Kepemimpinan Kaum Muda

Sepuluh tahun reformasi memang memberikan warna tersendiri untuk para mantan aktivis pemuda dan mahasiswa. Saat ini, sebagian mereka sudah menjadi pejabat. Ada yang di eksekutif, legislatif, dan beberapa pos lain yang cukup strategis.

Di DPR, misalnya: ada Fahri Hamzah, Rama Pratama, Mustafa Kamal, Andi Rahmat, dan lain-lain. Di kabinet ada Adyaksa Dault, Lukman Edi, dan lain-lain. Begitu pun di jajaran gubernur dan bupati/walikota. Bahkan di pemilu 2009 nanti, tidak kurang dari 200 aktivis mahasiswa 98 masuk bursa caleg jadi di sejumlah partai. Kalau ini berhasil, anggota legislatif pasca pemilu nanti akan diisi oleh banyak politikus muda berusia di bawah 35 tahun.

Dukungan dari beberapa pihak pun bermunculan. Di antaranya dari Direktur Lingkaran Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti. Menurutnya, harapan untuk memperbaiki kondisi negara dengan sekelumit permasalahannya ini kandas jika pemimpin berikutnya tidak punya daya imajinasi. Indonesia pun tidak akan berubah. Akan tetapi, lanjut Ray, imajinasi radikal-lah yang dapat membuat perubahan.

"Dan hanya anak muda yang memiliki semangat yang radikal. Kebutuhan pemuda sebagai pemimpin sangat signifikan," kata Ray. (Detiknews, 16/7/2008).

Begitu pun dengan Mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshidiqqie. Jimly mengatakan, jika banyak dari aktivis 98 terpilih menjadi anggota dewan, itu merupakan proses yang baik bagi regenerasi.

Namun, Jimly mengingatkan, bahwa menjadi pejabat akan sangat berbeda nuansanya dengan menjadi aktivis. Menurutnya, saat menjadi aktivis, rasa idealisme akan tinggi. Namun, kalau sudah memiliki jabatan, integritas itu sulit dijaga. (Kompas.com/27 Agustus 98)

Senada dengan Jimly, mantan aktivis KAMMI angkatan 98, M Najib pun mengungkapkan kekhawatirannya. Aktivis yang saat ini mengambil program S3 di University of Tokyo mencatat. Bahwa, kepemimpinan kaum muda di DPR dan eksekutif saat ini dianggap rakyat begitu asyik dengan akrobat politiknya dan melupakan kepentingan rakyat. Tidak heran jika akhirnya rakyat akan menganggap bahwa kaum muda hanya bisa berteori, kenyataan di lapangan lain. (eramuslim/23 Nopember 2008)

Sudah siapkah sebenarnya kaum muda saat ini memimpin? Pagar apa saja yang mesti mereka pegang agar kelak tidak mengecewakan rakyat?