92 Tahun Syeikh Omar Mukhtar, Sang Singa Padang Pasir

Eramuslim.com – Hari ini tepat 92 tahun yang lalu (lebih tepatnya pada 16 September 1931) Syekh Omar al-Mukhtar dieksekusi mati di depan umum dengan cara digantung pada usianya yang ke 73 oleh penjajah Italia.

Omar Al-Mukhtar dikenang karena memimpin revolusi bersenjata dan kampanye gerilya melawan penjajah Italia selama dua dekade terakhir hidupnya hingga ia ditangkap dan dieksekusi 92 tahun lalu.

Ia menjadi pahlawan nasional Libya dan simbol perlawanan yang inspiratif. Pria yang mendapat julukan Asad al-Sahara (Sang Singa Padang Pasir).

Omar Mukhtar dilahirkan di Suku Minifa antara tahun 1856 dan 1862 – tahun pastinya tidak diketahui secara pasti – di desa Zawiyat Janzur, dekat kota pelabuhan timur Tobruk. Minifa adalah orang Amazighi yang di-Arabkan dari wilayah kuno Marmarica yang terletak di antara Libya dan Mesir.

Pada saat itu, bagian Libya ini dikenal sebagai Cyrenaica Italia, yang bersama dengan Tripolitania Italia di barat, direbut dari Kekaisaran Usmani (Ottoman) selama Perang Italia-Turki tahun 1911.

Omar menjadi yatim piatu di usia muda, dan sesuai dengan wasiat ayahnya, ia diadopsi oleh Sharif Al-Ghariani, seorang ulama ternama, masih anggota keluarga. Omar Mukhtar kemudian mendapat pendidikan di madrasah dan kuttab setempat, tempat dia menghafal Al-Qur’an.

Ia melanjutkan pendidikan di Universitas Jaghbub, yang berafiliasi dengan Tarekat Senussi, dan mengabdi di oasis terpencil di gurun Libya timur.  Setelah belajar di sana selama delapan tahun, Omar Mukhtar lulus sebagai imam dan bergabung dengan persaudaraan Senussi di bawah kepemimpinan Syeikh  Muhammad Al-Madhi Al-Senussi (1844-1902).

Omar Mukhtar kembali ke Tobruk untuk melayani masyarakat, tetapi pada tahun 1897 dipanggil oleh Al-Mahdi untuk menjadi syekh di kota timur Zawiyat Al-Qusour sebelum melakukan perjalanan ke Sudan di mana ia diangkat sebagai wakil pemimpin Senussi. Selama perjalanan karavan inilah dia mendapat julukan terkenal, “Sang Singa Padang Pasir”.

Pada tahun 1899, dalam usia 37 tahun, dia dikirim ke Chad di mana dia dan pasukan Senussi lainnya bergabung dengan perlawanan lokal melawan penjajah Prancis. Kemudian dia dipanggil kembali dan diangkat kembali sebagai kepala Zawiyat Al-Qusour oleh Pemimpin Tertinggi baru ordo Senussi, Ahmed Al-Sharif, setelah meninggalanya Al-Mahdi pada tahun 1902.

Perlawanan Sang Singa

Pada tahun 1911, saat usianya 53 tahun, penjajah Italia berhasil merebut Libya dari kekhalifahan Usmani (Ottoman). Italia yang fasis, dipimpin oleh Benito Mussolini, menyebut invasi ke tanah Libya sebagai ‘Reconquista Romawi’ (merebut kembali tanah yang telah jatuh di bawah kekuasaan Romawi).

Penggunaan kata “reconquista” tentu saja menarik mengingat kata ini banyak dikaitkan dengan periode dalam sejarah di mana sebagai bagian dari Perang Salib yang lebih luas, ketika pasukan Kristen berangkat menaklukkan Spanyol yang Muslim, yang akhirnya berhasil mereka lakukan.

Omar Mukhtar sangat prihatin dengan pendudukan atas tanah rakyat Libya yang dirampas secara paksa secara tidak manusiawi oleh penjajah Italia. Ia menyatakan bahwa merupakan hak yang diberikan Allah Swt kepada mereka untuk melawan ketidakadilan tersebut karena ia menolak untuk ditaklukkan.

Peristiwa itu menandai dimulainya serangkaian perang jihad melawan penjajah Italia dan tentara Muslim yang ia pimpin.

Di bawah slogan “Kami akan menang atau mati!” Omar melancarkan kampanye gerilya yang gagah berani melawan pasukan penjajah Italia yang sering kali rentan terhadap penyergapan dan penggerebekan di medan gurun yang asing. Yang tak kalah menarik, perjuanganya mendapat dukungan warga lokal baik dalam bentuk pengiriman pejuang, stok makanan, dan perbekalan.

Pejuang aktif Omar yang berjumlah antara 1.000 dan 3.000, menunggang kuda dan sebagian besar bersenjata ringan, melawan pasukan Italia modern, termasuk pesawat canggih zaman itu.

Omar mengalahkan angkatan bersenjata Mussolini hampir setiap hari, bertempur dalam lebih dari 250 pertempuran dalam setahun.  Untuk mengatasi hal ini, kaum fasis Italia mendirikan kamp konsentrasi untuk menargetkan warga sipil.

Pada tahun 1930, hingga 100.000 pria, wanita dan anak-anak Badui – sekitar setengah dari populasi Suku Cyrenaica pada saat itu – digiring ke kamp-kamp gurun di mana banyak yang meninggal, mirip pendekatan zionis-Israel dalam penjajah terhadap rakyat Palestina.

Setelah 20 tahun melawan dan menimbulkan kekalahan dan kemunduran yang parah terhadap penjajah Eropa yang tidak mereka inginkan, Allah berusaha untuk meningkatkan status Umar di akhirat (Insya Allah) dan melanggengkan status kepahlawanannya dalam kehidupan duniawi ketika Dia, dengan kebijaksanaan-Nya mengizinkan Omar untuk menjadi seperti itu. ditangkap dan dilukai oleh pasukan kolonial Italia pada tahun 1931. Di penangkaran, Omar diberi tawaran yang menguntungkan oleh Italia untuk mengakhiri perlawanan dan dia menjawab bahwa dia tidak akan berhenti melawan:

Serangan gerilya ini membuat pasukan Italia tidak mampu mengalahkan pasukan Mukhtar. Akhirnya mereka menggunakan taktik tangan besi, termasuk kawat berduri yang dipasang di sepanjang perbatasan Mesir, meracuni sumur dan mendirikan kamp konsentrasi yang menyebabkan puluhan ribu orang tewas.

Eksekusi massal dilakukan untuk mencoba menghancurkan moral para pejuang perlawanan. Meski demikian, hala ini justru menambah keberanian para mujahidin dan dukungan mereka terhadap Omar Mukhtar dan perjuangannya.

Namun, setelah bertahun-tahun mengalami kemunduran yang memalukan bagi pasukan penjajah, Italia akhirnya melukai dan menangkapnya dalam sebuah penyergapan pada 11 September 1931.

Dia diadili tiga hari kemudian dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di usia 73 tahun. Ketika penjajah Italia memberi kesempatan kalimat terakhir sebelum dieksekusi, Omar Mukhtar hanya mengucapkan “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiuun” (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali).

Kalimat ini semakin menunjukkan karakter Omar Mukhtar yang tidak kenal rasa takut, dan gagah berani. Salah satu pernyataannya yang paling berkesan dan menginspirasi adalah ketika dia berkata;

“Kami tidak akan menyerah. Menang atau Mati! Jangan kira (perang) ini sudah berakhir. 
Kalian Wahai bangsa penjajah pasti akan berperang menghadapi generasi masa depan kami, 
dan generasi berikutnya dan berikutnya. 

Sementara saya, umur saya akan jauh lebih panjang dari umur orang yang menghukum mati saya 
(algojo Anda, red”).

Demikianlah, kata-kata abadi Pemimpin Besar Arab Libya yang juga dijuluki “Syeikh  Para Mujahid” Omar Mukhtar Al-Hilaly. Tepat pada tanggal 16 September 1931, Omar Al-Mukhtar yang sudah lanjut usia digantung di depan para pendukungnya di kamp konsentrasi Suluq, selatan Benghazi.

Meski raganya telah leyap,  nama sang “Singa Padang Pasir”, seorang ulama, pahlawan tangguh dan pejuang teladan yang namanya tetap tercatat harum dalam sejarah kemerdekaan Libya untuk pembebasan bangsa penjajahan.

Syeikh Omar Mukhtar juga dikenal dengan prinsipnya yang adil karena berpegang pada Islam. Dalam satu insiden, Omar Mukhtar, yang tengah melindungi dua tahanan Italia yang masih hidup, menyatakan bahwa “Kami tidak membunuh tahanan”.  Saat itu, rekan-rekan pejuangnya berkata, “Mereka yang akan melakukannya terhadap kita.” Omar pun menjawab dengan kata-kata agung: “Mereka bukanlah panutan kita.”

Warisan Omar Al-Mukhtar mempunyai dampak yang mendalam terhadap rakyat Libya sejak hari yang menentukan itu. Mendiang pemimpin Libya kharismatik Moammar Al-Qadhafi serta pemberontak dukungan NATO yang menggulingkan dan membunuhnya pada tahun 2011 mengklaim atau mengadopsi “Singa Padang Pasir” sebagai milik mereka. Penghormatan ini ditandai dalam penggunaan uang kertas 10 dinar Libya.

Penggunaan uang kertas 10 dinar Libya bergambar Syeikh Omar Mokhtar

Salah satu keagungan Omar Mokhtar diabadikan dalam sebuah film berjudul film biografi Lion of the Desert (1980), dibintangi aktor Anthony Quinn. Film yang disutradarai Moustapha Akkad, seorang berkebangsaan Suriah-Amerika, berdampak terhadap jiwa orang Italia, sehingga film ini dilarang selama beberapa dekade dan baru pertama kali disiarkan di TV di sana tahun 2009.

Perjuangan Omar Mukhtar yang seharusnya terus menginspirasi umat Islam di zaman dimana para penjajah dan imperialis yang mulai menyerahkan tanah umat Islam yang terus berlanjut hingga saat ini melalui penggunaan agen-agen lokal mereka, dan para tiran yang mereka perankan untuk melanjutkan dominasi mereka atas dunia Muslim.

(Hidayatullah)

Beri Komentar