free hit counters
 

Indonesia-Malaysia Duduklah Bersama!

Ali Mustofa – Rabu, 21 Ramadhan 1431 H / 1 September 2010 11:14 WIB

Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Dua bangsa satu rumpun Melayu yang keduanya sama-sama negeri Muslim ini seringkali mengalami kerenggangan hubungan. Kali ini permasalahan disulut karena penangkapan petugas DKP oleh kepolisan diraja Malaysia beberapa waktu lalu, kemudian terungkapnya data ancaman hukuman mati terhadap 345 WNI di Malaysia. Juga perselisihan batas wilayah yang tidak kunjung selesai.

Tak pelak hal ini membuat berang sebagian masyarakat Indonesia. Bahkan kemarin sampai ada yang menggelar aksi demo dengan melempar Tinja ke kedubes Malaysia. Ada pula yang menyatakan dukungan untuk menyatakan perang terhadap malaysia dengan semboyan "ganyang Malingsia".

Sementara itu pihak malaysia melalui Menlu Malaysia Datuk Seri Anifah, mengancam akan mengeluarkan travel advisory (saran perjalanan yang mengimbau warganya tidak terbang ke Indonesia). Mediamedia Malaysia membeberkan kalau pemerintah di sana mulai kehabisan kesabaran terkait aksi demontrasi di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.

Tidak sedikit terdengar selentingan-selentingan warga yang menghujat dan ingin sekali “adu jotos” dengan negara yang berbahasa melayu itu. Tari pendet, angklung, keris, reog Ponorogo, kain batik, lagu kebangsaan sampai masalah kedaulatan ambalat adalah juga sebagai pemicu perseteruan kedua negara selama ini.

Muslim adalah saudara

Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Malaysia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Allah SWT mengisyaratkan bahwa setiap mukmin adalah saudara, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat" [QS. Al-Hujurat: 10]

Walaupun realitasnya kita hidup bersuku-suku maupun berbangsa-bangsa, berbeda bahasa dan warna kulit, tidak dibenarkan untuk saling mengunggulkan, bahkan saling berperang satu dengan yang lainnya atas dasar ashabiyah. Karena yang membedakan antara kita hanyalah Iman dan taqwanya, bukan ras, suku, bangsa atau yang lainnya. Allah SWT telah memperingatkan:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." [Al-Hujurat : 13]

Rasulullah SAW juga melarang keras sikap ashabiyah (Nasionalisme dan tribalisme) seperti itu, sebagaimana yang tercermin dalam sabdanya: “Bukan termasuk Ummatku orang yang m engajak pada Ashabiyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang berperang atas dasar Ashabiyah,dan bukan termasuk ummatku orang yang mati atas dasar Ashabiyah.“(HR.Abu Dawud).

Duduk Bersama

Penyelesaian dengan cara duduk bersama antara kedua belah pihak untuk mencari solusi tanpa harus menggunakan bahasa kekerasan adalah jalan terbaik. Apalagi kedua negara sama-sama mempunyai kepentingan ekonomi, salah satunya adalah ratusan ribu TKI yang tengah mengadu nasib di Malaysia. Begitu pun Malaysia terhadap Indonesia yang juga membutuhkan TKI. Maka dapat dipastikan kerugian besar akan terjadi jika perang tidak terhindarkan.

Konflik yang berkepanjangan selama ini perlu juga untuk di cermati. Penting dicatat, sejarahnya Malaysia murupakan negara persemakmuran Inggris, sedangkan Indonesia dengan tidak usah ada “tedeng aling-aling” memang merupakan negara “ekor Amerika”. Jangan biarkan negara-negara barat tersebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan sebagai legalitas mereka untuk melakukan intervensi melalui Dewan PBB dengan dalih sebagai daerah konflik.

Jangan masuk kelubang buaya untuk kedua kali, Menurut sejahrawan, Operasi Dwikora Pada 1964 (penyerangan di semenanjung malaya) adalah kebodohan dan keangkuhan para Sultan di Malaysia dan Bung Karno. Mereka termakan oleh provokasi Amerika dan sekutunya. Gara-gara operasi itu, kedua negara jadi bergantung pada mereka terutama secara militer dan ekonomi. Alhasil, Pada akhirnya Malaysia dan Indonesia harus mengalami penjajahan gaya baru karena sikap tidak saling menghargai antara saudara serumpun.

Karena itu, stoplah sikap saling mengklaim dan juga bentuk-bentuk ketidak adilan lainnya. Jangan terjebak pada konfrontasi. Sebagai contoh, untuk masalah TKI, apabila terbukti bersalah memang sudah sepantasnya dihukum,yang perlu dilakukan oleh pemerintah RI adalah bagaimana meningkatkan kwalitas TKI dengan pembinaan dan pengawasan yang lebih baik. Begitu pula dengan oknum dari Malaysia, apabila bersalah juga harus di adili . Dinginkan suasana, hati-hati dengan provokasi.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian saksi yang adil karena Allah. Dan janganlah kebencian kamu terhadap satu kaum menyebabkan kamu berbuat tidak adil. Berbuat adillah, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kalian sesungguhnya Allah itu Maha Tahu dengan apa yang kalian lakukan.” (Al-Maidah: 8)

Waspadalah, musuh-musuh Islam akan bertepuk tangan atas segala perseteruan yang terjadi. Kita harus waspada dengan politik "devide et impera" yang dilancarkan oleh pihak lain. Mereka sadar betul jika Islam bersatu, maka Islam akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa baik secara geopolitik maupun secara geoekonomi. Itu berarti penjajahan mereka akan berakhir.

Sudah semestinya Indonesi dan Malaysia bersahabat. Bersatu dalam ikatan akidah Islam. Dalam naungan Khilafah, menjadi negara besar, kuat, bermartabat dan yang terpenting mendapatkan ridho-Nya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Ali Mustofa
Pemred Majalah Bengawan Rise

([email protected])

Suara Pembaca Terbaru

blog comments powered by Disqus