Iramawati Oemar: Rakyatlah Oposisi Sesungguhnya!

Apalah artinya berupaya membebaskan para pejuang yang dibui, jika harus menjilat dan mengikuti keinginan pihak yang mengkriminalisasi. Bukankah dulu kakek moyang kita yang ditahan Belanda tidak pernah mau menjilat dan ikut kemauan Belanda demi sebuah kebebasan?!

YANG MENANG, YANG GAMANG

Lihatlah orang-orang yang dimenangkan, betapa mereka kini gamang, berupaya mendapatkan ucapan selamat, mati-matian ingin mengajak rekonsiliasi.

Jumat malam, sehari pasca putusan MK, di TV One Ibu Siti Zuhro, pengamat politik, meminta agar Gerindra dan PKS tetap berada di jalur oposisi. Siti Zuhro mencontohkan betapa dulu PDIP 10 tahun berada di luar Pemerintahan dan kekeuh jadi oposisi.

Namun apa kata Arya Bima, politisi PDIP?! Dia menolak argumen Siti Zuhro, jangan bandingkan dengan masa ketika PDIP jadi oposisi. Saat itu keterbelahan masyarakat tidak terjadi separah sekarang. Kalau sekarang, masyarakat sudah terbelah parah.

Nah lho!!

Artinya mereka sebenarnya TIDAK SANGGUP MERANGKUL KEMBALI RAKYAT, MEREKA TIDAK MAMPU MEREBUT KEMBALI SIMPATI RAKYAT.

Lalu siapakah penyebab keterbelahan di tengah masyarakat?! Bukankah kubu kalian yang selalu MENUDUH kami yang tidak mendukung kalian sebagai “ekstrimis”, kelompok Islam garis keras, Islam radikal, pro khilafah, seakan kami tidak pancasilais, tidak cinta NKRI?!

Lupakah kalian semua TUDUHAN yang gencar kalian tiupkan agar kami dibenci sebagian rakyat lainnya?! Bukankah issu Islam radikal, issu khilafah, itu yang sengaja kalian hembuskan agar bangsa ini terbelah dan sesama ummat Islam diadu domba?! Bukankah DOKTRIN itu yang kalian ajarkan saat pelatihan TOT saksi?! Lalu kenapa kalian sekarang kebingungan ketika melihat masyarakat terbelah.

Sore ini di iNews TV, Lukman Edi pun berkata senada, intinya kubu mereka, TKN 01, semua ditugaskan untuk melobby siapa saja yang mereka kenal dari kubu BPN 02, agar bisa segera rekonsiliasi.

Tidak malukah dia setelah sekian banyak pernyataan menyakitkan dia lontarkan di berbagai kesempatan muncul di layar TV, sekarang akan mengajak kami mengakui kemenangan kalian?!

Insyaa Allah, sampai akhir hayat pun kami rakyat yang sudah kenyang difitnah, dituduh “ekstrimis” (radikal, garis keras), dicari-cari kesalahan kami, TIDAK AKAN PERNAH RELA BERJABAT TANGAN dengan mereka yang berlumuran KECURANGAN. Masa iya kami akan berangkulan dengan yang telah merampok suara kami?!

Nikmatilah kemenangan pemberian KPU, Bawaslu dan MK. Puaskanlah berbagi kekuasaan antar kalian. Jika kalian pemenang sejati, kenapa harus menggoda oposisi?! Bukankah oposisi harus ada demi berjalannya roda demokrasi?! (*)

(Sumber)