free hit counters
 

Hikmah Menjaga Niat dalam Amal

doa11Oleh : Ibnu Anwar

Mungkin setiap orang dari kita akan merinding ketika membaca sebuah riwayat hadits yang menyebutkan tentang bahaya sebuah kesalahan dalam niat beramal, di mana segenap usaha yang tampak begitu baik ternyata justru berakibat keburukan pada akhirnya. Kita pasti bisa membayangkan betapa kecewa dan meruginya kita ketika amal yang kita usahakan selama di dunia ini ternyata hanya akan berbuah siksaan di akhirat. Namun demikianlah intisari dari sebuah riwayat hadits tersebut, yaitu bahwa ketika seseorang mati syahid dalam perjuangan di jalan Allah, atau mempelajari ilmu dan membaca al-Qur’an lalu mengajarkannya, atau bersedekah dengan harta bendanya, maka justru itu semua akan dapat menyeretnya ke dalam neraka jika ternyata amal-amal tersebut didorong oleh niat yang bukan karena Allah. Dan riwayat hadits yang disampaikan oleh Imam Muslim tersebut mungkin telah banyak dari kita yang mengetahuinya.

Dan tak bisa dipungkiri bahwa kita pun pasti sungguh takut jika amal kita selama ini justru akan berakibat demikian. Karena memang tiada seorang pun dari kita yang tahu persis apakah benar amal kebaikan yang sudah diusahakan telah diridhai oleh Allah atau tidak. Namun yang pasti, dalam hal ini kita semuanya memiliki satu persamaan, yaitu bahwa beramal baik ataupun tidak, kita sama-sama tidak tahu apakah kita nantinya akan selamat dari neraka ataukah justru masuk ke dalamnya. Kita benar-benar tidak pernah tahu tentang nasib kita kelak di akhirat. Dan mungkin jika riwayat hadits tersebut benar-benar menjadi panduan satu-satunya yang kita pegang erat, tanpa mempertimbangkan riwayat-riwayat hadits lainnya atau ayat-ayat al-Qur’an terkait, maka tampaknya rasa takut kita pun akan membebani langkah kita ketika kita hendak menuju sebuah kebaikan amal semacam itu, hingga mungkin memaksa kita untuk memilih diam dari amal-amal tersebut demi keselamatan, daripada melaksanakannya namun justru dapat melahirkan resiko yang sangat berat berupa siksaan di akhirat.

Oleh karena itulah, dalam memahami sebuah dalil tentang sebuah permasalahan, kita mungkin perlu mengumpulkan dalil-dalil terkait lainnya, sehingga kita akan terbantu untuk mencapai kesimpulan yang lebih utuh. Karena biasanya di sana terdapat dalil yang akan tampak menahan ketika dalil yang lain justru tampak melepas. Dan ketika kita hanya mengambil dalil yang tampak menahan saja, maka kita pun akan selalu merasa tertahan, begitu juga sebaliknya, jika kita hanya mengambil dalil yang tampak melepas saja, maka kita pun akan bisa berbuat terlalu lepas seakan tiada batasan atau aturan, hingga keduanya pun akan sama-sama menyebabkan kerugian. Dan semua itu tampaknya selalu berkaitan dengan ketetapan Allah berupa kaidah tarik-ulur, sebagaimana kaidah pergantian dan pertukaran, ataupun kaidah berpasang-pasangan. Di sana ada perintah agar hamba-Nya berlomba-lomba dalam kebaikan atau agar beramal lebih baik dari orang lain, namun ada juga larangan merendahkan orang lain. Di sana ada dalil yang menyebutkan bahwa nasib suatu kaum tidak akan berubah sebelum kaum itu sendiri berusaha untuk merubahnya, namun juga ada dalil lain yang menjelaskan bahwa nasib semua makhluq ternyata telah ditulis dan ditentukan sebelum mereka diciptakan. Ada kepastian taqdir yang harus diimani dengan sepenuhnya, namun ada perintah untuk tetap berikhtiar.

Dan di sana ada keadaan di mana semuanya tampak diliputi kegelapan, namun kemudian ada pertukaran, di mana malam berubah menjadi siang. Ada keadaan lemah yang berganti dengan keadaan kuat, dan sebaliknya. Ada kesulitan ada kemudahan, ada laki-laki ada perempuan, ada kiri ada kanan, keburukan dan kebaikan, neraka dan surga, dan seterusnya. Semua kaidah tersebut adalah rancangan utuh yang telah dikehendaki oleh Allah dengan ketentuan ukuran, waktu dan tempatnya masing-masing, agar kita yang mempelajari rancangan tersebut dapat mengingat kekuasaan-Nya serta segera berserah diri kepada-Nya. Dan dengan berserah diri kepada Allah, kita pun akan tidak ragu dalam memahami semua kaidah itu, tidak perlu terlalu bingung dalam pilihan, galau dalam kegelapan, putus asa dalam kesulitan, ataupun mengira tidak akan menemukan jawaban bagi sebuah permasalahan. Karena pada dasarnya, ummat Islam adalah ummat yang memiliki panduan hidup yang sangat sempurna. Tiada sesuatu pun yang terasa sulit kecuali Islam telah menyediakan kemudahan di dalamnya. Dan tiada sesuatu pun yang tampak menjadi penghalang kecuali Islam telah menyediakan jalan keluar darinya.

Dan dalam permasalahan niat dan amal sebagaimana yang telah diuraikan, ketika misalnya kita bermaksud melakukan suatu amal sebagaimana bentuk amal yang telah disebutkan, namun kita merasa terhalang oleh rasa takut akan kesalahan niat kita di dalam amal tersebut, maka kita akan mendapatkan solusinya dalam Islam berupa anjuran bertawakkal kepada Allah, yaitu menyerahkan segenap jiwa dan raga, niat dan amal, hanya kepada Allah semata. Karena ketika kita telah menyerahkan niat dan amal kita kepada-Nya, maka insyaa’Allaah Dia sendirilah yang akan menjaga niat dan amal kita tersebut, sehingga kita pun akan merasa nyaman dalam penjagaan-Nya. Dan karena berusaha membersihkan niat dengan hanya mengandalkan ‘kemampuan’ diri sendiri, sebenarnya merupakan awal kerapuhan bagi bangunan niat itu sendiri. Tawakkal adalah benteng bagi diri kita, yang karenanyalah setan musuh nyata kita pun akan sulit mengalahkan kita. Sedangkan menyandarkan penjagaan niat dan amal hanya kepada diri sendiri akan berarti menyandarkan sesuatu yang sangat penting dan besar justru kepada sesuatu yang lemah dan tak berdaya.

Di samping itu, Islam juga mengingatkan bahwa pada dasarnya kemampuan seorang hamba untuk meraih kejernihan niat dalam beramal pun sebenarnya hanyalah anugerah dari Allah semata, dan bukan dari hasil usahanya sendiri. Sehingga, dengan demikian kita pun akan tak perlu merasa terbebani secara berlebihan. Karena bagaimanapun juga kita hanya diperintahkan untuk berusaha semampu kita.

Oleh karena itu, dalam hal ini, kita mungkin juga perlu memperhatikan dalil-dalil terkait lainnya agar kita tidak terjebak dalam keraguan yang merugikan. Dan di sana terdapat sebuah riwayat hadits yang artinya berikut ini:

“Dari Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wasallam), bahwa beliau bersabda: ‘Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan (di akhirat) oleh amal perbuatannya.’ Seorang lelaki bertanya: ‘Engkau pun tidak, wahai Rasulullah?’ Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wasallam) menjawab: ‘Aku juga tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Akan tetapi, tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar.’” (H.R. Muslim)

Dari hadits tersebut, kita akan memahami bahwa kita pun sebenarnya tidak pantas untuk mengandalkan amal kebaikan kita sebagai jaminan untuk selamat dari neraka. Karena sesungguhnya penyebab utama yang menyelamatkan kita di akhirat adalah rahmat Allah, dan bukan amal kebaikan kita. Tentu amal kebaikan yang dimaksud di sini adalah amal kebaikan yang telah disertai niat yang benar pula. Namun demikian, riwayat tersebut telah menjelaskan bahwa yang memasukkan seorang hamba ke dalam surga ternyata bukanlah amal kebaikan yang telah disertai niat yang benar, melainkan rahmat Allah semata. Memang, di sana ada dalil yang menyebutkan bahwa Allah akan memasukkan hamba-Nya ke dalam surga dikarenakan amal kebaikannya, sebagaimana ayat-ayat al-Qur’an yang artinya berikut ini:

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” (An-Nahl: 32)

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai, dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang para Rasul Tuhan kami dengan membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepada kalian, disebabkan apa yang dahulu kalian kerjakan.” (Al-A’raf: 43)

Namun, sebenarnya hakikat dari amal kebaikan yang dimaksud dalam kedua ayat tersebut adalah bahwa amal kebaikan yang ada pun sebenarnya hanyalah bentuk rahmat Allah itu sendiri. Artinya, ketika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seorang hamba, yang mana dengan rahmat tersebut Dia memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari siksa neraka, maka Allah pun akan menjadikan hamba tersebut beramal kebaikan. Dan hal ini dapat diperjelas dengan ayat lain yang artinya berikut ini:

“Barang siapa yang dijauhkan adzab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.” (Al-An’am: 16)

Sehingga, dengan turut mempertimbangkan dalil-dalil tersebut, akhirnya kita pun akan merasa nyaman dan tidak ragu dalam beramal kebaikan sebagaimana bentuk amal kebaikan seperti yang telah disebutkan, yang mana kuncinya adalah bertawakkal kepada Allah. Dan kita akan semakin kuat meyakini bahwa hakikat kebersihan niat pun sebenarnya hanyalah pemberian dari Allah, ketika kita juga telah meyakini bahwa hakikat hidayah iman pada dasarnya hanyalah pemberian dari-Nya semata. Dan ini kita dapati dalilnya bahkan dalam ayat sebelumnya itu sendiri, yang artinya sebagaimana berikut:

“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Al-A’raf: 43)

Jadi, amal kebaikan dan hidayah iman pun sebenarnya hanyalah tanda-tanda kekuasaan dan rahmat Allah semata, dan bukan tanda-tanda kekuasaan seorang hamba itu sendiri. Allah juga berfirman dalam ayat-ayat lainnya sebagai penjelasan tentang hal tersebut.

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah.” (Yunus: 100)

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibrahim: 4)

Ini berarti bahwa setelah segala ikhtiar yang ditempuh oleh manusia untuk dapat meraih hidayah iman, ternyata pada akhirnya semua itu hanyalah akan terwujud jika memang Allah telah berkehendak untuk mewujudkannya. Seperti ketika Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wasallam) telah berusaha sekuat tenaga menyeru paman yang dicintainya agar memeluk Islam, namun setelah usaha beliau tampak tidak berhasil, akhirnya Allah pun menjelaskan bahwa sebenarnya kemampuan memberikan hidayah bukanlah milik manusia, melainkan milik Allah semata. Demikian juga halnya dengan sebuah pencapaian atau keberhasilan, yang mana pada akhirnya harus kita akui sebagai anugerah dari Allah semata.

Sehingga dengan keyakinan yang seperti itu, kita pun akan mudah merasa menyesal ketika mungkin pernah sempat merendahkan orang lain hanya karena pencapaian yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita, seperti misalnya ketika kita dianugerahi kesempatan untuk belajar atau menuntut ilmu, namun ternyata lebih banyak kita gunakan untuk mendebat atau menghina mereka yang masih membutuhkan tambahan ilmu. Padahal, semestinya sebuah ilmu haruslah kita gunakan untuk mengangkat beban orang lain, dan bukan justru untuk mencela atau menambah beban mereka. Memang merupakan kewajaran ketika kita sempat tanpa sadar berbuat yang demikian itu, dan itulah sifat alami kita sebagai manusia biasa, namun tentunya dengan meyakini bahwa pencapaian ilmu apapun sebenarnya juga hanyalah anugerah, maka kita pun akan merasa malu jika telah tanpa sadar berbuat yang demikian itu. Karena sebenarnya memanfaatkan ilmu untuk hal seperti itu adalah mungkin di antara bentuk kesalahan dalam niat menuntut ilmu.

Oleh karena itu, kembali kepada usaha menjaga niat dan amal, mungkin sebelum beramal seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri tentang maksud dan tujuan dari amal yang akan kita lakukan, apakah sudah benar ataukah ada yang salah, apakah dapat mendatangkan manfaat ataukah justru merugikan, dan seterusnya. Dan mungkin, jika kita merasa sulit untuk menjaga niat dan amal dari kemungkinan yang tidak baik, sebaiknya kita terlebih dahulu menghadirkan kesadaran akan kekuasaan Allah sebagai Penjaga segala sesuatu, yang tentunya juga pasti akan sangat berkuasa untuk menjaga niat dan amal kita. Kita bisa mengakui di hadapan Allah bahwa kita sendiri pun tidak sanggup untuk menjaga niat dan amal kita dari hal-hal yang dapat mencemarinya, lalu memohon kepada-Nya agar kita dianugerahi penjagaan terbaik atas niat dan amal kita tersebut. Sebagaimana kita juga bisa mengakui di hadapan-Nya bahwa kita pun tak sanggup untuk menjaga diri kita dari hal-hal yang tak diridhai-Nya, seperti merasa aman dengan dosa ketika hanya berdua dengan-Nya, merasa bersih dengan menutup kemungkinan taubat bagi mereka yang berdosa, melupakan kesalahan dan aib diri sendiri, dan seterusnya. Kita bisa mengakui bahwa kita pun tak sanggup melakukan itu semua sendiri, sambil memohon agar Allah menolong kita dengan rahmat-Nya.

Namun, bukan berarti yang demikian itu akan sama dengan meminta Allah melakukan sesuatu yang sebenarnya justru diperintahkan oleh-Nya untuk kita lakukan sendiri. Bukan demikian. Tak lain hal itu adalah bentuk keberserahan diri kita kepada-Nya, sebagaimana ketika kita sedang menempuh sebuah usaha, yang mana kedua tangan kita tetap bergantung kepada hukum sebab-akibat, namun hati kita harus benar-benar lebih kuat bergantung kepada Allah, agar ketika genggaman tangan kita terlepas dan kita tampak terjatuh, maka Allah akan tetap menopang jiwa kita agar tetap bertahan, dan agar segala keberhasilan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita melalui usaha tersebut tidak sampai memalingkan kita dari-Nya. Di sinilah mungkin maksud dari bergantung kepada Allah, yang mana tidak akan pernah melahirkan kekecewaan, namun justru menjadikan segala macam keadaan sebagai kebaikan, dan juga akan dapat memudahkan kita untuk menghindari perasaan serta sikap berbangga diri atau ‘ujub, karena pada hakikatnya semua keberhasilan pun sebenarnya bukanlah hasil jerih payah kita sendiri, melainkan hanyalah rahmat dari Allah semata.

Namun bagaimanapun juga, demi menjauhi kesalahfahaman dalam memaknai hakikat tawakkal, yang mana beralasan bahwa semuanya hanyalah dari Allah, namun lantas justru menyebabkan kita lebih cenderung meremehkan peringatan dari-Nya, maka kita tetap harus berusaha sendiri dalam menjaga niat dan amal kita, yang salah satunya adalah dengan cara mengurangi hal-hal yang potensi buruknya lebih besar dari potensi baiknya. Dan tentunya potensi-potensi yang dimaksud pun juga akan berbeda dan beragam sesuai karakter masing-masing individu. Semuanya akan perlu menyesuaikan dengan karakter hati dan jiwa masing-masing. Tentunya karakter jiwa seorang Utsman tak bisa dipaksakan kepada mereka yang berjiwa seperti Umar (radhiyallaahu ‘anhumaa), atau sebaliknya, dan seterusnya. Selama setiap jiwa menempuh kebaikan sesuai karakternya masing-masing, maka sebenarnya tiada lagi yang perlu dipermasalahkan. Yang perlu dipermasalahkan adalah ketika jiwa tersebut menempuh keburukan.

Sehingga, dari beberapa keterangan tentang perkara niat dan amal sebagaimana yang telah diuraikan, kita akan mendapati penghayatan hakikat sebuah amal secara berbeda meskipun mungkin sama-sama dibenarkan. Misalnya ketika setelah beramal kita lantas berdoa agar amal kebaikan kita diterima oleh Allah, yang tentu berbeda dengan ketika kita berdoa justru untuk mengungkapkan rasa syukur karena telah dianugerahi amal kebaikan tersebut. Doa yang pertama adalah bentuk melaksanakan perintah Allah agar kita memohon ridha-Nya dalam beramal, sedangkan doa yang kedua adalah bentuk keyakinan yang lebih mendalam bahwa amal kebaikan kita pun sebenarnya hanyalah anugerah dari-Nya semata, dan bukan hasil dari jerih payah diri sendiri yang sebenarnya lemah dan tak berdaya apapun, sehingga kita pun berdoa dengan ungkapan syukur. Dan kita juga bisa saja menggabungkan kedua doa tersebut secara bersama-sama, yaitu dengan berdoa mengungkapkan rasa syukur atas anugerah Allah berupa amal kebaikan, lalu kemudian berdoa agar amal kebaikan tersebut diterima oleh-Nya. Semuanya adalah sama-sama bentuk ketaatan dan ketundukan terhadap perintah-Nya. Dan hanya Allah sajalah yang lebih mengetahui hakikat semua itu.

Demikianlah mungkin bentuk usaha dalam menjaga niat dan amal kita, agar kita tidak ragu dalam beramal kebaikan ataupun dalam menyampaikan kebenaran yang telah kita ketahui. Kita hanyalah sama-sama manusia biasa yang tidak pernah tahu apa yang akan Allah tentukan untuk masa depan kita di dunia maupun di akhirat. Namun kita diharuskan tetap beramal kebaikan sesuai kecenderungan dan kenyamanan hati kita masing-masing. Allah tidak mensyaratkan seorang budak agar menjadi seorang tuan terlebih dahulu untuk dapat mengamalkan kebaikan. Dan kita yang awam pun tidak diharuskan menjadi ulama terlebih dahulu untuk dapat mengamalkan kebaikan yang telah kita ketahui. Memang dalam hal tertentu, kita tidak boleh asal beramal tanpa ilmu, melainkan harus bertanya kepada ahlinya atau ulamanya agar kita tidak tersesat dalam amal tersebut. Namun tentunya di sana telah banyak ilmu kebaikan sederhana yang telah kita ketahui, yang terkadang justru kita abaikan hanya karena kita menginginkan ilmu yang lebih tinggi dari itu. Misalnya kebaikan sederhana berupa menjauhi hal-hal yang buruk, seperti banyak berprasangka dan menebarkannya, menuduh isi hati orang lain lalu mengumumkannya tanpa bukti, menjuluki sesama orang beriman dengan julukan yang tak diridhai Allah, dan seterusnya, yang mana menjauhi semua perkara itu tentunya adalah kebaikan yang telah kita ketahui bersama, tanpa harus kita tanyakan lagi kepada ulama atau mengharuskan kita untuk menjadi ulama terlebih dahulu untuk dapat melaksanakannya. Namun bagaimanapun, itulah kelemahan kita sebagai manusia biasa. Masing-masing dari kita pasti memiliki sifat lengah, yang karena itulah kita diharuskan untuk saling mengingatkan. Semuanya memiliki kekurangan yang justru agar diisi dan dilengkapi oleh kelebihan orang lain. Tiada manusia yang suci dari kesalahan, dan tiada manusia yang selalu benar. Karena itulah Allah berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzariyat: 55)

Dan sebagai ummat Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wasallam), kita diharuskan bersabar dalam mengamalkan kebaikan serta menyampaikan kebenaran yang kita ketahui dari beliau, semampu kita, sesuai keterbatasan kita. Karena beliau sendiri yang sudah nyata kebenaran dan nasibnya pun masih saja dituduh ini dan itu, apalagi kita yang belum pasti selalu benar dan belum jelas pula nasibnya di akhirat kelak. Dan beramal kebaikan yang bermanfaat saja pun belum tentu diridhai oleh Allah, apalagi berbuat yang tidak baik. Bagaimanapun juga, manusia hanya bisa menyangka, dan prasangka tak pernah merubah kebenaran sedikitpun. Kalaupun sesuatu itu salah, disangka benar oleh seluruh manusia pun juga akan tetap salah. Kalaupun sesuatu itu benar, disangka salah pun juga tidak akan merubah apapun. Kebenaran hanyalah milik Allah, dan bukan milik kita. Oleh karena itu, jika kita menginginkan kebenaran, maka kita harus kembali kepada Allah melalui firman-Nya, dan juga Rasul-Nya melalui sunnah beliau.

Dan pada dasarnya, kecenderungan merasa benar dalam Islam itu dibolehkan dan bahkan diharuskan jika memang landasannya adalah dua sumber kebenaran tersebut, dan justru akan menjadi aneh jika kita malah tidak merasa benar di saat kita mengamalkan kebenaran yang ada di dalamnya. Yang salah adalah ketika kita merasa benar ketika landasan yang kita gunakan telah jelas menyelisihi atau bertentangan dengan dua sumber kebenaran tersebut. Dan yang tidak dibolehkan adalah merasa ‘selalu benar’ atau ‘paling benar’ dalam menyimpulkan perkara yang sifatnya masih memuat banyak kemungkinan, yang mana bisa jadi benar dalam ukuran keterbatasan kita, namun ternyata ada yang lebih benar lagi dalam ukuran tertentu lainnya, atau bahkan bisa jadi semuanya sama-sama benarnya sesuai keadaan masing-masing, selama semuanya memiliki dalil yang sama-sama kuatnya, seperti misalnya perkara cukupnya satu adzan saja atau bolehnya dua adzan dalam hal shalat Jum’at, atau perkara lain yang semacam itu. Dan inilah mungkin salah satu hal yang mendorong para imam madzhab untuk tidak sepenuhnya merasa ‘selalu benar’ atau ‘paling benar’ dalam hal yang sifatnya ijtihad, karena mereka menyadari adanya keterbatasan pada diri masing-masing serta menyadari adanya kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa jadi belum mereka ketahui, sehingga bisa jadi kesimpulan ijtihad mereka hanya benar dalam lingkup masing-masing, namun bisa jadi kurang tepat jika diterapkan dalam lingkup lainnya. Intinya adalah kesesuaian medan yang mereka tempuh dengan ketentuan dasar yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Dan untuk kita ummat yang awam, kita juga memiliki ruang ‘ijtihad’ tersendiri, yaitu ‘berijtihad’ dengan cara memilih di antara pendapat para mujtahid tersebut berdasarkan kebenaran, bukan untuk semata-mata membenarkan sesuatu demi kemudahan atau peremehan perintah. Intinya, kita harus memilih berdasarkan niat ketaatan terhadap apa yang dikandung oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, sesuai dengan keterbatasan ilmu kita masing-masing. Karena kita pun bukan penghafal al-Qur’an, bukan pula penghafal ribuan hadits, kecuali mereka yang memang demikian adanya. Dan kita bukanlah ulama, melainkan hanya ummat yang sedang belajar dan mencari kebenaran. Dan pada hakikatnya, selama sebuah perbedaan yang sifatnya ijtihad masih berada dalam naungan dua sumber kebenaran tersebut, dengan dalil yang misalnya sama-sama tak terbantahkan, maka masing-masing yang memiliki pandangan yang berbeda pun akan mungkin tetap berada dalam kebenaran, insyaa’Allaah. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui.

Berbeda dengan perkara yang sifatnya telah jelas kebenarannya dan tidak memuat kemungkinan-kemungkinan yang lain, seperti misalnya shalat yang harus didahului dengan wudhu, ataupun yang semacamnya, maka dalam hal ini kita justru dilarang untuk tidak merasa benar dalam meyakininya. Begitu juga dengan perkara yang sifatnya telah jelas kebatilannya, seperti pendapat yang menyebutkan bahwa pluralisme agama itu dibenarkan dalam Islam, maka dalam hal ini kita justru diwajibkan merasa benar dengan menyalahkan pendapat tersebut, meskipun yang menyampaikannya adalah tokoh panutan sebagian ummat Islam sekalipun, karena bagaimanapun juga, sebenarnya kita bukan mengikuti tokoh berdasarkan kepribadiannya, melainkan berdasarkan kesesuaiannya dengan aturan Islam. Karena mengikuti tokoh berdasarkan kepribadian atau latar belakang golongan hanya akan melahirkan fanatisme yang bukan pada tempatnya. Fanatisme yang benar hanyalah fanatisme terhadap kebenaran berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan terhadap orang yang benar. Karena seseorang yang benar dalam suatu hal bisa jadi akan salah dalam suatu hal yang lain. Dan sikap fanatik yang bukan pada tempatnya biasanya akan memaksa kita untuk selalu membenarkan pendapat seseorang meskipun ketika pendapatnya terbukti salah. Atau sebaliknya, kita akan mati-matian menolak pendapatnya meskipun pendapatnya terbukti benar. Maka dari itu, kita seharusnyalah menempatkan kebenaran di muka segala sesuatu, dan bukan di belakangnya, agar kita tidak menolak kebenaran hanya karena ia tertutup oleh sesuatu yang mungkin kita benci, atau bahkan membenarkan sesuatu yang salah hanya karena berlatar belakang sesuatu yang kita sukai.



Demikianlah. Dan bagaimanapun juga, sebuah pencapaian kebenaran pun pada akhirnya harus juga kita akui sebagai anugerah dari Allah semata, dan bukan hasil jerih payah kita sendiri. Kemampuan untuk tidak menyimpang, tidak berbuat jahat, tidak sombong, tidak mendengki, dan segala bentuk kemampuan untuk menghindar dari keburukan, pada hakikatnya hanyalah pemberian dari Allah semata. Kita memang tetap diharuskan berikhtiar sesuai keadaan dan keterbatasan kita masing-masing, namun keyakinan dasar yang harus selalu kita pegang adalah bahwa segala jenis pencapaian kebaikan ataupun keselamatan dari keburukan pada dasarnya hanyalah atas kehendak dan izin Allah semata.

Semoga Allah segera meluruskan jika terdapat kesimpulan yang salah dalam tulisan ini. Dan semoga Allah menganugerahi kita niat yang benar dan amal kebaikan, dan dikaruniai penjagaan terbaik atas keduanya, serta meridhai niat dan amal kebaikan tersebut. Aamiin. Hanya milik Allah sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

 

Wallaahu a’lam.

Tafsir Hadits Terbaru