free hit counters
 

Mukaddimah Fi Zhilal Quran (4)

Al-Haq (Kebenaran) dalam Manhaj Allah merupakan dasar bangunan semesta ini. Ia bukan ada sekonyong-konyong dan tidak pula secara kebetulan tanpa maksud. Sesungguhnya Allah itu adalah al-Haq. Semua yang ada di jagad raya ini keberadaannya bersumber dari keberadaan-Nya.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Al-Hajj : 62)

Sesungguhnya Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan haq dan tidak tercampur sedikitpun dengan bathil (kebatilan).

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى

Tidakkah mereka memikirkan dalam diri mereka bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di atntara keduanya kecuali dengan haq dan batas yang sudah ditentukan… (QS Ar-Rum : 8)

Sebab itu, al-Haq adalah pilar alam semesta. Bila menyimpang darinya, maka alam ini akan rusak dan hancur.

َلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

Sekiranya al-haq itu mengikuti hawa nafsu (kemauan) mereka, niscaya rusaklah langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya… (QS Al-Mukminun : 71).

Sebab itu, al-Haq itu harus menang dan al-Bathil itu harus lenyap. Kendati fenomena yang nampak bukan seperti itu, namun endingnya akan terlihat dengan jelas.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang al-Haq kepada al-Bathil, lalu yang al-Haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang al-Bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). (QS Al-Anbiya’ : 18)

Sesungguhnya kemabali kepada Allah – sebagaimana nampak saat hidup di bawah naungan Al-Qur’an – hanya satu konsepsi dan satu jalan…. Tidak ada yang lain…. Itulah kembali secara total dalam hidup ini berdasarkan manhaj Allah yang dititahkan-Nya untuk manusia sesuai apa yang tercantum dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an). Menjadikan Al-Kitab ini sebagai dasar dan sumber hukum mereka dalam kehidupan ini. Berhukum kepadanya saja dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Jika tidak, keruskan yang akan terjadi di muka bumi – seperti yang kita saksikan saat ini-, celaka bagi manusia, terbenam dalam lembah kehinaan dan terjebak mengikuti Jahiliyah yang menyembah hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)

Maka jika mereka tidak menjawab (seruanmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS Al-Qashash : 50)

Sesungguhnya berhukum pada manhaj Allah yang ada dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) bukanlah perkara sunnah atau tathowwu’ (suka rela) dan tidak pula sebagai pilihan. Melainkan perkara beriman atau tidak beriman.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab : 36)

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (18) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (19) هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (20)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang orang yang tidak mengetahui () Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. ()Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS Al-Jatsiyah : 18 – 20 )

Nah, masalahnya amat serius… Ia pada dasarnya adalah masalah akidah… Kemudian baru masalah kebahagiaan dan kesengsaraan manusia…

Sesungguhnya manusia ini ciptaan Allah. Tidak mungkin terbuka kunci-kuci fitrahnya kecuali dengan anak-anak kunci yang yang diciptakan Allah pula. Tidak mungkin dapat mengobati penyakit-penyakitnya kecuali melalui obat yang diciptakan Tangan-Nya. Allah menciptakan kunci-kunci itu hanya dalam manhaj-Nya yang akan membuka setiap gembok dan obat bagi setiap penyakit.

Sesungguhnya di sana ada segolongan manusia yang suka menyesatkan dan menipu. Mereka adalah musuh kemanusiaan. Mereka meletakkan manhaj Allah di atas daun timbangan dan hasil-hasil penemuan manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang satu lagi. Kemudian mereka berkata : Pilihan… Pilihan… Pilih manhaj Allah dalam hidup ini dan tinggalkan semua yang diciptakan tangan manusia dalam dunia materi. Atau ambil semua buah pengetahuan manusia dalam dunia materi dan tinggalkan manhaj Allah..

Ini adalah tipuan yang amat kotor dan menjijikkan… Letak perkaranya sama sekali bukanlah seperti itu. Manhaj Allah itu tidak pernah memusuhi hasil karya manusia. Akan tetapi, Manhaj Allah itu adalah sumber karya dan penemuan itu dan mengarahkannya ke arah benar. Yang demikian itu agar manusia bangkit sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini.

Itulah maqam (kedudukan) yang amat mulia yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Maqam tersebut merupakan power (kekuatan) yang tersimpan sebagai kompensasi atas kewajiban yang dibebankan pada mereka. Lalu Allah berikan kemampuan kepada manusia untuk menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi ini melalui sistem yang ditentukan-Nya sehingga manusia mampu merealisasikannya. Di samping itu, Allah juga mensingkronkan antara penciptaan manusia dengan penciptaan alam semesta agar mereka mendaptkan hak hidup, bekerja dan berkarya, dengan landasan bahwa karya tersebut mesti dalam rangka ibdah kepada Allah, sebagai sarana syukur mereka terhadap nikmat yang melimpah dari-Nya dan terikat pula dengan akad kekhalifahan mereka di atas bumi. Di antara isi akad tersebut ialah, bahwa manusia bekerja dan berkarya harus dalam frame ridha Allah.

Adapun mereka yang menaruh manhaj Allah di atas daun timbangan dan karya manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang lain, mereka sebenarnya memiliki niat jahat karena mereka sendiri orang-orang jahat yang berupaya selalu mengusir mansusia yang sedang letih dan bingung setelah capek dari terlunta-lunta, kebingungan dan kesesatan. Padahal jiwa mereka sebenarnya merindukan untuk mendengar suara Penasehat Tunggal (Allah), kembali dari tersesat yang mebahayakan dan mendaptkan ketenagan pangkuan Allah.

Sementara di sana ada lagi sekelompok lain yang kekurangan mereka bukan pada niat, akan tetapi merka kurang memiliki pengetahuan yang syamil (konprehensive) dan pemahaman yang mendalam. Mereka terperangah melihat apa yang dicapai oleh manusia dari penemuan-penemuan kekuatan dan sistem-sistem alam semesta ciptaan Allah. Mereka kagum sekali menyaksikan keberhasilan-keberhasilan manusia dalam dunia materi. Kekaguman itu telah membuat dalam diri mereka pemisahan antara kekuatan alam dan kekatan nilai keimanan, efektifitasnya dan pengaruhnya dalam fakta alam dan realitas kehidupan. Lalu mereka menjadikan sistem-sistem alam ini menjadi satu bagian dan nilai-nilai keimanan menjadi bagian lain. Mereka menduga bahwa sistem alam ini berjalan di jalannya tanpa terpengaruh oleh nilai-nilai keimanan. Hasilnya akan sama bagi manusia beriman atau kafir. Apakah mereka mengikuti manhaj Allah atau melanggarnya. Apakah mereka berhukum pada syariat Allah atau dengan syari’at hawa nafsu mansia…

Pendapat seperti itu adalah dugaan belaka, karena memisahkan antara dua sistem Allah yang pada hakekatnya tidaklah terpiasah. Nilai-nilai keiman itu juga bagian dari sistem Allah seperti halnya sistem-ssitem yang ada dalam alam semesta. Hasilnya juga saling terikat. Dan tidak ada alasan memisahkan antara keduanya dalam perasaan dan konsepsi seorang Mukmin.

Inilah konsepsi yang benar yang dibangun Al-Qur’an dalam diri Anda saat Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Al-Qur’an membangunnya saat bicara tentang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang hidup di masa lampau, penyimpangan mereka dan pengaruh penyimpangan tersebut pada akhir perjalanan mereka.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (66)

Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga surga yang penuh kenikmatan.() Dansekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan . Dan alangkah buruknya apa yang dkierjakan oleh kebanyakan mereka.(QS Al-Maidah : 65 – 66)

AL-Qur’an membangun konsepsi itu saat bicara tentang janji Nabi Nuh pada kumnya.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا () يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا () وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ()

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun -,() niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,() dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalam-nya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10 – 12)

Al-Qur’an membangun konsepsi tersebut saat bicara tentang adanya ikatan antara realitas jiwa manusia dengan realitas di luar diri mereka yang Allah ciptakan bagi mereka.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubah (kelemahan) yang ada dalam diri mereka sendiri.. (QS Ar-Ra’d : 11)

Sesungguhnya iman kepada Allah, ibadah kepada-Nya dengan istiqamah, menerapkan syari’at-Nya di atas bumi ini… semuanya merupakan realisasi sistem-sitem Allah. Sistem-sitem yang memiliki efektifitas positif yang mucul dari sumber yang sama dengan istem kauni yang kita lihat pengaruhnya melaluai perasaan/pengalaman dan laboratarium.

Sesungguhnya syari’at Allah merupakan bagian dari sistem Allah secara keseluruhan yang ada dalam alam semesta ini. Menerapkan syari’at tersebut pasti memberikan pengaruh positif dalam perjalan alam dan kehidupan manusia. Syaria’ tersebut merupakan buah dari iman yang tidak mungkin berdiri sendiri tampa dasar/pokoknya yang amat besar. Sebab itu, syari’at Allah diciptakan untuk diterapkan dalam amsyarakat Islam, sebagaiman ia juga diciptakan untuuk berperan dalam membangun masyarakat Islami. Syariat tersebut juga sempurna bersama konsepsi Islam terhadap alam semesta dan terhadap manusia. Apa yang dibangun oleh konsep tersebut ialah taqwa dalam hati, bersih dalam perasaan, fokkus kepada hal-hal besar, ketingian akhlak, konsistensi dalam prilaku. Dan begitulah seterusnya nampak jelas kesmpurnaan dan keselarasan antara sistem-sitem Allah, bersamaan apa yang kita namakan dengan hukum alam dengan apa yang kita namakan dengan nilai-nilai keimanan. Semuanya merupakan bagian dari sunnatullah (sistem Allah) yang konprehensive bagi alam semesta ini.



Manusia juga sebuah kekuatan dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam semesta. Amalnya, kehendaknya, imannya, kebaikannya, ibadahnya dan aktivitsnya semuanya merupakan kekuatan yang memiliki pengaruh positif di alam ini dan terkait dengan sunnatullah yang ada di alam ini secara keseluruhan. Semuanya bekerja secara serasi. Ia akan memeberikan buah secara sempurna bilamana kekuatan-kekuatan itu berhimpun dan harmonis. Demiakian juga akan melahirkan pengaruh negatif, mengalami kegoncangan dan merusak kehidupan serta menyebarkan kesakitan di antara manusia ketika berbagai kekuatan itu tercerai berai dan saling bertabrakan.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Anfal : 53)
Maka ikatan antara perbutan manusia dengan perasaannya dan atara peristiwa-peristiwa yang terjadi sangatlah kuat dalam sistem Allah yang syamil. Sebab itu, tidak ada inspirasi pemisahan ikatan ini. Tidak pula ada seruan untuk membuatnya tidak harmonis dan tidak ada juga batas antara manusia dan sunnatullah yang berlaku kecuali musuh manusia yang menjauhkannya dari petunjuk (hudan). Hal seperti itu pantas disingkirakan dari jalan menuju Rab (Tuhan Pencipta) yang Maha Mulia.

Inilah sebaigian lintasan pikiran dan perasaan yang lahir dari masa hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Semoga Allah memberinya manfaat (bagi pemca) dan memberinya petunjuk. Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali jika Allah menghendakinya.

Tafsir Fi Zhilalil Qur'an Terbaru