Strategi Gagal Kesehatan: Awas, Cawapres Masih Bisa Ganti

Foto: kumparan

Eramuslim.com – Jauh sebelum deklarasi pasangan Capres-Cawapres, sudah jelas terbaca kalau kedua kubu baik Jokowi maupun Prabowo sangat hati-hati dan tarik ulur dalam memilih Cawapres. Saling mengintip dan terkesan tidak ada yang mau saling mendahului mendeklarasikan pasangannya, hingga harus tunduk pada regulasi KPU yang memberi batas akhir pendaftaran pasangan Capres-Cawapres Jumat (10/8).

Setelah kedua pasangan resmi mendaftar, Pilpres semakin kental rasa Cawapresnya. Artinya bisa dipastikan Pilpres 2019 yang menentukan adalah sosok dan kepiawaian Cawapresnya.

Karena itu, yang menarik dikritisi dan di maknai adalah Cawapresnya. Ketika Jokowi lebih dulu menentukan dan memilih Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin sebagai Cawapresnya, publik langsung kaget dan terperangah, karena awalnya inisial M yang dielus-elus menjadi Cawapres Jokowi adalah Mahmud MD.

Sejurus kemudian publik langsung mampu membaca kalau kubu Jokowi akan fokus mengamankan suara mayoritas umat Islam. Namun apakah tokoh Islam sekelas KH. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI, Rais ‘Aam PBNU) yang karena keahliannya di bidang ekonomi syariah pernah menjabat komisaris beberapa bank (Bank Muammalat, Bank BNI Syariah, Bank Mega Syariah), serta merta dapat menarik suara mayoritas pemilih muslim? Belum tentu! Terlebih pemilih milenia muslim yang lebih dinamis tidak tertarik dengan doktrin struktural para elite organisasi Islam. Bagi pemilih milenia muslim, bukan berarti orang tua, saudara, keluarga, lingkungannya ulama, NU atau Muhammadya, kemudian sudah pasti memilih Cawapres dari kalangan ulama.