free hit counters
 

Membaca Pokok-Pokok Geostrategi Cina di Jalur Sutra (5)

Redaksi – Senin, 10 Rajab 1440 H / 18 Maret 2019 13:15 WIB

Sedangkan dimensi politik kekuatan ialah bahwa dalam memenuhi tujuan dan cita-cita sebuah negara selalu dilandasi oleh power politik, power ekonomi, dan power militer. Itulah yang acapkali diistilahkan “power concept” pada perspektif geopolitik.

Selain pergeseran geopolitik dari Atlantik ke Asia Pasifik, salah satu isu utama di Abad ke 21 ialah perubahan power concept dari militer ke power ekonomi. Dari sisi kolonialisme, maksudnya adalah bahwa pola invasi dan/atau perilaku geopolitik kaum kolonial tidak lagi mengkedepankan power militer (invasi militer) sebagai pintu masuk, namun bergeser ke ekonomi (silent invasion) selaku penjuru.

Berbasis isu-isu di atas, tampaknya kredo komunisme tatkala menjalankan misinya selaras dengan isu global (perubahan power concept) berpola swasta maju duluan membuka ladang-ladang investasi dengan back up negara/militer. Inilah salah satu bentuk Invasi Senyap sebagaimana diurai di muka.

Prasyarat terakhir menggapai cita-cita dan tujuan adalah dimensi keamanan negara dan bangsa. Artinya, untuk memperluas ruang, perlu dibentuk daerah penyangga (buffer zone) yang dapat ditukar dengan waktu dalam menghadapi ancaman dari luar. Keterangan pada bab buffer zone ini, contohnya, bila AS memiliki enam kawasan/wilayah komando seperti USPASCOM, contohnya, ataupun USCENTCOM, dan seterusnya serta puluhan pangkalan militer di berbagai penjuru dunia, semata-mata demi menjamin (quality assurance) bahwa kepentingan nasionalnya berjalan lancar, aman dan tidak terganggu.

Di sini, model buffer zone —zona penyangga— ala Cina dirasa lebih khas lagi spesifik dibanding model AS punya. Meski telah ada pula pangkalan militernya baik yang masih embrio maupun sudah permanen di beberapa negara seperti di Djibouti misalnya, ataupun Vanuatu, Srilangka, Fiji, Timor Leste, dan seterusnya tetapi buffer zone ala Cina mengadopsi gelombang isu dan kredo geopolitiknya dimana pengusaha di depan, sedang negara/tentara di belakang.

Sebagaimana dikatakan John Mempi dalam lima Chinese Problem in the World (masalah Cina di dunia) sesungguhnya Cina telah membangun buffer zone —seperti halnya AS membangun USPASCOM, dan lain-lain wilayah komando— namun secara asimetris atau nonmiliter dalam bentuk “emporium”. Menurut Mempi, ada lima emporium tersebar di dunia, antara lain:

1) first emporium yaitu Negara Cina itu sendiri selaku mother land;



2) second emporium yakni Taiwan sebagai pusat capital atau modal;

3) third emporium adalah Singapura sebagai kawasan perdagangan;

4) fouth emporium ialah Overseas China dalam bentuk persaudaran melalui budaya; dan

5) fitth emporium ada di dalam setiap negara yakni Pecinan atau (kawasan) kampung Cina, dan seterusnya.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Laporan Khusus Terbaru