"Buat Saya, Islam Ibarat Sebuah Karya Arsitektur yang Sempurna"

Kamis, 19/05/2011 17:44 WIB | Arsip | Cetak

Leopold Weiss, wartawan, penulis buku dan negarawan asal Austria, lahir di Livow (kota di Austria yang kemudian menjadi bagian dari Polandia) pada tahun 1900. Pada usia 22 tahun, ia sudah melakukan perjalanan ke Timur Tengah.

Setelah masuk Islam, Weiss yang kemudian menggunakan nama Islami Muhammad Asad, bekerja dan mengunjungi banyak negeri Muslim, mulai dari Afrika Utara sampai ke Afghanistan. Selama bertahun-tahun mempelajari Islam, dan akhirnya lebih dikenal sebagai salah seorang cendikiawan Muslim terkemuka di dunia internasional.

Ketika berdirinya negara Pakistan dideklarasikan, Muhammad Asad ditunjuk sebagai direktur Departemen Rekonstruksi Islam di Punjab Barat, lalu menjadi perwakilan bergilir untuk negara Pakistan di PBB. Ia juga menulis dua buku yang terkenal, berjudul "Islam at the Crossroads" dan "Road to Mecca", menerbitkan jurnal bulanan "Arafat" dan menyelesaikan terjemahan Al-Quran.

Perjalanan panjang Asad menuju Islam berawal pada tahun 1922. Pekerjaannya sebagai wartawan dengan jabatan koresponden khusus untuk sebuah koran terkemuka di Austria, menyebabkan ia harus meninggalkan tanah airnya dan pergi ke Afrika serta beberapa negara di Asia. Bisa dibilang, sebagian besar hidupnya dihabiskan di negari-negeri Muslim dan ia mulai tertarik mengamati kehidupan masyarakat di negeri-negeri Muslim itu.

"Saya melihat dengan mata kepala sendiri keteraturan dalam kehidupan sosial mereka, yang secara mendasar sangat jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Eropa; sejak pertama sekali saya berada di sana (negeri-negeri Muslim), rasa simpati saya tumbuh melihat kehidupan yang lebih tenang--di Eropa, kalau saya bilang, kehidupan manusianya seperti mesin," ujar Weiss.

Rasa simpati itu pelan-pelan mendorongnya untuk mencari tahu mengapa perbedaan kehidupan itu bisa terjadi, dan ia mulai tertarik dengan ajaran religius masyarakat Muslim. Meski demikian, Weiss belum berkeinginan untuk mengetahui Islam lebih dalam.

"Tapi saya akui, Islam telah membuka jalan pada saya terhadap sebuah kehidupan manusia yang lebih maju dan rasa persaudaraan yang sejati. Meski realitanya sekarang, kehidupan umat Islam terlihat sangat jauh dari ideal seperti yang terdapat dalam ajaran Islam," tukas Weiss.

Ia menyayangkan sikap sebagian umat Islam yang malas dan stagnan, padahal Islam mengajarkan umatnya untuk dinamis dan bergerak maju.Weiss juga mengkritik kalangan umat Islam yang mengejewantahkan sikap murah hati dan kerelaan untuk berkorban, dengan cara pandang yang sempit dan cenderung mencari cara hidup yang mudah.

"Saya akhirnya mengetahui bahwa satu-satunya alasan mengapa kehidupan sosial dan budaya masyarakat Muslim banyak mengalami kerusakan, karena mereka tidak sungguh-sungguh menghayati ajaran Islam. Islam masih hidup di kalangan umat Islam, tapi seperti tubuh tanpa jiwa," ujar Weiss.

Weiss banyak berdiskusi tentang kemunduran umat Islam ini dengan komunitasMuslim dari berbagai negara, mulai dari Libya sampai Pamir, mulai dari kawasan Bosphorus sampai kawasan Laut Arabia.

Pada satu titik, Weiss mempertanyakan lagi keputusannya memeluk Islam, apa sebenarnya yang membuatnya tertarik pada Islam. "Saya harus mengakui, saya tidak punya jawaban memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan itu," kata Weiss.

"Bukan bagian tertentu saja dalam Islam yang membuat saya tertarik pada agama ini. Tapi keseluruhan ajaran moral dan petunjuk kehidupan sehari-hari, yang menurut saya mengagumkan dan mudah diaplikasikan, yang membuat saya tertarik pada Islam ... Buat saya, Islam terlihat seperti sebuah karya arsitektur yang sempurna. Semua bagiannya sangat harmonis dan saling mendukung satu dengan lainnya," jelas Weiss. (ln/TJCI)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Dakwah Mancanegara

Terkait


Manajemen dan Disiplin

Ketika aku memasak dan mengiris bawang, aku berpikir bahwa seorang ibu harus punya thinking skill dan juga managerial skill, agar hal ini tidak membuat hari-harinya habis hanya untuk urusan rumah ta …

LKC Dompet Dhuafa Latih Kader Pos Sehat Ke-27

CIPUTAT – Sebanyak 15 orang Kader Pos Sehat Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat mendapatkan pelatihan persiapan pembukaan  Pos Sehat LKC dompet Dhuafa. Pelatihan ini sebaga…

ACT Kirim Tim Trauma Healing ke Aceh

          Gempa yang mengguncang Aceh memang berkekuatan besar, 8,5 skala Richter cukup untuk mengulang kisah kelam saat gempa berkekuatan sama memicu Tsunami 2004 silam. Ke…

Jangan ambil nyawaku…, sebelum berhasil mengambil air

Awalnya Musrifah, istri mantan Kepala Pusat Penelitian dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein, tidak percaya kalau ada sumber air di Gua Pego Dusun Tlogo Warak, Desa Giri Purwo, Kecama…

Pak Boih, ”Memperbaiki Hidup Melalui Program Misykat”

Skenario Allah swt memang selalu mengagumkan. Unik. Dan terkadang tidak pernah terpikir sedikitpun oleh kita. Melalui jalan yang sulit maupun yang mudah. Yang panjang maupun yang singkat. Selalu ada…


Penerapan Syariah dalam Bisnis Tidak Merugikan
Penerapan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis ternyata tidak merugikan. Hal ini dibahas dalam Sesi Panel keempat 2nd Bank Indonesia International Seminar on Islamic Finance, ...

Universitas Gunadarma Gelar Sharia Economic Forum
KULIAH INFORMAL EKONOMI SYARIAH 2012 Melihat tingginya permintaan SDM untuk bergabung dalam pesatnya pertumbuhan industri keuangan syariah, Sharia Economic Forum (SEF) UG bers...

N5M hadir di iB Expo Pekanbaru
Film Negeri 5 Menara hadir dalam iB Expo yang digelar oleh Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Film yang disponsori oleh iB Perbankan Syariah ini mendapat sambutan lu...

Siap-Siap iB Akan Hadir di IFRA 2012 Ini
Bank Indonesia bekerjasama dengan Panitia Expo IFRA 2012 kembali membuka iB Paviliun. Dimana akan hadir industri perbankan syariah untuk memberikan informasi mengenai produk-p...


Peluang