Ku Bersyukur padaMu Ya Allah

Pagi itu, Hari Senin, 12 Agustus 2002, seperi biasa Aku langkahkan kakiku ke tempat kerja di sebuah Perusahaan swasta . Namun yang membedakan adalah pada pagi itu Aku harus berangkat dari Rumah Sakit, dan pulang ke Rumah Sakit juga.

Aku dan Istri harus menemani Anakku yang yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Anakku ( Muhammad Wildan) lahir pada tanggal 10 Agustus 2002 di Rumah seorang Bidan. Namun karena kehamilan Istriku belum genap 9 bulan, Wildan lahir prematur dengan berat badan hanya 1,9 kg, sehingga kesehatannya tidak sempurna dan harus dirawat di Rumah Sakit.

Pada awalnya Aku merasa sedih dan seakan tidak mau menerima keadaan ini. Namun ketika masuk Masuk Rumah Sakit dan memperhatikan lingkungan sekeliling, Aku harus bersyukur karena keadaan keluargaku lebih ringan jika dibandingkan dengan keluarga lain. Kalau Wildan lahir dengan berat badan hanya 1,9 kg, pasien lain lebih menyedihkan lagi. Ada bayi yang lahir kembar dengan berat badan 1,1 dan 1,2 kg. Ada juga bayi yang lahir dengan jantung diluar perut. Ya Allah, Engkau Maha Kuasa menciptakan apa pun yang tidak bisa diperkirakan oleh manusia.

Wildan ditempatkan di sebuah Inkubator, di tubuhnya dipasang selang untuk memasukkan susu. Apabila merasa lapar atau merasa kesepian, Dia sering menangis. Hampir setiap saat Aku selalu menghampiri. Bila menangis, kami hampiri Dia sambil disapa dan diajak bicara.

Wildan, jangan sedih atau takut, Mama dan Bapak ada disini, Mama dan Bapak sayang sama Wildan, Wildan harus sabar dan kuat, ini ujian dari Allah. Kata-kata itu yang sering kami ucapkan ketika Dia bangun atau menangis karena kesepian. Dengan sapaan dan pembicaraan tersebut, Dia menghentikan tangisnya dan menoleh kepada kami, seakan mengerti dan meng iyakan apa yang kami ucapkan. Begitulah selama seminggu Aku berangkat kerja dari Rumah Sakit dan pulang ke Rumah Sakit.

Pada Hari Sabtu, 17 Agustus 2002, kami meminta ijin agar Wildan bisa pulang dan dirawat di rumah. Setelah berbicara cukup lama akhirnya Wildan diperkenankan untuk pulang dengan bersyarat. Kami sangat bergembira bisa pulang ke rumah berkumpul bersama sanak family, yang sudah menyambut di depan rumah, termasuk anak kami yang paling besar, Ahmad Zaky yang pada saat itu berumur 11 tahun dan duduk di bangku SD kelas 6 , dan anak ke 2 kami, Hilman, yang pada saat itu 9 tahun dan duduk di bangku SD kelas 4.

Sebagai rasa syukur kepada Allah SWT, pada tanggal 24 Agustus kami mengadakan aqiqah untuk menyambut lahirnya Wildan yang genap berumur 14 hari.

Pada tanggal 7 Septemer 2002 Wildan terkena flu dan batuk, sehingga apabila mau meyusu kelihatannya mengalami kesulitan. Pada Hari Senin, 10 September 2002 pagi-pagi Wildan menangis ingin menyusu, dan disusuilah oleh Istriku. Pada saat sedang menyusu Dia batuk dan tersedak, nafasnya kelihatan mengalami kesulitan. Kami berusaha menolongnya dengan nafas buatan, akan tetapi karena air susunya masuk ke hidung, kami mengalami kesulitan.

Kami bawa segera ke Bidan terdekat, namun Bidan tersebut menyarankan agar kami langsung membawanya ke Rumah Sakit, kamipun segera ke Rumah Sakit. Sesampai disana segera dilakukan pertolongan oleh petugas Rumah Sakit. Berbagai upaya mereka lakukan agar Wildan bisa bernafas kembali. Namun apa mau dikata, dengan berbagai upaya yang dilakukan, akhirnya mereka berkata : Maaf, Bayi Bapak sudah pergi.

Dengan perasaan sedih dan merasa bersalah Aku berusaha untuk menenangkan Istriku yang merasa terpukul dengan kejadian ini, sehingga Beliau menangis pada saat itu. Namun tiba-tiba datang seorang Ibu setengah baya dan mengenakan jilbab berkata, Bu jangan teteskan airmata ke atas tubuh anak ibu, relakanlah kepergiannya, insya Allah nanti akan menyambut ibu di pintu sorga.

Kami merasa terharu dengan perkataan ibu itu, sehingga istriku pun menghentikan tangisannya. Kamipun pulang ke rumah dengan perasaan hampa karena kami menggendong anak yang sudah tiada. Kami pulasara dan pada hari itu pula Wildan kami makamkan.

Aku merasa sedih dengan keadaan ini. Namun aku harus menyadari bahwa semua ini sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, Allah SWT. Aku pun mengikuti apa yang Rasulullah contohkan apabila musibah menimpa kita, yaitu harus mengucapkan :
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma’jurnii fii musibatii wahluflii khairan minha
Artinya;
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada Allah kami akan kembali, Ya Allah berilah pahala kepadaku atas musibah yang engkau berikan kepadaku, dan berikanlah kepadaku ganti yang lebih baik.

Beberapa waktu istriku merasa trauma dengan kejadian itu, walau didalam hati masih menginginkan untuk diberi lagi anak, karena kami baru mempunyai 2 anak laki-laki, belum punya anak perempuan.

Kami pun berusaha untuk selalu berdoa agar Allah menganugerahkan anak lagi kepada kami,ditambah embel-embel “ kalau bisa perempuan”. Bertahun-tahun istriku “kosong”.

Pada Hari Senin, 8 Januari 2007, istriku minta diantar untuk memeriksakan perutnya ke Dokter kandungan, dan hasilnya positip bahwa istriku sudah hamil 2 bulan. Kami menyambut gembira dengan hasil pemeriksaan itu.

Pada Hari yang sama di tempat lain, ada seorang Ibu yang melahirkan anak laki-laki dengan berat badan 2,5 kg. Tapi karena ibu itu tidak mempunyai biaya. Esoknya Dia berusaha minta tolong bantuan dana untuk menebus sang Bayi, Beliau juga datang ke tempatku bekerja untuk minta bantuan. Singkatnya pada hari Rabu, 10 Januari Bayi tersebut ditebus, dan ibu dan bayi tersebut untuk sementara menginap di tempat kerjaku sampai hari Jumat.

Jumat siang, 12 Januari 2007, sehabis salat jumat, sang ibu berencana untuk pergi jauh, namun karena merasa pesimis bisa mengurus bayi , setelah ditinggal pergi oleh suaminya yang kawin di tempat lain Beliau bermaksud memberikan bayinya kepada karyawan di tempat kerjaku.

Karena tidak ada yang sanggup memelihara bayi yang masih merah itu, akhirnya dengan izin Allah istriku menyanggupinya untuk memelihara bayi tersebut. Jadi pada tahun itu kami dianugerahi Allah 2 bayi, 8 Januari anak laki-laki kami beri nama “Muhammad Ihsan”, Ihsan artinya kebaikan. Dan pada tanggal 21 Agustus Istriku melahirkan bayi perempuan yang kuberi nama “Nurul Kamilah” ( Cahaya kesempurnaan).

Begitulah kekuasaan Allah. Pada tahun 2002 kami harus merelakan kepergian Wildan yang diambil kembali oleh Allah. Lima tahun kemudian Allah mengganti dengan 2 bayi sekaligus, Muhammad Ihsan dan Nurul Kamilah.

Ya Allah Aku bersyukur atas segala nikmat dan karunia Mu, Maha Suci Engkau dan Segala puji bagiMu.
Walhamdu lillahi rabbil ‘alamin………………..