Ketua BEM UGM Blak-blakan! Akui Merasa Jijik Satu Alumni dengan Jokowi

eramuslim.com – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Gielbran Muhammad Noor, melancarkan kritikan pedas terhadap Presiden Jokowi.

Dia menyebut Jokowi sebagai ‘Raja Jawa’ yang lebih memprioritaskan kekuasaan daripada etika.

“Soal falsafah kekuasaan Jawa, mengingat Jokowi adalah Jawa tulen, dan ternyata kalau teman-teman tahu, dalam falsafah kepemimpinan Jawa, nomor satu itu adalah kekuasaan,” ujar Gielbran dalam sebuah video yang saat ini trending di aplikasi X.

Gielbran menyoroti isu tiga periode, merinci taktik politik Jokowi, dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan yang dinilainya merugikan konstitusi Indonesia.

“Di awal 2023 kemarin kan ada isu tiga periode. Itu isu yang benar-benar berembus dari istana. Dan mulai lah Jokowi sang raja Jawa ini muncul,” lanjutnya.

Dalam pernyataannya pada sebuah acara diskusi itu, Gielbran melihat Jokowi menempatkan kekuasaan sebagai prioritas utama.

“Baru kedua adalah etik, sehingga hal yang sangat bisa dipahami dalam konteks politik Jawa, ketika Jokowi lebih mementingkan kekuasaannya daripada etik,” Gielbran menuturkan.

Dia mengkritik Jokowi karena dinilainya lebih mementingkan kekuasaan daripada etika kepemimpinan.

Selain itu, Gielbran juga membahas isu tiga periode yang dianggap sebagai uji coba untuk melihat respons masyarakat.

“Saya punya machiavelli Jawa, liciknya itu culas bercula dua. Bayangkan gini, dia gagal tiga periode, itu adalah isu yang digunakan untuk tes ombak. Apakah masyarakat menerima atau enggak,” tukasnya.

Gielbran menilai taktik politik Jokowi sebagai ‘Machiavelli Jawa’ yang licik. Dia menyebut kebijakan BLT sebagai upaya untuk memperoleh dukungan masyarakat menjelang Pemilu.

“Meskipun approval rating beliau 80 persen, itu bantuan BLT semua. BLT sekarang itu dimasukkan dari Maret ke Mei, September ke November, dan nanti Januari sampai Juni itu akan ada BLT besar-besaran,” imbuhnya.

“Buat apa? Buat Pemilu. Diperpanjang yah, tadinya sampai Maret, justru mereka dengan segala infrastruktur yang ada, mereka pun gak pede untuk menang,” sambung dia.

Kritik Gielbran mencapai puncaknya ketika dia menyatakan kejijikannya terhadap Jokowi sebagai satu alumni UGM, menganggap Presiden tersebut mengotak-atik konstitusi Indonesia tanpa otak.

“Nah setelah kita tahu pola pikir Jokowi seperti apa, Raja Jawa, machiavelli Jawa, sehingga kita bisa kencounter itu. Saya melihat ini orang sangat culas, meskipun satu alumni, saya benar-benar jijik,” tandasnya.

Gielbran mengaku merasa jijik dengan Jokowi karena orang nomor satu di Indonesia itu belakangan ini dianggap mengotak-atik konstitusi.

“Karena dia dengan senang hati mengotak-atik tanpa otak konstitusi Indonesia. Akan menjadi Presiden sangat hina, sejarah yang sangat hina, ketika ada seorang Capres dan Cawapres yang satu produk gagal reformasi, yang satu anak haram Konstitusi memimpin sebuah negara besar,” kuncinya.

 

(Sumber: Fajar)

Beri Komentar