Operasi Akuisisi Politik Jokowi, Ancaman Besar bagi Demokrasi?

Eramuslim.com –  Jokowi dan orang-orang di sekitarnya sedang merancang sebuah operasi politik yang sangat menarik dan berani: Akuisisi politik terhadap Prabowo dan Gerindra.

Jika sukses, hal itu akan menjadi keberhasilan akuisisi politik terbesar dan masuk dalam catatan sejarah politik kontemporer Indonesia.

Keberhasilan itu juga akan meneguhkan jargon dalam politik yang sangat terkenal “ Tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik. Yang abadi hanyalah kepentingan itu sendiri.”

Akuisisi atau pengambil-alihan, terminologi ini biasa digunakan dalam dunia usaha. Sebuah perusahaan diambil-alih oleh perusahaan lain, dengan tujuan menjaga pasokan bahan baku dan memastikan sebuah produk dapat terserap oleh pasar.

Berbeda dengan  merger (penggabungan) kata kunci pada akuisisi, adalah pengambil-alihan kendali.

Jika kita amati praktik politik yang dilakukan sejak Jokowi memegang tampuk kekuasaan di Indonesia, kata akusisi tampaknya lebih tepat dibandingkan merger. Semangatnya adalah mengurangi atau mematikan persaingan.

Tak lama setelah terpilih menjadi presiden pada Pilpres 2014, Jokowi langsung melakukan jurus akuisisinya. Saat itu dia langsung melakukan serangan terhadap kubu lawan, Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo-Hatta Radjasa.