Bila Mereka Adalah Kita

Sri Mulyani adalah Menteri Keuangan rezim Jokowi. Dia seorang praktisi yang menjelma menjadi politisi. Di forum internasional yang seharusnya steril dari politik, dia berpose satu jari dan melarang orang untuk berpose dua jari. Karena bagi dia satu adalah Jokowi dan dua adalah Prabowo. Apa jadinya bila Sri Mulyani adalah pendukung Prabowo?

James Riyadi adalah bos Lippo Group dan seorang taipan yang dikenal sangat dekat dengan Jokowi. Kemarin rumah dia digeledah KPK terkait kasus suap Meikarta. Apa jadinya bila James Riyadi adalah pendukung Prabowo?

Dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain…

Bila sederet kasus di atas dilakukan oleh pendukung Prabowo, beritanya pasti jauh lebih heboh. Semua headline membahas itu, semua acara diskusi politik baik yang durasinya 30 menit ataupun yang tiga jam pasti membahas itu. Running teks di televisi pun kalau perlu tidak diganti-ganti.

Bila sederet kasus di atas dilakukan oleh pendukung Prabowo, jubir sebelah pasti akan terus menggoreng, buzzer mereka pasti tak akan berhenti memaki. Bahkan pihak yang selama ini berlaga netral pun mulai bermunculan dengan bersuara nyinyir. Meme dan desain kampanye negatif akan bertebaran. Situs Seword dan akun Katakita mengalami lonjakan share.

Bila sederet kasus di atas dilakukan oleh pendukung Prabowo, pasti akan ada narasi “Prabowo terlibat”, “periksa Prabowo”, “Prabowo gerombolan penjahat”, “coret Prabowo dari daftar capres”, dan narasi maksa lainnya.

Bila sederet kasus di atas dilakukan oleh pendukung Prabowo, pengamat partisan pasti akan terus muncul untuk mendowngrade. Tukang survei yang nyambi jadi konsultan akan jumpa pers dan memaparkan bahwa kasus-kasus tersebut akan merontokan elektabilitas dan sebagainya.

Sayang, kasus-kasus di atas tidak dilakukan pendukung Prabowo. Jadi harap maklum saja bila beritanya dirasa sunyi dan tidak segaduh kasus drama RS beberapa waktu lalu.

Tapi setidaknya, kita semua bisa membuka mata dan hati. Ternyata yang selama ini mereka suarakan bukan tentang kebenaran, tetapi tentang kepentingan.

Ingat, rakyat sudah cerdas…! [kl/swamedium]

*Penulis: TB Ardi Januar, politisi