Apakah Harus Bercerai

APAKAH HARUS BERCERAI

Hati saya merasa sangat sedih ketika mendengar ada rekan kerja yang akan bercerai dalam waktu dekat. Mereka suami dan isteri bekerja dalam satu kantor. Beberapa tahun setelah pernikahan mereka, ternyata belum membuahkan hasil berupa anak. Siapapun pasangan yang normal pasti menginginkan hadirnya seorang anak yang bisa menyejukkan hati orang tuanya. Tapi saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang suami tega menceraikan isterinya hanya karena isterinya tidak kunjung hamil. Padahal kehamilan itu sendiri bukan ditentukan oleh isterinya tetapi ditentukan oleh Allah SWT.

Dengan wajah sendu dan menahan tangis, rekan kerja tersebut menceritakan kalau sekarang sudah tidak tinggal di rumah lagi tetapi menumpang di rumah rekan kerja yang lain. Dia bercerita kalau suaminya tidak mengajak berbicara selama berhari-hari, kalau ditanya sang suami diam seribu bahasa. Beberapa rekan kerja yang jabatannya lebih tinggi mencoba membantu memecah kebuntuan hubungan suami isteri tersebut tetapi tidak membuahkan hasil. Kemudian pihak keluarga juga mencoba turun tangan tetapi sang suami tetap teguh pada pendiriannya, ingin menceraikan isterinya yang tidak bisa memberinya keturunan.

Saya masih merasa sedih dengan persoalan teman kerja saya tersebut. Kemudian Saya mengingat beberapa teman yang juga tidak dikarunia anak. Ada teman kerja yang dua kali melahirkan ternyata anaknya hanya bertahan beberapa jam saja dan langsung meninggal. Ternyata anaknya yang pertama dan kedua menderita kelainan bawaan. Akhirnya dokter menyarankan teman saya untuk tidak memiliki anak lagi karena kalaupun ada anak lagi dimungkinkan akan menderita kelainan yang sama. Teman tersebut akhirnya mengasuh anak dari kakak iparnya. Mereka terlihat bahagia dengan anak asuhnya tersebut.

Kemudian ada tetangga dekat rumah saya yang sudah puluhan tahun menikah ternyata juga belum dikaruniai anak. Dokter menyatakan keduanya sehat dan tidak mempunyai penyakit ataupun kelainan tetapi toh ternyata Allah SWT punya kehendak lain dengan tidak memberinya keturunan. Tetangga saya terlihat bahagia dan sabar walaupun tidak terdengar derai tawa anak dari rumah mereka.

Saya mencoba merenungkan, apakah pernikahan hanya untuk mendapatkan keturunan? tentu saja tidak. Tujuan pernikahan haruslah didasarkan pada keimanan kepada Allah SWT, berniat mendapatkan ridho Allah SWT, niat untuk beribadah kepadaNya dan mengikuti sunah RasulNya. Saya yakin bahwa orang yang bertakwa akan diberikan kemudahan termasuk kemudahan menerima takdir Allah SWT baik hal-hal yang terlihat baik dan menyenangkan untuk kita ataupun hal-hal yang terlihat tidak baik dan tidak menyenangkan. Allah SWT pasti menyediakan pahala dan ampunan yang besar bagi orang-orang yang bersabar dan bertakwa kepadaNya. Wallahu’alam.

Nur Aeni Semarang, Desember 2006