal Lisan ul Arab: Kata dahaah berarti untuk membentang, dan memberikan (sesuatu) bentuk bulat. Kata dahaahaa juga didefinisikan sebagai permainan yang dimainkan dengan kenari.

Diturunkan dari cabang yang sama, kata “medahi” merujuk pada batu yang bulat. Meskipun makna bulat tersembunyi dalam kata-kata yang diturunkan dari kata dahaha bagi sebagian penerjemah, Bumi yang lonjong sukar untuk dipahami, lalu mereka menerjemahkannya sebagai terhampar/terbentang.

Bentuk bumi sebenarnya memang seperti bentuk telur burung unta. Dengan demikian bentuk Bumi adalah lonjong dengan ujung tumpul. Kenyataan bahwa burung unta banyak ditemukan di Semenanjung Arab pada waktu itu, mestinya membuat mereka yang menyelidiki misteri ini memegang sebutir telur unta dan mempelajarinya. Gambaran pasti dari bentuk Bumi yang selalu dipermasalahkan di sepanjang sejarah, telah dinyatakan dalam Al-Quran.

 

Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an tak tergerus masa hingga akhir zaman

Bisa dibayangkan, alangkah anehnya jika pada waktu itu Bumi sudah dikatakan secara gamblang berbentuk bulat. Pastinya orang-orang PADA MASA LALU bingung, dan bertanya bagaimana mungkin Bumi bulat? Karena yang mereka lihat di depan mata yaitu tanah, daratan, gurun pasir dan juga laut seperti “hamparan”. Pastinya mereka tak akan mau mempercayai Al-Quran, yang bisa jadi mereka katakan sebagai KEBOHONGAN.

Dan bisa pula dibayangkan, alangkah anehnya jika pada waktu itu Bumi dikatakan datar atau rata, setelah waktu dan masa berlalu hingga sekarang, pastinya orang-orang PADA MASA KINI, dimana teknologi telah canggih, juga bingung , dan bertanya bagaimana mungkin Bumi datar? Karena pada masa kini banyak astronot dari Rusia, Amerika, Perancis, Inggris, Israel, Cina, India, Malaysia, dan banyak lainnya telah melihat bahwa Bumi bulat. Pastinya mereka juga tak mempercayai Al-Quran, yang bisa jadi mereka katakan sebagai KEBOHONGAN.

Inilah sebagai salah satu bukti, bahwa Al-Quran adalah kitab suci sepanjang masa sejak diturunkan hingga akhir zaman, karena tak lekang oleh zaman walau peradaban manusia sudah sangat maju dan modern.

Pada masa kini, ribuan satelit sudah mengorbit planet Bumi. Sebagian besarnya memiliki orbit melewati kutub utara dan kutub selatan, yang mana orbit tersebut disebut sebagai “pole orbiter”. Dari satelit-satelit itu juga sudah memfoto seluruh jengkal permukaan Bumi termasuk lautan, kutub utara dan benua Antartika di kutub selatan.

Al-Quran adalah kitab suci bagaikan “telegrap” yang hanya terdiri dari pengertian yang ringkas namun padat, artinya Al-Quran bukan mirip artikel yang panjang dan komplit menjelaskan secara detail satu-persatu tentang semua kehidupan dan juga seluruh ilmu pengetahuan di Bumi ini hingga akhir zaman secara detail dan komplit, karena jika Al-Quran menjelaskan seluruh aspek, maka tebalnya Al-Quran tak seperti sekarang, melainkan setebal gedung tinggi dan banyak orang malas mempelajarinya.

 

Ilmuwan Muslim: Bumi itu Bundar

Berkata Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishal fil Milal wan Nihal (2/97):

“Pasal penjelasan tentang bulatnya Bumi. Tidak ada satupun dari ulama kaum muslimin, semoga Allah meridlai mereka, yang mengingkari bahwa Bumi itu bulat, dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka. Bahkan al-Quran dan as-Sunnah telah menguatkan tentang bulatnya Bumi.”

(Bersambung/kl)

Source link