Penetapan Wuquf oleh Pemerintah Arab Saudi Beda Dengan Software

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dari berbagai software untuk menghitung hilal, dapat diketahui bahwa untukkota Mekahpada hari Rabu tgl. 20 Desember 2006, Ijtima (New Moon) terjadi jam 17.01 (waktu setempat), Bulan terbenam (Moon Set) jam 17.33 dan Matahari terbenam (Sun Set) jam 17.46, jadi bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari.

Tetapi Mahkamah Syariah Arab Saudi menetapkan tgl. 1 Dzulhijjah 1427H pada hari Kamis 21 Desember 2006 dan Wuquf di Arafah pada hari Jumat 29 Desember 2006.

Bagaimana hukumnya penetapan waktu Wuquf ini, syah atau tidak?

Wassalam,

Bambang Kaneko – Bekasi

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Berbagai software penghitung hilal adalah proram komputer yang dibuat manusia berdasarkan mazhab tertentu dari ilmu hisab. Belum semua mazhab ilmu hisab sudah dibuatkan softwarenya. Baru sebagiannya saja.

Dan dari puluhan software yang sudah dibuat itu, tidak semuanya menghasilkan tanggal yang sama. Masing-masing saling berbeda juga. Kalau anda kebetulan menggunakan dua atau tiga software yang kebetulan hasilnya sama, maka dengan mudah disimpulkan bahwa software yang anda pakai itu berangkat dari doktrin dan mazhab yang seragam.

Mungkin anda bisa perluas koleksi software anda itu hingga mencapai puluhan jumlahnya dari berbagai mazhab, lalu bandingkan hasilnya antara satu dengan yang lain. Maka anda akan mendapatkan bahwa masing-masing software itu akan saling berbeda.

Semua tergantung kepada sumber rujukan softwarenya. Dan software itu sendiri bukan sumber rujukan. Software hanyalah sebuah aplikasi yang dibuat berdasarkan sebuah sistem penghitungan hisab tertentu. Jumlahnya pun bukan hanya dua atau tiga buah, tapi puluhan bahkan mungkin ratusan.

Karena itu kurang tepat rasanya ‘mengadili’ ketetapan pemerintah Saudi Arabia hanya berdasarkan satu atau dua software. Bahkan mereka pun juga sudah punya koleksi ratusan software itu, atau malah mereka sendiri yang mensponsori produksinya.

Titik Masalah

Maka untuk memahami keadaan ini, kita perlu dudukkan perkaranya agar menjadi jelas. Ketahuilah bahwa ilmu hisab itu terdiri dari sekian banyak aliran (mazhab). Masing-masing mengklaim dirinya sebagai yang paling tepat, paling akurat, paling benar dan paling-paling lainnya.

Dan hal itu sah-sah saja, selama mereka masih mendasarkan hisabnya itu dari sumber-sumber syariah Islam yang valid. Bahwa hasilnya bisa berbeda-beda, sejak zaman nabi SAW memang sudah dimungkinkan. Tidak ada yang salah dari munculnya perbedaan itu.

Yang harus diluruskan adalah ketika mereka sudah saling menyalahkan satu sama lain. Atau bahkan bila mereka sudah saling ejek, saling caci, saling membid’ahkan atau sekalian saling mengkafirkan. Dua hal terakhir itu biasanya bukan ahli hisab yang mengerjakan, tetapi kalangan awam yang bodoh, tidak punya ilmu, tapi punya sifat fanatisme luar biasa demi membela kelompoknya dan memojokkan semua orang yang tidak berada pada barisannya. Kadang-kadang yang keluar dari mulutnya lebih pedas dari ulama ahli hisab yang dibela-belanya.

Bila kemudian pemerintah Saudi Arabia berpegang pada satu mazhab dari sekian banyak mazhab hisab dan rukyat, tentu itu hak mereka. Dan ketika jutaan jamaah haji ‘terpaksa’ berwuquf sesuai hasil ijtihad pemerintah Saudi, tentu tidak mengapa. Hukumnya sah dan haji mereka insya Allah mabrur. Karena mereka sudah menjalankan syariat Islam dengan benar, di atas manhaj nabi SAW juga. Meski hanya berupa satu dari sekian banyak ijtihad para ulama.

Lalu bila di beberapa wilayah yang lain, para ulama di sana melahirkan pendapat yangberbeda hasilnya dengan Pemerintah Saudi, juga tidak bisa disalahkan. Karena pendapat itu juga merupakan ijtihad.

Walhasil, yang mana saja yang diikuti oleh umat Islam, semuanya sah dan tidak boleh saling mengejek, melecehkan, menuding ahli bid’ah atau tuduhan-tuduhan yang lain.

Namun seandainya para ulama dan umara’ dari seluruh negeri muslim mau duduk berkumpul untuk membuat komitmen bersama, agar semua bisa menyepakati jatuhnya hari-hari besar Islam, terutama Idul Fithri dan Idul Adha, dengan tujuan demi persatuan dan kekompakan umat Islam sedunia, tentu akan sangat mulia. Tentu kaum muslimin sedunia akan menikmati indahnya kebersamaan, termasuk dalam penetapan hari besarnya.

Namun entah kapan mimpi itu akan menjadi kenyataan, ataukah kita harus menunggu dulu turunnya Imam Mahdi di akhir zaman? Wallahu a’lam bishshawab,

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc