MUI: Buku ’57 Kutbah Jumat’ Berpaham Syiah

Eramuslim.com – Majelis Ulama Islam Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyatakan bahwa buku berjudul ’57 Khutbah Jumat’ terindikasi berpaham keagamaan Syiah yang bertentangan dengan Islam.

Buku berjudul lengkap ’57 Khutbah Jumat: Runut Logika Agama yang Terpadu dengan Kebangsaan dan Sentuhan Doa’ ini diterbitkan lembaga Islam Integral yang dipimpin Ali Assegaf. Buku ini mendapat pengantar dari Kepala Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif.

Dalam sinopsis di sampul belakang buku tertulis: ide pembuatan buku ini bermula dari keprihatinan terhadap banyaknya kajian agama tanpa menyertakan wacana bangsa, wacana Pancasila di dalamnya, begitu pun sebaliknya.

“Buku itu sangat berpotensi meresahkan. Banyak paham Syiah yang dikembangkan di situ. Pengantarnya Pak Yudi Latif, tapi nama penulis tidak dicantumkan. Antara kata pengantar dan isi buku tidak berkaitan sama sekali,” kata Ketua MUI Jember Abdul Halim Subahar.

Isi buku tersebut, menurut Halim, bertentangan dengan paham arus utama keislaman di Indonesia dan tidak akurat. “Kajian (dalam buku itu) dangkal dan hanya mengutip tiga pendapat yang biasa dikembangkan Syiah dalam melihat Ahlul Bait, seperti pandangan Ali bin Abu Thalib, pandangan Hasan, pandangan Husein, tidak ada pandangan lain di buku itu. Padahal itu didesain buku khotbah. Saya yakin 99 persen masjid di Jember akan menolak (buku) itu,” kata guru besar Institut Agama Islam Negeri Jember ini.

“Maka, MUI memberikan pernyataan: agar buku itu tidak diedarkan. Bahaya, karena akan memicu keresahan,” kata Halim.

Sebelumnya, TNI Komando Distrik Militer 0824 dimintai bantuan oleh Ali Assegaf untuk mendistribusikan buku tersebut untuk 2.018 masjid di Jember. Namun reporter Beritajatim.commendadak mendapat pesan WhatsApp dari Bagian Humas Kodim 0824 yang meminta agar mengembalikan buku yang dihadiahkan Ali Assegaf untuk wartawan kepada Kodim. Belakangan terungkap, bahwa buku itu tengah dikaji oleh MUI Jember.

Dimintai konfirmasi terpisah, Ali keberatan jika bukunya disebut berwarna Syiah. “Tunjukkan di mana Syiah-nya? Ali (bin Abi Thalib) itu adalah khalifah,” katanya.

Sebelumnya, usai Sarasehan Merekatkan Bangsa Memperkokoh NKRI, di Aula Komando Distrik Militer 0824, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (12/3/2018) lalu, Ali mengatakan, buku itu dibuat dengan motivasi membangun.

“Saya melihat Islam melahirkan nilai-nilai Pancasila dan dalam Islam ada media salat Jumat. Kita tidak ingin salat Jumat menjadi tempat yang justru tidak mengenalkan fungsi negeri dan Pancasila. Selama ini saya lihat nilai dalam Islam dan Pancasila sering dibuat tidak sinkron,” katanya.[beritajatim]