Calon Suami Beragama Khatolik

Assalamualaikum wr. wb.

Selamat siang bu, saya mempunyai teman yang akan menikah tapi calon suaminya beragama khatolik.Teman saya namanya D dan calonnya namanya A.Tapi dengan kecintaandan ketulusan si  A terhadap D dia mau masuk Islam, dan bulan Ramadhan sekarang si A lagi belajar berpuasa. Banyak hal yang si A lakukan untuk mengetahui Islam lebih jauh. Keraguan si D terhadap A apabila nanti sudah berkeluarga takutnya si A kembali kepada ajaran agamanya.Tolong ibu memberikan masukan untuk teman saya apakah yang harus ia lakukan?

Terimakasih sebelum dan sesudahnya.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.

Sdr Gemini yang dimuliakan Allah, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memilih Anda untuk menjadi sahabat yang baik bagi teman Anda;

Hidayah adalah harta yang tak ternilai yang bisa membawa seseorang ke derajat kemuliaan. Dalam salah satu wasiatnya ke Ali bin Abi Tholib, Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa hidayah yang diterima seorang hamba lewat kita, ibarat unta merah sepenuh lembah yang disimpankan untuk kita di surga nanti. Maka bersyukurlah kepada Allah jika memang A benar-benar ingin masuk Islam. Namun jangan lengah…banyak kasus yang membuat miris; keyakinan berubah kembali di tengah-tengah perkawinan. Karena keimanan yang baru tentu saja masih lemah dan masih berbolak-balik.

Sdr Gemini, katakan pada teman Anda D bahwa proses yang lebih berat setelah menerima hidayah adalah penjagaan agar hidayah itu tak lenyap begitu saja. Maka mengisi hidayah tadi dengan ilmu adalah keniscayaan. Sehingga belajar untuk memahami Islam juga sebuah keharusan.
 
Sdr. Gemini, katakan pada sahabat Anda untuk bermusyawarah dengan berbagai pihak agar tidak menyesal di kemudian hari. Jika calonnya serius maka mintalah bantuan pihak ketiga. Sekarang ini, telah banyak lembaga-lembaga muslim atau yayasan yang mewadahi para muallaf. Mereka insya Allah sudah berpengalaman menghadapi kasus-kasus yang telah Anda ceritakan, seperti pengusiran, pengucilan bahkan penyiksaan karena proses kembali ke Islam ini. Bahkan mereka juga memberi konseling agar mualaf ini mantap dan berniat lurus ketika memilih Islam,tidak ada tendensi duniawi, karena ingin menikahi wanita atau semata-mata terpengaruh seseorang. Di lembaga-lembaga ini juga sudah sering mengislamkan muallaf. Maka sarankan dan jangan ragu mengajak A  ke sana. Kalau di kota Anda belum ada lembaga seperti ini, arankan agar sahabat  Anda mencari ulama atau ustadz atau da’i yang bisa membantu A.

Apa yang harus diajarkan terlebih dahulu? Merujuk sirah Rasulullah, beliau saw mendahulukan masalah pemahaman terhadap aqidah dibanding pelaksanaan ibadah ritual. Jadi mengenalkan rukun iman sebelum rukun Islam. Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat Syahada:"Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah." Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya, maka dia menjadi orang Islam. Dan berlaku baginya hukum-hukum Islam, walaupun dalam hatinya dia mengingkari. Kerana kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya, kita serahkan kepada Allah. Dalil dari hal itu adalah ketika Nabi saw. menerima orang-orang yang hendak masuk Islam, beliau hanya mewajibkan mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat. Nabi saw. tidak menunggu hingga datangnya waktu salat atau bulan Puasa (Ramadhan). Bahkan Aisyah ra. istri tercinta Rasulullah saw pernah berkata, ”SeAndainya aturan melarang minum khamer (arak) diturunkan terlebih dahulu sebelum keimanan menancap di hati para sahabat, niscaya tak satu pun yang mau memeluk Islam”. Wajar, karena minum khamer adalah bagian dari budaya mereka, sehingga para sahabat pernah sholat sambil mabuk ketika larangan minum khamr belum diturunkan.

Sdr. Gemini, si A itu sedang dalam kebimbangan terhadap agamanya yang dulu dan kini sedang menuju kemantapan dalam aqidah Islam. Maka yang perlu diutamakan adalah memantapkan keimanannya; Suatu saat keimanan ini mestilah secara total, baik dalam hati, diucapkan dengan lisan dan selanjutnya secara bertahap dIbuktikan dalam perbuatan. Sementara keimanan itu boleh disembunyikan jika dikhawatirkan akan membahayakan keselamatannya. Paling tidak sampai A tersebut dapat mempersiapkan untuk mandiri dan kuat imannya untuk menghadapi tantangan jika harus dilepas oleh keluarganya. Ibadah-ibadah fardhu agar dapat dilaksanakan sesuai kemampuannya, misalnya jika sholat belum sempurna maka dengan bacaan yang dia mampu pun akan diterima oleh Allah swt. Insya Allah.

Mudah-mudahan hati A diberi keteguhan, diberi ketenangan hati dalam menghadapi cahaya suci, cahaya Islam….! Dan kepada D semoga tidak salah melangkah, sarankan agar sholat istikharah dan bermusyawarah dengan berbagai pihak. Semoga Anda dapat memberi support kepada D dalam menghadapi masalah ini agar hatinya jernih dan tidak buta oleh cinta… Amin..

Wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Bu Urba