Saudi Menggantikan Mesir Sebagai Pusat Intelijen AS di Timur Tengah

Mesir sudah kehilangan superioritas dan pengaruhnya di dunia Arab. Begitu laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Departemen Keamanan AS belum lama ini. Kajian ini sebenarnya sudah dilakukan AS sejak musim panas tahuh lalu (sekitar Juni-Juli 2008), namun baru dikeluarkan sekarang mengacu pada pemerintahan baru AS yang dipimpin oleh Barack Obama.

Selama ini, Departemen Keamanan AS memfokuskan diri pada kajian strategis intelijen AS dan memberikan data pada Presiden dan pemerintah AS terkait dengan segala kebijakan luar negeri yang dibuat Paman Sam.

Berbagai peristiwa yang dua bulan ini melanda dunia Arab, terutama agresi Gaza yang berujung terjepitnya posisi Israel, maka AS segera memalingkan wajahnya pada Arab Saudi, untuk menggantikan peran Mesir. Selama ini Mesir dijadikan AS sebagai kiblat regional di Timur Tengah. Untuk itu, Obama pun telah menunjuk Chas W. Freeman Jr, mantan duta besar AS untuk Saudi, sebagai kepala Badan Intelijennya.

Gayung bersambut. Saudi pun dengan tangan terbuka menyambut perubahan ini. Salah satu alasan Saudi adalah karena mereka ingin menyaingi Iran yang selama ini berhasil mendominasi negara-negara Arab. "Hosni Mubarak, semakin tua. Dan anaknya sendiri meragukan kemampuan memimpinnya di tanah Arab," begitu salah satu bunyi laporannya. "Sebaliknya, hubungan dengan Arab Saudi mencapai tahap yang efektif selama ini. Terutama karena kebijakan Saudi yang juga kompromis dengan Israel." (sa/hrtz)