Renungan Diri Di Awal Tahun Baru Hijriyah

muharamProf. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni

Associate Professor of Islamic Philosophy

Ketua Jurusan Akidah dan Agama

Universiti Sains Islam Malaysia

 

Menghargai, bukan menghina orang
Mengangkat, bukan menjatuhkan orang
Memberikan manfaat, bukan memanfaatkan orang

Kesehatan adalah modal paling utama dalam hidup ini, kita mampu melakukan sesuatu dan berbagai macam aktifitas, karena kita memiliki suatu nikmat yang paling besar yaitu nikmat kesehatan. Namun terkadang manusia baru merasakan betapa pentingnya kesehatan tatkala kesehatan bermasalah, menurun atau hilang dari dirinya. Seseorang baru merasakan pentingnya keberadaan telinga kalau sudah tuli. Seseseorang baru merasakan peranan gigi dan betapa indahnya gigi itu kalau sudah ompong. Seseseorang baru menginsafi tentang pentingnya rambut kalau sudah botak. Seseorang baru merasakan pentinganya warna hitam rambut manakala ia sudah menjadi putih. Seseorang baru merasakan nikmatnya mata kalau ia diserang kebutaan. Secara ringlkasnya, sepanjang anggota badan ini lengkap dan berfungsi, dalam kondisi on dan tidak off, maka kita sering melupakan bahwa sebenarnya itu semua adalah nikmat dan anugerah Allah swt. 

Di dalam al-Qur’an telah dikatakan:     

   لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد

“Sepanjang hamba itu bersyukur, maka Aku akan menambahkan nikmat tersebut. Namun kalau ia ingkar tidak pandai mensyukurinya, maka niscaya azabKu amat pedih”, na’uzubillah min zalik.

Ini adalah janji Allah.

Begitulah kesehatan ini menjadi modal asas dan utama dalam kehidupan kita. Setiap pagi kita bangun dan terus pergi bekerja di fakulti yang kita cintai ini. Kemudian yang bekerja sebagai pensyarah akan masuk dalam kelas mengajar, dan yang bertugas di bagian pentadbiran akan mengurus apa saja yang menjadi tugasnya. Kesemuanya dapat berjalan lancar hanya karena satu factor, yaitu adanya modal kesehatan.

Lawan dari sehat adalah sakit. Manusia itu terdiri dari dua unsur atau dua elemen, yaitu jasmani dan rohani. Namun sayang seribu sayang, terkadang manusia hanya sibuk memperhatikan aspek zahiriyah yaitu jasmani. Dalam satu hari kita mandikan jasmani kita dua atau tiga kali, kemudian kita belikan pakaian, kita tutup badan kita dengan sempurna, kita belikan pakaian yang mahal-mahal, comel, cantik dan menawan hati siapa yang melihatnya, bukan hanya sampai disitu saja bahkan ditambah lagi dengan parfum dan wangi-wangian yang serba harum, ditambah dengan segala aksoseris yang nampak di mata, dengan tujuan semata-mata hanya untuk menutup dan memperindah pandangan orang terhadap luaran jasmani kita. Dan yang menjadi pertanyaan: pernahkah kita memikirkan keindahan rohani kita, pernahkah berpikir bagaimana mempercantik hati kita. Adakah ada saat-saat tertentu dalam kehidupan kita yang kita khususkan untuk memperelok batin dan jiwa kita? Kita hiasai hati dengan jiwa yang sabar, tawadhu’. Kita kosongkan hati kita dari berbagai sifat-sifat mazmumah yang dibenci dan dimurkai oleh Allah swt, seperti sikap sombong, bongkak, congkak, angkuh dan saudara-saudaranya. Kita kosongkan hati kita dari rasa dengki, hasud, iri hati dan saudara-saudaranya. Dan sebaliknya kita isi hati kita dengan sifat-sifat mahmudah atau yang sifat yang dipuji Allah, sikap lembut, sikap toleran, lapang dada dan sebagainya.

Begitu juga kalau kita berbicara tentang penyakit. Kita akan sibuk kalau kita diserang penyakit zahir, seperti sakit gigi, sakit kepala, dan penyakit lainnya. Kita tidak mungkin tinggal diam menghadapi penyakit zahir yang menimpa kita. Kita akan berobat ke dokter spesialis, tidak kisah walaupun beratus atau beri-ribu ringgit akan kita keluarkan.

Imam Ghazali membagi penyakit  kepada dua bagian, pertama penyakit zahir dan kedua penyakit batin atau rohani. Dan perbezaan antar dua penyakit ini adalah:

1) Penyakit zahir banyak pakarnya, penyakit cancer ada dokternya, penyakit jantung ada dokternya, bahkan penyakit kulitpun ada dokternya. Sedangkan penyakit batin atau rohani dokternya hanyalah agama dan kemauan yang kuat serta azam yang tinggi dari orang yang berpenyakit hati tersebut untuk mengobati dirinya. Oleh karena itu penyakit batin tidak mempunyai pakar dan tidak memiliki dokter. Pernahkah tuan-tuan dan puan-puan mendengar dokter pakar penyakit sombong, pakar dalam penyakit hasud, pakar dalam penyakit kedekut, dengki dan iri hati?. Dan kalau ada tolong sharing, sebab sayapun teringin tahu penyakit dalaman hati saya.  Jadi penawar bagi penyakit rohani adalah agama saja, yaitu melalui riyadhah atau pelatihan rohani yang ditawarkan oleh agama. Firman Allah: 

        ألا بذكر الله تطمئن القلوب

“Ingatlah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”

2)  Penyakit zahir dapat dideteksi dan dilacak oleh orang yang memiliki penyakit tesebut, contohnya orang yang yang sakit-gigi akan mengetahui kalau dirinya sedang sakit gigi. Orang yang sakit kepala akan tahu kalau dirinya sedang mengalami pening. Namun yang aneh kalau penyakit batin, bagi orang yang memiliki penyakit ini ia tidak merasa kalau dirinya berpenyakit rohani, dan justru orang lainlah yang mampu mendeteksi atau melihat bahwa orang tersebut memiliki penyakit sombong, iri hati, hasud, dengki, bakhil bin kikir. Oleh karena itu terkadang ada orang kerjanya setiap hari berusaha semaksimal mungkin dan bersusah payah mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain, padahal dia sendiri tidak terlepas dari sifat yang ia cari pada diri orang lain. Orang yang sombong akan menganggap kalau kesombongannya itu adalah sesuatu wajar dan biasa saja, orang yang kikir akan menganggap sifat ini biasa saja, dengan alasan inikan sikap penghematan. Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda:

             طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس

Oleh karena itu, sayyidina Umar bin Khattab ketika melakukan meeting atau perjumpaan sering bertanya kepada orang tentang dirinya: “wahai saudaraku kau lihat saya ini ada sifat sombong atau tidak? Saya ini kikir apa tidak? Apakah engkau melihat ada tanda-tanda iri hati, hasad dan dengki pada diri saya atau tidak ada? Seperti inilah perangai Umar bin Khattab yang selalu meminta rakan-rakannya untuk menilai hatinya dan perilakunya.

Kalau kita, jangankan bertanya dengan orang lain mengenai perangai kita, bahkan jika ada orang menilai kita sebagai orang yang sombong maka kita anggap penilaiannya itu sebagai suatu ajakan untuk berperang. Oleh karena khalifah Umar berkata:

“Manusia Yang Berakal Ialah Manusia Yang Suka Menerima Dan Meminta Nasihat Orang Lain”

3)    Kesan penyakit zahir hanya di dunia saja. Makanya kita kadang mendengar bahwa si fulan meningga dunial akibat terkena serangan jantung, darah tinggi, cancer, dll. Sedangkan di akhirat nanti penyakit zahir ini tidak ada kesannya. Maksudnya, penduduk neraka nanti kalau ditanya kenapa kamu masuk neraka, jawabannya tidak mungkin dia berkata oh saya masuk neraka karena saya berpenyakit cancer, darah tinggi, dan jantung.

Sedangkan kesan penyakit rohani akan merusak kehidupan dunia dan kehidupan akhirat seseorang. Dalam kehidupan dunia, orang yang memiliki sifat sombong bin angkuh, hasud, tukang menadu domba, pasti akan dikucilkan dari pergaulan sekeliling. Dan di akhirat tentu kesan penyakit hati ini akan jauh lebih dahsyat.  Neraka menanti, menunggu, dan meng-alu alukan kedatangannya. Betapa tidak, dalam hadits Nabi saw dikatakan:

 إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب

 “Berhati-hatilah kalian dengan sifat hasad. Sesungguhnya sifat hasad membinasakan semua kebaikan sebagaimana halnya api membinasakan kayu bakar”.

Iri hati seseorang kepada orang lain, menandakan ia ingin seperti orang tersebut, namun ia tidak mampu sepertinya, dan hakikatnya ia orang yang tidak mengakui adanya takdir ilahi. 

)         وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا(

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (an Nisa’: 32).

Untuk mengontrol dan mengobati penyakit hati di atas, maka ada baiknya mengamalkan sebuah nasehat dari seorang tokoh ulama sufi terkenal bernama Imam Yahya bin Mu’az ar-Razi, beliau wafat tahun 258 Hijriah, beliau sangat aktif memberikan nasehat-nasehat agama, pada kali ini beliau mengajarkan tentang cara bersosialisasi yang baik dan bijak antara sesama manusia, beliau mengatakan:

“لِيَكُنْ حَظ الْمُؤْمِنِ مِنْكَ ثَلاَثَة: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلاَ تَضُرُّهُ، وَإِنْ لَمْ تُفْرِحْهُ فَلاَ تَغُمُّهُ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلاَ تَذُمُّهُ”

“Tiga perkara dalam pergaulan seorang mu’min: Kalau engkau tidak sanggup membantu orang lain (bagi manfaat), maka janganlah merugikan dia, dan kalau engkau tidak sanggup menghibur orang lain (bagi senang), maka janganlah membuatkan dia sedih (susah), kalau engkau tidak sanggup memuji orang lain, maka janganlah mencelanya”.

Dari ucapan beliau di atas maka kita dapat menarik beberapa I’tibar dan pelajaran berharga, demi menjaga hubungan sosial sesama makhluk Allah, yaitu:

1.  MEMBERIKAN BANTUAN, adalah sifat tolong-menolong yang sudah menjadi sebuah kewajiban dan keharusan dalam agama, sebab manusia merupakan makhluk sosial, sebagai insan yang memerlukan khidmat orang lain, dalam hal ini, minimal tindakan yang perlu dilakukan kalau tidak mampu menolong, membantu dan bagi manfaat kepada orang lain, yaitu tidak merugikan  orang yang sepatutnya di tolong, firman Allah:

              وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

         “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (al-Maaidah, ayat: 2).    

2.  MEMBUAT ORANG SENANG, وَبَشِّرْ kata ini disebutkan 18 kali dalam al-Qur’an, kata tersebut bertujuan untuk menggalakan penyebaran berita gembira dan senang bagi orang mu’min dan sabar, kalaupun tidak dapat memberikan sebuah kabar, berita dan maklumat yang boleh menyenangkan hati orang, maka minimal janganlah membuat orang bersedih hati. Rasul pernah bersabda:

فَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَأَبْشِرُوْا

               “Bertindaklah secara sederhana, dan tetaplah berusaha serta sebarkan kegembiraan dan kesenangan di antara kamu”.

3.  MEMUJI ORANG, sudah menjadi tabi’at manusia ia lebih suka dipuji daripada dihina, Islam membolehkan pujian, namun tidak berlebihan, sebab ditakutkan orang yang dipuji akan lupa diri, sehingga menjadi sombong, dan akhirnya binasa, sabda Rasul Saw:

إِيَّاكُمْ وَالْمَدْحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ

       “Hindarilah sanjung-menyanjung karena hal itu merupakan penyembelihan (kebinasaan)”.

                 Karena agama sangat berhati-hati dalam pemberian pujian dan sanjungan, maka minimal perkara yang sangat penting untuk di hindari kalau tidak mampu memberikan sedikit sanjungan dan pujian, adalah tidak mencela dan menghina orang lain.

Inilah prinsip bersosialisasi dan berinteraksi yang diajarkan oleh agama, yang dibangun atas tiga sikap:

-Sikap menghargai, bukan menghina orang.

-Sikap mengangkat, bukan menjatuhkan orang.

-Sikap memberikan manfaat, bukan memanfaatkan orang.

 

Wallahu A’lam