10 Alasan APEC Harus Ditolak

apecOleh : Kang Udo*

Seperti yang telah kita ketahui, agenda KTT APEC tahun 2013 diselenggarakan di Bali dari 1-8 Oktober, dengan mengusung tema “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth (Asia Pasifik yang Tangguh sebagai Mesin Pertumbuhan Global)” dengan tiga agenda  prioritas: Pertama, attaining the Bogor Goals yaitu perluasan perdagangan dan investasi, serta reformasi struktural. Kedua, sustainable Growth with Equity, dengan fokus pada daya saing global UKM, inklusi finansial, ketahanan pangan dan kesehatan. Ketiga, promoting connectivity dengan fokus pada isu konektifitas fisik termasuk pengembangan dan investasi infrastruktur dan konektifitas kelautan, konektifitas institusional dan konektifitas antar orang. Dengan Inti dari misi APEC yang akan dicapai adalah mengarah pada  mewujudkan secara penuh liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik.

Sampai disini kita bertanya, benarkah APEC dengan agenda yang dibawanya benar-benar bertujuan untuk menumbuhkan Ekonomi dalam negeri dalam arti yang sebenarnya, yakni meningkatnya taraf hidup rakyat dan melindungi pelaku usaha dalam negeri  (Indonesia)? atau malah menempatkan posisi Indonesia pada posisi rawan dimana yang dimaksud adalah rawan dimanfaatkan dan dieksploitasi ? Mari kita lihat, fakta dan kenyataan riil ternyata sungguh berbeda, yang pasti keterlibatan Indonesia dalam kancah APEC bukan untung tapi malah buntung.

Ada Sepuluh Alasan mengapa APEC harus ditolak :

1) Diselenggarakannya APEC semakin mengokohkan cengkraman  ideology Kapitalisme dimana APEC merupakan forum para pebisnis/konglomerat dengan memanfaatkan dukungan Negara. Sebanyak 1200 orang CEO perusahaan internasional mensponsori dan bertemu dalam APEC Bali, meminta dukungan dari negara untuk memperluas ekspansi bisnis mereka, namun mendesak negara untuk mencabut subsidi dan menghilangkan perlindungan bagi rakyatnya.

2) APEC adalah jalan bagi dominasi Negara Imperialis terhadap negera berkembang. Melalui APEC disepakati persaingan bebas antara kekuatan ekonomi yang tidak berimbang. Akibatnya APEC menjadi jalan bagi penghisapan negara imperialis terhadap negara berkembang.

3)  APEC disponsori lembaga keuangan internasional yakni Internasional Monetary Fund (IMF), Bank Dunia (WB), Asian Development Bank (ADB). Melalui APEC lembaga keuangan internasional tersebut menjerat negara-negara miskin dengan utang. Dengan demikian Negara yang terjerat akan mudah dikendalikan kebijakannya baik dari segi ekonomi maupun politik.

4) APEC membawa agenda perdagangan bebas yakni penghapusan bea masuk, penghapusan perlindungan ekonomi domestik lainnya seperti kuota dan subsidi. Akibatnya negara-negara miskin menjadi sasaran impor pangan, produk pertanian, impor minyak dan produk industri negara-negara maju. Negara miskin dihisap dan dijerat dalam ketergantungan yang akut.

5) APEC membawa agenda liberalisasi investasi, mendorong negara untuk membuka semua sektor bagi modal asing untuk menguasai perusahaan di sebuah negara secara mayoritas. Melalui APEC perusahaan multinasional akan semakin leluasa menguasai sumber strategis seperti Sumber Daya Alam, barang publik, penguasaan infrastuktur melalui Public Private Partnership (PPP). Suatu strategi penguasaan infrastruktur dan hal yang berkenaan dengan hajat hidup orang banyak oleh pihak swasta asing dan rakyat dipaksa membayar sangat mahal.

6) APEC membawa hidden agenda bagi Amerika terhadap Indonesia yakni perpanjangan kontrak PT Freeport selama 40 tahun kedepan. Jelas bila agenda ini mulus maka akan memperpanjang penderitaan rakyat khususnya rakyat Papua, sekaligus menegaskan penjajahan Amerika terhadap Indonesia.

7) Ketergantungan Indonesia terhadap pangan impor semakin besar, ini disebabkan  diwajibkannya Liberalisasi Perdagangan yang mengharuskan tarif impor berbagai komoditas diturunkan bahkan di nol kan,konsekuensinya produk impor masuk dengan deras membanjiri pasar dalam negeri. Sementara disisi lain subsidi kepada Petani lokal harus dikurangi atau dicabut, efeknya hasil produk petani lokal tidak bisa bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Tidak heran bila Indonesia akan sulit mencapai swasembada pangan dan rentan terjadi krisis seperti kasus krisis kedelai beberapa waktu lalu. Para Petani pun dalam 10 tahun terakhir banyak yang berhenti bertani, tercatat sampai tahun 2013 sebanyak 5,04 juta petani memutuskan beralih profesi karena sektor pertanian sudah dirasa tidak menjanjikan.

8) Mengancam kelangsungan Usaha kecil menengah akibat persaingan usaha yang tidak berimbang, ini berimplikasi semakin sempitnya lapangan kerja karena perusahaan lokal banyak yang gulung tikar dan tutup akibat tidak kuat menghadapi persaingan usaha. Menurut data BPS Jumlah Perusahaan Dalam Negeri  Indonesia  yang mengalami kebangkrutan dan tutup dari tahun 2006-2010 diantaranya  1.036 jumlah perusahaan makanan dan minuman; 308 perusahaan tembakau; 224 perusahaan tekstil; 545 perusahaan kayu, barang dari kayu dan anyaman; 434 perusahaan Penerbitan, Percetakan dan Reproduksi; 1.288 perusahaan pakaian jadi bangkrut  dan tutup. Dan secara total dalam data tersebut ada sebanyak 6.123 bermacam perusahaan telah bangkrut dan tutup. Lenyapnya 6.123 perusahaan, termasuk di antaranya perusahaan padat karya seperti tembakau, makanan dan minuman, tekstil, pakaian jadi, dsb, tentu mengakibatkan puluhan atau ratusan ribu bahkan jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan berikutnya keluarga mereka jutaan bahkan puluhan juta orang juga mengalami kesulitan hidup.

9)APEC mewajibkan Liberalisasi investasi dimana pintu investasi asing dibuka selebar-lebarnya, kepemilikan asing atas usaha di dalam negeri dan bidang usaha untuk investasi asing tidak boleh dibatasi. Dan pemerintah terbukti mengeluarkan Perpres 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal, hampir seluruh sektor ekonomi seperti pertanian, pertambangan, migas, keuangan dan perbankkan boleh dikuasai oleh modal asing secara mayoritas bahkan hingga 95 %. Akibatnya banyak sektor perekonomian di Negara ini dikuasai Asing. Bahkan banyak perusahaan dalam negeri akhirnya dikuasai asing.

Sebagian besar kebutuhan hidup di negeri ini dikuasai asing. Mulai air minum dalam kemasan dari Pure Life Nestle perusahaan Swiss dan Aqua yang dikuasai Danone Perancis; kecap Cap Bango dan Teh Sariwangi dimiliki Unilever Inggris; Susu SGM milik Sari Husada 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda; sabun Lux, Pepsodent dan aneka shampo dikuasai Unilever, Inggris. Beras impor dari Thailand dan Vietnam, gula impor dari Meksiko dan India. Motor/mobil dari perusahaan Jepang, Cina, India, Eropa atau Amerika. Segala macam peralatan elektronik, komputer, ponsel buatan perusahaan Jepang, Korea, atau Cina. Operator telepon mayoritas dikuasai asing baik Indosat, XL, Telkomsel. Belanja? Carrefour punya Perancis, Alfamart 75% sahamnya punya Carrefour; Giant dan Hero dikuasai Dairy Farm International, Circle K dari Amerika dan Lotte dari Korsel. Beberapa Bank (BCA, Danamon, BII, dan Bank Niaga) sudah milik asing meski namanya masih Indonesia. Pabrik Semen: Tiga Roda Indocement milik Heidelberg, Jerman (61,70%), Semen Gresik milik Cemex Meksiko dan Semen Cibinong milik Holcim (Swiss). (bulletin Al-Islam :674)

 

10) Melihat fakta dan agenda yang sebenarnya tentang APEC, sudah sewajibnya kita menolak dan alasan syar’i inilah alasan utama kita menolak, Allah Subhanahu waTaála berfirman :

dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang yang beriman..”(TQS an-Nisa’ [4]: 141)

Bukti nyata adanya jalan penguasaan asing atas kaum muslimin adalah diwajibkannya negeri Muslim menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi, perdagangan dan investasi yang diusung langsung oleh forum APEC. Semua anggotanya harus mengikuti dan memenuhi semua yang digariskan dalam forum APEC yang tentu lebih ditentukan oleh negara maju. Maka secara langsung APEC adalah jalan penguasaan asing atas negeri ini khususnya di bidang ekonomi.

 

Wallahu’alam

Karyawan Swasta – Tinggal di Garut, Jawa Barat