Dokumen Hamas Ungkap: Mengapa Kami Melakukan Operasi Taufan Al-Aqsha

Eramuslim.com – Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, mengeluarkan dokumen setebal 16 halaman pada hari Ahad (21/1/2024), berjudul ‘Narasi Kami … Operasi Taufan Al-Aqsha’.  Dokumen ini menjawab banyak pertanyaan kritis mengenai konteks, waktu, dan peristiwa 7 Oktober.

Dokumen tersebut (dalam format PDF) dirilis dalam bahasa Arab dan Inggris oleh Kantor Media Hamas. Dokumen ini memberikan gambaran yang langka tentang alasan yang menyebabkan para pemimpin perlawanan Palestina melakukan operasi perlawanan besar-besaran pada tanggal 7 Oktober, selain apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu.

Dokumen tersebut dimulai dengan menyebut “Rakyat Palestina kami yang teguh,” yang menjadi sasaran genosida militer ‘Israel’, yang hingga hari ini memasuki hari ke-108.

Target audiens lainnya adalah “Negara-negara Arab & Islam” dan “Orang-orang merdeka di seluruh dunia dan mereka yang mengadvokasi kebebasan, keadilan dan martabat manusia.”

“Mengingat agresi ‘Israel’ yang sedang berlangsung di Jalur Gaza dan Tepi Barat, dan ketika rakyat kami melanjutkan perjuangan mereka untuk kemerdekaan, martabat, dan melepaskan diri dari penjajahan terlama, yang selama ini mereka menunjukkan keberanian dan kepahlawanan dalam menghadapi mesin pembunuh dan agresi ‘Israel’. Kami ingin mengklarifikasi kepada rakyat kami dan masyarakat merdeka di dunia mengenai kenyataan yang terjadi pada 7 Oktober, motif di baliknya, dan apa yang terjadi pada 7 Oktober,” demikian isi pendahuluan dokumen tersebut.

Mengapa Operasi Taufan Al-Aqsha?

Bagian pertama sepenuhnya didedikasikan untuk alasan di balik Operasi Taufan Al-Aqsha.
Hamas mengemukakan konteks peristiwa tersebut dengan menggambarkan proses penjajahan brutal yang dilancarkan oleh gerakan Zionis dan bahkan sebelumnya, oleh otoritas kolonial Inggris.

“Selama beberapa dekade yang panjang ini, rakyat Palestina menderita akibat segala bentuk penindasan, ketidakadilan, perampasan hak-hak dasar mereka dan kebijakan apartheid,” demikian isi dokumen tersebut.

Dokumen ini juga mencantumkan angka resmi terkait periode antara tahun 2000 dan 2023, mengungkapkan jumlah yang mengejutkan terkait warga Palestina yang terbunuh dan cedera.

Hamas juga menyalahkan apa yang disebut sebagai ‘proses penyelesaian damai’ dan sikap keras kepala pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sekutu Baratnya yang “selalu memperlakukan ‘Israel’ sebagai negara di atas hukum; mereka menyediakan perlindungan yang diperlukan untuk terus memperpanjang penjajahan dan menindak keras rakyat Palestina, dan juga membiarkan ‘Israel’ mengeksploitasi situasi tersebut untuk mengambil alih lebih banyak tanah Palestina dan melakukan Yudaisasi terhadap tempat suci dan situs suci mereka.”

“Setelah 75 tahun penjajahan dan penderitaan yang tak henti-hentinya, dan setelah gagalnya semua inisiatif pembebasan dan kembalinya rakyat kami, dan juga setelah hasil buruk dari apa yang disebut proses perdamaian, apa yang dunia harapkan dari rakyat Palestina?”

Peristiwa

Bagian kedua, berjudul ‘Peristiwa Operasi Taufan Al-Aqsha’, menggambarkan peristiwa pada hari itu dan membantah beberapa kebohongan ‘Israel’.

“Menghindari bahaya bagi warga sipil, terutama anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia adalah komitmen agama dan moral seluruh pejuang Brigade Al-Qassam. Kami menegaskan kembali bahwa perlawanan Palestina sepenuhnya disiplin dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Islam selama operasi dan bahwa para pejuang Palestina hanya menargetkan serdadu penjajah dan mereka yang membawa senjata melawan rakyat kami.”

“Jika ada kasus yang menargetkan warga sipil; hal itu terjadi secara tidak sengaja dan terjadi selama konfrontasi dengan pasukan penjajah,” jelas Hamas dalam dokumen tersebut.

Investigasi Internasional

Di bagian ketiga, Hamas menegaskan kembali bahwa “Ketika Palestina meminta penyelidikan atas kejahatan perang ‘Israel’ yang dilakukan di wilayahnya, mereka dihadapkan pada sikap keras kepala dan penolakan ‘Israel’, serta ancaman untuk menghukum orang-orang Palestina atas permintaan tersebut ke ICC.”

“Kami mendesak negara-negara ini, terutama pemerintah AS, Jerman, Kanada dan Inggris, jika mereka ingin menegakkan keadilan seperti yang mereka klaim, mereka harus mengumumkan dukungan mereka terhadap jalannya penyelidikan atas semua kejahatan yang dilakukan di wilayah Palestina terjajah dan memberikan dukungan penuh kepada pengadilan internasional agar dapat menjalankan tugasnya secara efektif.”

Siapa Hamas?

Di bagian keempat, berjudul ‘Siapa Hamas’, kelompok tersebut menggambarkan dirinya sebagai “gerakan pembebasan nasional yang memiliki tujuan dan misi yang jelas” dan “mendapatkan legitimasi untuk melawan penjajahan dari hak rakyat Palestina untuk membela diri, memperoleh kebebasan dan menentukan nasib sendiri.”

“Rakyat Palestina kami yang teguh dan perlawanan mereka melancarkan pertempuran heroik untuk mempertahankan tanah dan hak nasional mereka melawan penjajahan kolonial yang paling lama dan brutal. Rakyat Palestina sedang menghadapi agresi ‘Israel’ yang belum pernah terjadi sebelumnya yang melakukan pembantaian keji terhadap warga sipil Palestina, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan perempuan.”

Apa yang Dibutuhkan?

Di bagian kelima, berjudul ‘Apa yang Dibutuhkan’, Hamas menyerukan “penghentian segera agresi ‘Israel’ di Gaza, kejahatan dan pembersihan etnis yang dilakukan terhadap seluruh penduduk Gaza”.

Selain itu, Hamas juga mendesak “untuk meminta pertanggungjawaban penjajah ‘Israel’ secara hukum atas penderitaan yang mereka timbulkan terhadap rakyat Palestina, dan menuntut mereka atas kejahatan terhadap warga sipil, infrastruktur, rumah sakit, fasilitas pendidikan, masjid dan gereja.”

“Kami menyerukan kepada masyarakat merdeka di seluruh dunia, terutama negara-negara yang terjajah dan menyadari penderitaan rakyat Palestina, untuk mengambil sikap serius dan efektif terhadap kebijakan standar ganda yang diadopsi oleh negara-negara yang mendukung penjajah ‘Israel’. Kami menyerukan kepada negara-negara ini untuk memulai gerakan solidaritas global terhadap rakyat Palestina dan menekankan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan, serta hak masyarakat untuk hidup bebas dan bermartabat.” (PIC) (Sahabat Al-Aqsha)

Beri Komentar