Kegagalan Ekonomi Kapitalisme

kapitalisOleh : Muhammad Dahrum, M. Pd

            Sistem ekonomi kapitalis telah hadir dalam kurun waktu cukup panjang untuk merealisasikan ideologinya. Namun, mendapati tangan berlumur dosa karena gagal dalam meujudkan keadilan bagi umat manusia. Kapitalisme menjadikan mekanisme pasar bebas sebagai solusi dalam menyelesaikan persoalan, termasuk dalam penguasaan sumber daya. Siapa yang memiliki capital dialah yang memiliki banyak kesempatan. Kesempatan mengusai sumberdaya secara bebas, menjadi raksasa baru yang berbahaya bagi ummat manusia.

Sama halnya dengan sistem ekonomi sosialis yang juga menuai kegagalan. Sosialisme ekonomi memiliki ide dasar menghapus sistem kepemilikan individu, untuk selanjutnya secara penuh dikuasai oleh Negara. Kerancuan dan kemalasan bagi masyarakat untuk berkarya itulah imbasnya. Ditengah kondisi kesejahteraan yang terseok, ekonomi Islam merupakan harapan untuk kembali diterapkan. Ekonomi Islam memberikan jaminan keadilan yang mengakui kepemilikan individu. Namun, tidak berarti membiarkannya secara bebas menguasai sumber daya vital bagi kelangsungan hidup manusia.

 

Kerusakan Ekonomi Kapitalis

Sampai hari ini ekonomi kapitalisme masih mendominasi seantero bumi dengan segala kekurangannya. Kondisi renta yang tertatih untuk bertahan dari terpaan spekulasi sektor non riil (virtuall sector) sebagai basis perekonomian, siap mengancam kapan saja. Krisis terjadi secara berulang begitu nyata, walaupun bisa diredam krisis akan datang lagi dengan waktu yang lebih pendek dan lebih keras hantamannya.

Ekonomi kapitalisme yang berpatokan pada mekanisme pasar bebas dengan tangan tak kentaranya (invisible hand), memberikan kebebasan pada setiap orang dalam menguasai sumber daya. Dalam mengatur perekonomian, terbukti menimbulkan kesenjangan karena modal yang akhirnya menjadi penentu keberhasilan. Masyarakat seolah terbelah menjadi dua, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin papa. Itulah potret perekonomian yang tampak saat ini dengan kemiskinan dimana-mana.

Problem kemiskinan termasuk salah satu persoalan utama. Meskipun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bertambah tiap tahun, tapi tidak menjamin terujudnya kesejahteraan yang nyata. Jika menganut standar kemiskinan versi Bank Dunia, maka jumlah penduduk miskin di Indonesia pada 2013 mencapai 97,9 juta jiwa. Atau setara dengan 40 persen. (Republika, 23/6/2013). Jumlah yang sangat besar dan lebih dari cukup sebagai bukti terjadinya kesenjangan dan kegagalan ekonomi.

Paradigma ekonomi kapitalis menitikberatkan pada sektor produksi. Jika produk nasional secara agregat meningkat, maka meningkat pula kesejahteraan. Karena jumlah barang dan jasa telah tersedia di pasar bagi kebutuhan masyarakat berdasarkan kuantitas semata. Dengan begitu, setiap orang dibiarkan bebas memperoleh kekayaan sejumlah yang ia mampu sesuai dengan faktor-faktor produksi yang dimiliki, baik pemuasan itu dirasakan oleh semua individu ataupun sebagiannya saja. Tugas pemerintah dianggap telah selesai jika stok kebutuhan telah tersedia di pasar, apakah rakyat tidak ‘mampu’ membeli bukan menjadi soal.

Salah satu contohnya kenaikan harga daging akibat jumlahnya berkurang di pasaran. Maka, langkah praktis yang diambil oleh pemerintah dalam menetralisir harga biasanya dengan menambah jumlah persedian melalui impor. Begitu juga dengan komoditi lainnya, walaupun potensi alam sangat mendukung. Produk sederhana, seperti cabe, bawang dan garam masih sangat tergantung dengan Negara luar.

Sistem ekonomi kapitalisme didasarkan pada azas kebebasan. Kebebasan kepemilikan terhadap harta, kebebasan pengelolaan harta, dan kebebasan konsumsi. Azas kebebasan ini tidaklah layak, karena melanggar nilai moral dan spritual. Bisnis minuman memabukkan ataupun prostitusi misalnya dianggap legal selama menguntungkan, karena jelas bertentangan dengan nilai agama dan merusak intitusi keluarga. Termasuk penguasaan terhadap SDA strategis oleh sebagian kecil kelompok kaya telah mengorbankan sebagian besar masyarakat. Lahirnya manusia-manusia rakus yang menjadikan materi sebagai standar nilai dalam kehidupan. Mahalnya sumber energi dan biaya hidup yang tinggi merupakan kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang mestinya bisa mensejahterakan.

 

Sekilas Ekonomi Islam

Dalam sistem ekonomi Islam kelangkaan bukanlah merupakan persoalan utama, persoalan utamanya adalah pada distribusi. Disinilah letak perbedaan ekonomi Islam dalam memandang permasalahan. Jika ekonomi sosialis dan kapitalis berdasarkan akal manusia yang serba terbatas, maka ekonomi Islam dibangun  berdasarkan wahyu ilahi sebagai azasnya. Bukan dari segi manfaat atau tidak. Bisnis yang diperbolehkan dalam sistem sosialis/kapitalis, dianggap ilegal jika bertentangan dengan hukum Islam.

Persoalan apa, bagaimana dan untuk siapa barang tersebut diproduksi, bukan menjadi prioritas utama pembahasan. Dengan kata lain sistem ekonomi Islam tidak secara khusus menyelesaikan problem kelangkaan. Solusi dalam masalah produksi cukup diserahkan pada akal manusia bagaimana cara meujudkannya.

Akal manusia memiliki kemampuan untuk melakukan budi daya tanaman, cara untuk beternak, cara untuk melakukan reboisasi dan segala bentuk upaya produksi lainnya. Termasuk juga bagaimana cara melakukan perhitungan dalam proses produksi secara efektif dan efesien. Berbeda dengan perintah melaksanakan shalat dan membayar zakat, bagaimana tata caranya tentu tidak bisa diberikan pada akal manusia, karena dalil yang mendasarinya telah mengatur secara rinci. Dengan demikian wajib bagi manusia untuk terikat dengan tata cara yang telah menjadi ketetapan dalil tersebut dan tidak boleh mengikuti berdasarkan akal  sendiri.

Fakta di dalam kehidupan menunjukkan bahwa tidak semua barang dan jasa yang diproduksi manusia untuk dikonsumsi sendiri. Fakta juga menunjukkan bahwa , sebagian besar barang dan jasa yang diproduksi manusia adalah untuk kepentingan dan kebutuhan manusia lain. Seperti petani yang menanam padi atau produsen baju yang menghasilkan baju, sebagian besarnya diperuntukkan bagi manusia lain. Hanya sedikit saja yang digunakan untuk konsumsi.

Aktivitas ekonomi yang paling besar sebenarnya di dominasi oleh transaksi. Transaksi tersebut dapat berupa jual beli, barter, sewa menyewa, pinjaman, hutang, memberi dan meminta. Transaksi inilah yang sebenarnya paling banyak menimbulkan problem ekonomi dibanding masalah produksi. Berbagai sumber konflik, baik berupa kezaliman, keserakahan, penyimpangan, penindasan dan ketidakadilan lainnya, hampir seluruhnya bersumber dari masalah tersebut. sedangkan persoalan produksi tidak menimbulkan problem sama sekali. Fakta dilapangan justru produksi barang dan jasa melimpah, tapi tidak terdistribusi secara adil dan merata di tengah masyarakat.

Kesejahteraan dalam pandangan Islam tidak dinilai dari terpenuhinya materi saja tapi juga spiritual, terpeliharanya nilai-nilai moral dan terujudnya keharmonisan sosial. Karena itu suatu masyarakat dikatakan sejahtera jika terpenuhi kebutuhan pokok individu rakyat, baik berupa pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatannya. Serta terjaga dan terlindunginya agama, harta, jiwa, akal dan kehormatan. Sehingga sistem ekonomi yang berkeadilan sangat terkait dengan sistem hukum, politik, sosial dan budaya. Masih banyak manusia yang hidup serba kekurangan, bahkan untuk mendapatkan sesuap nasi harus bersusah payah. Kenyataan itu terlihat jelas bahwa kesulitan mendapatkan makanan bukanlah karena kelangkaan, bukan pula berkurangnya barang, namun karena buruknya distribusi di tengah masyarakat. inilah tantangan sebenarnya dalam ekonomi Islam.

Problem distribusi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, apabila prosesnya diberikan sesuai kehendak akal manusia. Karena keadilan menurut akal manusia sangatlah relative. Tidak ada kata adil yang bersifat pasti, tergantung kepentingan dan sering kali menimbulkan perselisihan. Bagaimana pendistribusian yang adil tidak dapat diserahkan kepada akal manusia. Pendistribusian yang adil tanpa diskriminasi dapat diujudkan dengan konsep aturan Islam. Jika tidak, maka persoalan membagi warisan saja akan terjadi perdebatan.[]

*PNS Pemkab. Aceh Barat Daya.

Email:[email protected]