Lima Pentolan Thaghut (1)

Ihsan Tandjung – Jumat, 18 Juli 2014 13:28 WIB

 

tagut1Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullah membahas tentang apa yang disebut dengan istilah thaghut di dalam tulisannya berjudul “Risalah Fi Makna At-Thaghut”. Tulisan tersebut sangat penting mengingat bahwa pesan abadi da’wah para Nabi dan para Rasul Allah ‘alaihimussalam ialah ajakan tauhid yang berisi keharusan untuk menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى semata dan menjauhi thaghut.

Jadi, ada dua sisi dari perkara fundamental ini. Di satu sisi ada keharusan untuk memfokuskan ibadah (pengabdian/penghambaan) kepada Allah سبحانه و تعالى semata, dan di lain sisi ada keharusan untuk menjauhi dan mengingkari segala bentuk thaghut. Ada kewajiban ber-wala (menyerahkan kesetiaan/loyalitas) kepada Allah سبحانه و تعالى dan ada kewajiban untuk ber-baro (melepaskan diri/disasiosiasi) dari segala macam dan bentuk thaghut.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl [16] : 36)

Dan tidak sah iman seorang muslim bila ia hanya sibuk menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى namun ia tidak bersedia menjauhi dan mengingkari thaghut. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim dikatakan ber-tauhid bilamana di satu sisi ia beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى namun di lain sisi ia mendekat bahkan bekerjasama dengan thaghut? Tidak sah imannya! Bukan tidak sempurna imannya, tetapi tidak sah.

Mengapa? Karena ibarat coin yang memiliki dua muka, tidak dapat dikatakan coin jika hanya terdiri dari satu muka saja. Demikian pula dengan iman tauhid seorang muslim. Tidak disebut tauhid jika hanya mengandung ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى sedangkan menjauhi dan mengingkari thaghut tidak ada. Hadirnya tauhid di dalam diri seseorang ialah ketika ia beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى dan ia menjauhi serta mengingkari berbagai jenis thaghut.

Masalahnya, dewasa ini banyak muslim yang tidak menjauhi dan mengingkari thaghut. Sebab bagaimana mereka dapat menjauhi dan mengingkari thaghut, sedangkan makna thaghut saja mereka tidak tahu? Di sinilah pentingnya kita mengkaji buku “Risalah Fi Makna At-Thaghut”. Karena di dalamnya kita dapatkan penjelasan cukup lengkap mengenai makna thaghut.

Sebagai mukaddimah penulis berkata:

“Sesungguhnya hal paling pertama yang Allah سبحانه و تعالى fardlukan atas anak Adam adalah kufur terhadap Thaghut dan Iman kepada Allah سبحانه و تعالى , dalilnya adalah firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan ) sembahlah Allah سبحانه و تعالى (saja) dan jauhilah Thaghut itu,” (QS. An-Nahl [16] : 36). Dan adapun tatacara kufur terhadap Thaghut itu adalah engkau meyakini batilnya beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى , engkau meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka itu.”

Lalu apakah yang dimaksud dengan thaghut? Penulis melanjutkan:

“Thaghut adalah umum mencakup segala sesuatu yang di sembah selain Allah, sedang dia itu rela dengan peribadatan tersebut, baik yang disembah, atau yang diikuti, atau yang ditaati dalam bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, ini adalah Thaghut.”

Oleh karenanya, thaghut-thaghut itu banyak sekali dan ada lima di antaranya yang merupakan thaghut utama alias pentolan thaghut:

  1. Syaitan yang selalu mengajak untuk beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى
  2. Pemerintah yang zalim yang merubah hukum-hukum Allah سبحانه و تعالى
  3. Orang yang memutuskan hukum dengan sesuatu yang bukan diturunkan Allah سبحانه و تعالى
  4. Orang yang mengklaim mengetahui hal yang Ghaib, padahal itu hak khusus Allah سبحانه و تعالى
  5. Segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه و تعالى , sedangkan dia rela dengan penyembahan tersebut.

Inilah lima pentolan thaghut. Setiap orang yang mengaku muslim wajib menjauhi dan mengingkari semua thaghut di atas. Jika tidak, berarti ia telah mengingkari ikrar keimanannya atau tauhid-nya. Dan sah-tidaknya iman seseorang bergantung kepada pengingkarannya kepada thaghut. Bila ia tidak mengingkari thaghut berarti imannya tidak sah. Walaupun ia rajin sholat, puasa di bulan Ramadhan, bersedekah dan berbagai amal kebaikan lainnya, namun bila ia mendekat apalagi bekerjasama dengan thaghut, berarti apa yang ia kerjakan tidak mendapat penilaian di sisi Allah سبحانه و تعالى .

Mengapa demikian? Karena orang yang tidak sah imannya alias tidak sah tauhidnya, berarti ia telah syirik. Sebab lawannya tauhid adalah syirik, mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى . Dan barangsiapa terlibat di dalam dosa syirik, semua kebaikan yang pernah ia lakukan di dunia akan terhapus dan tidak memperoleh penilaian apapun di sisi Allah سبحانه و تعالى . Wa na’udzubillaahi min dzaalika..!

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, bila kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar [39] : 65)

Orang yang tidak diterima tauhidnya berarti ia tidak diterima imannya. Dan jika iman tidak diterima, berarti ia dinilai Allah سبحانه و تعالى sebagai seorang yang kafir. Dan orang kafir juga sama dengan orang yang syirik, yaitu amal-perbuatan mereka tidak mendapat penilaian apapun di sisi Allah سبحانه و تعالى .

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

“Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24] : 39)

Maka jelaslah betapa pentingnya setiap muslim mendalami makna kalimat tauhid yang diikrarkannya, terutama bagian pengingkaran akan thaghut. Sebab pada umumnya sudah cukup ramai pembahasan mengenai keharusan menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى , namun pembahasan dan kajian mengenai kewajiban menjauhi dan mengingkari thaghut masih sangat jarang.

Kembali kepada kajian di dalam tulisan “Risalah Fi Makna At-Thaghut” jenis pentolan pertama dari thaghut ialah “Syaitan yang selalu mengajak untuk beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى “. Di dalam Al-Qur’an Allah سبحانه و تعالى berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Aku (Allah سبحانه و تعالى ) telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yaasin [36] : 60)

Syaitan merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Oleh karenanya tidak dibenarkan bagi muslim manapun untuk berkompromi dengan syaitan, apalagi berakrab-akrab dengannya. Sebab keakraban tidak mungkin muncul di antara dua fihak yang sebenarnya bermusuhan. Keakraban hanya mungkin muncul di antara dua fihak yang saling bersahabat.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir [35] : 6)

Syaitan hanya mengajak manusia agar beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى . Jika manusia mau mengikuti ajakan mereka itu, maka ia bakal dijebloskan ke dalam neraka bersama para syaitan tersebut di akhirat kelak karena ia telah rela mengikuti ajakan syaitan agar menghamba kepada selain Allah سبحانه و تعالى . Syaitan tidak hanya mengganggu manusia awam, tetapi bahkan para Nabi-pun tidak luput dari upaya tipu daya mereka. Syaitan ada dua macam, yaitu syaitan dari kalangan jin dan syaitan dari kalangan manusia. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ

“Dan begitulah Kami jadikan bagi tiap nabi musuhnya berupa syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin.” (QS. Al-An’am [6] : 112)

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.(QS. An-Naas [114] : 5-6)

Orang yang mengajak untuk mempertahankan, melestarikan tradisi syirik seperti tumbal, ruwatan dan sesajen, dia adalah syaitan manusia yang mengajak ibadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى . Pemuka adat atau pemuka agama yang mengajak minta-minta kepada orang yang sudah mati adalah syaitan manusia dan dia adalah salah satu pentolan thaghut. Orang yang mengajak pada faham, ideologi dan sistem hidup non-tauhid (baca: syirik) produk manusia seperti pluralisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, nasionalisme dan demokrasi sehingga menimbulkan keraguan akan kesempurnaan ajaran/sistem Islam, adalah syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى , dia berarti termasuk thaghut. Orang yang mengajak menegakkan hukum perundang-undangan buatan manusia sehingga meninggalkan hukum Allah سبحانه و تعالى , maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى. Sedangkan Allah سبحانه و تعالى berfirman:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankah Aku (Allah سبحانه و تعالى ) telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yasin [36] : 60)

Makna beriman kepada Allah سبحانه و تعالى adalah bahwa engkau meyakini bahwa Allah سبحانه و تعالى merupakan satu-satunya ilah yang berhak untuk di ibadati, tidak yang lainnya, engkau memurnikan segala macam ibadah hanya kepada-Nya dan engkau menafikan, mengingkari, menjauhi segala macam yang di sembah selain-Nya.

Engkau mencintai al-muwahhidun (ahli Tauhid) dan loyal kepadanya, serta engkau membenci pelaku-pelaku syirik dan memusuhinya. Inilah agama Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam di mana orang yang benci akannya adalah orang yang telah memperbodoh dirinya sendiri. Inilah suri tauladan yang telah Allah سبحانه و تعالى kabarkan di dalam firman-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُإِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَمِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُالْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4)

Orang yang berbaik-sangka kepada Allah سبحانه و تعالى pasti yakin hanya dienullah Al-Islam sajalah yang bisa mengatasi berbagai masalah kehidpan di dunia. Bukanlah berbaik-sangka kepada Allah سبحانه و تعالى jika muslim masih ragu Islam dapat mengatasi segala urusan di dunia sehingga dia masih menyisakan keprcayaan kepada berbagai faham non-Tauhid (baca: syirik) produk manusia seperti demokrasi, nasionalisme, sekularisme dan sejenisnya untuk mengatasi berbagai persoalan pelik di dunia. Mari kita jujur, konsekuen dan tidak sepotong-sepotong dalam berbaik-sangka kepada Allah سبحانه و تعالى .

Saudaraku, marilah kita berbaik-sangka kepada Allah سبحانه و تعالى beserta hamba-hambaNya yang istiqomah, dan marilah kita berburuk sangka kepada thaghut (syaitan) beserta para pembelanya. Sebab Allah سبحانه و تعالى menjanjikan kebaikan bagi orang-orang yang mau dan istiqomah bersikap demikian:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah [2] : 256)

(BERSAMBUNG, insya Alloh)

Undangan ke Surga Terbaru

blog comments powered by Disqus