Bom Oslo dan Konspirasi Knight Templars Jilid II (4-Habis)

Kantor Freemason Norwegia. Berdekatan Dengan Parlemen

Norwegia adalah sebuah negara yang maju. Dalam rilis PBB tahun 2009, Norwegia ditetapkan sebagai negara terbaik dalam pemeringkatan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) yang dirilis oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Pembangunan (UNDP). Sedang dibawah Norwegia ditempati Australia dengan HDI 0,971.

Tidak hanya itu, Norwegia juga menjadi tempat terbaik di dunia untuk kaum ibu. Dalam daftar Save the Children annual Mother Index, negara dengan sistem Monarki Konstitusional ini memiliki angka kematian ibu dan bayi yang rendah di seluruh dunia. Harapan hidup ibu dan lama pendidikan perempuan pun sangat tinggi di Norwegia. Maka itu tak heran, mereka memberikan lama cuti melahirkan untuk seorang wanita mencapai waktu satu tahun.

Namun dibalik kesuksesan itu semua, banyak orang tidak mengetahui bahwa Norwegia adalah salah satu basis kekuatan masonik di Eropa. Dalam catatan sejarah, kali pertama masonik menancapkan kuku di Norwegia bermula pada tahun 1749. Saat itu Norwegia mendirikan loji pertamanya dengan nama St. Olaus pada tanggal 24 Juni. Loji ini didirikan oleh Pangeran Kristen, Conrad Danneskiold-Laurvig dari Loji Denmar. Raja Denmark Frederich V pun ikut menghadiri persesmian Loji ini kala itu. Sebab pada awalnya, St. Olaus adalah sebuah cabang dari Loji St. Martin, Denmark yang berdiri pada tahun 1743. Maka, selama kurun wakti tahun 1749 sampai 1818, Loji Norwegia mendapat arahan langsung dari Loji St. Martin yang berpusat di Denmark.

Pada tahun 1818, dikarenakan terjadinya persatuan Swedia-Norwegia, maka Ordo Freemason Norwegia bergabung dengan Ordo Freemasons Swedia. Gabungan kedua unsur mason ini pun diketuai Raja Swedia-Norwegia. Raja ini kemudian didaulat sebagai Grand Master Ordo. Dalam tradisi Masonik Swedia, seorang Raja memang harus seorang Freemason, ia pun akan didaulat menjadi Grand Master.

Sebernanya, pada saat itu terjadi sebuah persoalan dimana para anggota mereka diharuskan mengikuti ajaran agama Kristen. Akan tetapi menurut Orde Freemasons Norwegia, mereka bisa berdiri dimana saja, sebab sejatinya Freemasons tidak dimonopoli sebuah agama. Tentu ini adalah cara mereka untuk mengelabuhi tiap agama. Ketika tiap agama sudah mereka lemahkan, barulah Yahudi akan muncul dalam wujud aselinya dan menentang pluralisme agama itu sendiri.

Persatuan antara Ordo Norwegia dan Swedia sendiri tidak berlangsung panjang. Pada tahun 1891, secara resmi mereka mendirikan ordo yang independen dari campur tangan Ordo Swedia. Sampai kemudian hal itu terus berlangsung dan hingga saat ini Ordo Freemasons Norwegia mengklaim telah memiliki 20.000 anggota.

Pasca tejadinya serangan Breivik, maka Freemasons di Norwegia menjadi sorotan tajam dari berbagai kalangan. Mereka dinilai menjadi aktor dibelakang aksi gila Breivik membunuh 93 nyawa manusia. Kendati hubungan antara Breivik dengan Freemason cukup kuat, namun Ivar A. Skar sebagai Grand Master Ordo norwegia menampik keikutsertaan mereka dalam aksi keji Breivik.

Dalam rilisnya di situs resmi Freemason Norwegia,http://www.frimurer.no/, mereka malah mengaku terkejut atas meledaknya bom yang diledakkan Breivik. Ivar mengatakan bahwa apa yang dilakukan Breivik diluar jalur Freemason Norwegia dengan menekankan jika Freemason mengusung ajaran Humanisme.

“Tujuan Ordo adalah pembinaan manusia sehingga menjadi individu yang dapat menjadi manusia yang lebih baik untuk orang yang mereka cintai, keluarga mereka, teman-teman mereka, rekan-rekan mereka dan semua orang lain yang mereka temui”, kata Skar.

Ya Humanisme dimana seluruh agama akan mereka arahkan untuk menyembah sesama manusia, dan hanya mereka yang mengklaim memiliki Tuhan. Oleh karena itu,waktu yang akan membuktikan segala ucapan mereka. Terlebih lagi pengadilan Allahuta’ala. Sekalipun mereka terbukti bersalah, namun tidak serta merta membuat pemerintah Norwegia membubarkan mereka, sebab perlu dicatat, Freemason memiliki lobi cukup kuat di negeri Skandinavia itu. Kantor mereka sendiri dekat dengan parlemen dan beberapa pengurus memiliki jaringan ke pemerintahan.

Kita sendiri bisa berkaca dari kasus Islamofobi asal Belanda, Geert Wiilders, yang dinyatakan tidak bersalah meski telah menghina Islam dalam kasus pengadilan Belanda kemarin. Padahal ucapan Wilders sangat menyakitkan, ia menggambarkan Islam sebagai "fasis" dan dengan membandingkan al-Quran dengan tulisan Hilter Mein Kampf.

Lagi-lagi jika hukum buatan Allah saja dilawan oleh mereka, apalagi hanya sekedar hukum buatan manusia. Terlebih hukum-hukum itu memang mereka ciptakan sendiri. Jadi wajar saja jika Breivik hanya dikenakan tuntutan 30 tahun penjara dalam sidang perdananya beberapa waktu lalu.

Kadang kita bisa berfikir, janganlah heran ketika Breivik-Breivik baru akan muncul untuk menasbihkan peperangan terhadap umat Islam, entah itu di Norwegia, Denmark, Jerman, Swedia, atau itu memang sudah dimulai, karena Pamella Geller yang digadang-gadangkan membantu aksi pengeboman Breivik telah menyusun dan memasarkan sebuah buku picik: cara praktis melawan Islamisasi di Amerika.

Dengan entengnya, dalam buku itu Geller membahas berbagai cara untuk menangkal "Islamisasi di Amerika Serikat," seperti melawan apa yang ia sebut sebagai perlawanan kepada Departemen Kehakiman yang berusaha untuk mengenalkan hukum Syariah kepada bangsa Amerika. Nama Geller sendiri mencuat setelah Wayne Madsen, seorang analis Intejen Amerika, mengkait-kaitkan propagandis Yahudi itu berada dibalik nama Breivik dalam musibah Oslo.

Kalau settingnya sudah seperti ini, maka kita akan menunggu babak demi babak pertarungan antara Yahudi dan Islam, kelak sampai sebuah kebenaran dari hadis Nabi muncul.

“Tidak akan terjadi Kiamat sehingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi sampai Yahudi berlindung di balik batu dan pohon lalu batu dan pohon berbicara “Hai Muslim, hai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku, kemari, bunuhlah dia,” kecuali Ghorqod sebab ia (Ghorqod) sungguh merupakan pohon Yahudi.” (HR Ahmad 9029)”. Allahua’lam. (pz)