Rekayasa Pembusukan Kekuatan Islam

Era reformasi yang sudah hampir tiga belas tahun, ternyata belum menjadi momen yang efektif untuk kebangkitan Islam di Indonesia. Satu per satu kekuatan-kekuatan politik yang merupakan metamorfosis dari ormas-ormas Islam kian hari bukan memperlihatkan kemajuan, justru mulai mengalami pembusukan.

Awalnya, masyarakat pernah berharap banyak ketika partai-partai Islam atau yang berbasis ormas Islam bergabung dalam satu kekuatan yang bernama poros tengah. Tapi, kekuatan itu kian terpreteli menjadi kekuatan-kekuatan kecil. Bahkan, kekuatan kecil itu pun mengalami perpecahan hingga tak bisa lagi dianggap sebagai sebuah kekuatan.

Kini, semua kekuatan politik Islam itu justru malah ‘berlindung’ di balik kekuatan partai sekuler bernama Demokrat. Jangankan berani berhadap-hadapan dengan kekuatan politik sekuler demi membela kepentingan umat Islam, dianggap sebagai oposisi saja kian tak punya nyali. Anehnya, hal itu bisa dikemas dengan bungkusan ‘demi kepentingan dakwah Islam’.

Bandingkan dengan kekuatan ‘kiri’ yang sebelumnya sebagai serpihan kekuatan politik. Kini, mereka mulai menyatu dalam parpol-parpol besar. Siapa yang tak kenal Ulil Absar yang sudah menjadi simbol Islam Liberal, kini sudah menjadi petinggi partai penguasa. Begitu pun dengan Budiman Sudjatmiko dan beberapa aktivis muda yang pernah disebut sebagai kebangkitan ‘kiri’ baru, kini sudah menjadi petinggi di beberapa partai besar.

Gerakan Islam yang sebelumnya menjadi kekuatan alternatif pembela aspirasi umat pun kian hari mengalami pembonsaian. Ada yang mengalami perpecahan dan pembusukan. Bahkan, ada yang ‘terjebak’ sebagai gerakan jahat yang bernama teroris gaya baru. Di titik ini, Islam dipoles oleh mereka yang sangat membenci Islam sebagai wajah yang menyeramkan.

Begitu pun dengan kehidupan sosial budaya. Umat Islam tiba-tiba kehilangan figur yang cocok menjadi teladan mereka. Akibatnya, terjadi kesenjangan yang terus menganga antara kehidupan generasi muda Islam dengan tuntunan hidup Islam yang semestinya.

Publik pun dikejutkan ketika beberapa lembaga survei merilis dahsyatnya kebobrokan pergaulan muda-mudi di kalangan pelajar dan mahasiswa. Dari sekitar tiga ribu responden di beberapa kota besar, survei bahkan menunjukkan kalau lebih dari 60 persen, mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami isteri.

Negeri muslim yang kaya raya dengan sumber daya alam ini, bisa dibilang, sedang berada di ujung tanduk terjadinya degradasi jatidiri keislaman.
**
Redaksi mengucapkan terima kasih atas komentar dan saran pembaca budiman di edisi Dialog sebelumnya. Semoga bermanfaat untuk kita semua.