Abaikan Sistem Ekonomi Syariah, Indonesia Terkena Dampak Krisis Global

Kamis, 16/10/2008 05:47 WIB | Arsip | Cetak

Ketua Asbisindo (Asosiasi Bank-bank Syariah Indonesia) A. Riawan Amin mengatakan, krisis global yang berdampak bagi Indonesia itu terjadi karena selama ini cenderung menerapkan ekonomi konvensional, sehingga mengabaikan ekonomi syariah.

"Ini semua karena perjudian mata uang di pasar uang internasional. Kita harus jalankan ekonomi syariah,” tandasnya pada diskusi “Kapitalisme, Krisis Global dan Ekonomi Rakyat” di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (15/10).

Menurutnya, penegakkan sistem ekonomi syariah di Indonesia yang sudah dijalankan selama ini masih belum sempurna.

Riawan mengatakan, sejak krisis ekonomi yang pernah terjadi tahun 1997 hingga sekarang kekayaan bangsa Indonesia menurun 10 kali lipat. Pasalnya, karena uang rupiah telah berkurang nilainya terhadap dolar Amerika juga 10 kali lipat. “Jadi kita jangan jalankan itu (ekonomi konvesional),” ucap Dirut Bank Muamalat Indonesia ini.

Sementara itu, pengamat ekonomi Marzuki Usman, MA mengatakan, krisis ekonomi global yang berdampak tanah air dapat diatasi, apabila rakyat Indonesia memiliki ketrampilan dan kepandaian seperti rakyat Singapura. "Ini sunnatullah, siapa yang memberi ketrampilan dan kepandaian pada masyarakat negara pasti kaya," kata mantan Kepala Bapepam dan Menteri Kehutanan ini.

Marzuki mengatakan, pada ekonomi berbasis rakyat, mereka bisa eksis apabila memiliki tanah. Tapi kalau tidak punya maka mereka harus memiliki ketrampilan. “Tapi tidak semua untuk dibantu menjadi orang kaya, alias tidak semua warteg diubah jadi restoran,” ujarnya.

Terkait dengan kapitalisme, menurut dia konotasi kapitalis itu mulai menjadi jelek sejak masa Bung Karno. “Sehingga ada sebutan kapitalis itu sama dengan iblis, mari kita linggis. Padahal yang kita pakai sekarang banyak produk kapitalis,” ujarnya.

Mengenai krisis global berawal dari krisis ekonomi di Amerika Serikat, dimana negara itu mengalami defisit anggaran yang terus meningkat. Selain itu selama ini AS dibiayai modal dari berbagai negara sehinggga mempunyai utang sebesar 11,7 trilyun dolar AS itu.

"Kita jangan panik. Memang 60 persen saham kita milik investor asing, kalau cabut kita kehilangan sekitar 20 milyar dolar. Tapi saham asing itu bisa kita beli, dan kita berhemat," jelas Marzuki. (novel)

Lainnya (Arsip)

blog comments powered by Disqus

Berita Nasional

Terkait


Education Corner

Susah Sekolah, Susah Bangun, Mudah Tersinggung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu anak laki-laki saya sekolahnya senin-kamis, 2 hari sekolah terus gak masuk, terkadang rajin, namun tiba-tiba tanpa sebab tidak mau berangkat sekolah …


Badan Wakaf Al-Quran

Wajah Calon Ustadz itu Berseri Kembali

Wajah Umar Faruk (13 tahun) siswa kelas satu SMP Ponpes Panatagama, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berseri-seri dan tidak nampak murung lagi, setelah mendapatkan bantuan biaya pendidikan I…


Aksi Cepat Tanggap

Aksi Relawan Medis di Kampung Bandan

Kebakaran yang melanda kawasan pemukiman padat Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara sudah hampir sebulan berlalu. Namun, akibatnya masih dirasakan para korban.   Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersam…


Layanan Kesehatan Cuma-Cuma

LKC Bantu Korban Banjir Pandeglang

BANTEN – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa menurunkan tim aksi tanggap bencana (Sigab) terdiri dari tim medis dan penunjang untuk membantu korban banjir Pandeglang, Banten. Tim b…


BSM Kembali Menjadi Sponsor Tunggal IBF 2012
Bank Syariah Mandiri (BSM) yang baru saja mendapatkan predikat Bank Syariah Terpopuler versi Marketeers dan Markplus Insight, kembali memberikan komitmen dan dukungan penuh un...

BRI Syariah Raih Top Brand Bank Syariah
PT Bank BRI Syariah menerima penghargaan Top Brand dalam kategori Sharia Banking dari Majalah Marketing. Penerimaan penghargaan diwakili oleh Budi Wisakseno, Direktur Kepatuh...

BSM Menerima Trophy pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kiri) menerima trophy dari Chief Operating Officer MarkPlus Michael Hermawan, pada acara Indonesia Brand Champion Award 2012, di Jakar...

BSM mendapatkan 2 Penghargaan sekaligus
Direktur Bank Syariah Mandiri Sugiharto (kedua dari kanan) berbincang dengan Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono (kanan) berbincang bersama Michael  Hermawan (kedua dari k...


Peluang