Sami-Si Badui, Adam-Si Teroris

5 Agustus 2009, perempuan itu membawa bayinya yang baru berusia 54 hari (berumur kurang dari dua bulan) ke penjara Israel. Perempuan itu ingin bertemu dengan adiknya. Dan untuk Adam, sang bayi, itu akan jadi hari besar, karena akan melihat pamannya pertama kali di dunia ini.

Penjara Israel terletak sekitar 40 km dari rumah perempuan itu, dan perjalanannya bisa mencapai 30-40 menit dengan menggunakan kendaraan biasa, sebuah bus. Di negeri yang normal, semua berlangsung normal, tapi di wilayah rasis seperti Israel, semuanya berjalan layaknya di neraka bagi orang Palestina. Perjalanan itu harus dilalui dalam waktu 12 jam.

Perempuan itu sebelumnya ingin menemui ayah dan adik perempuannya di Jenin sebelum ke penjara Israel. 20 menit kemudian, bus sampai di tembok besi pemisah antara Palestina dan Israel yang dibangun oleh Israel untuk mengambil tanah Palestina pada tahun 1948. Bus harus berhenti di situ untuk menjalani pemeriksaan oleh tentara dan agen intelijen Israel. Tentara dan intel itu tak pernah menganggap ada manusia di dalam kendaraan jika mereka mendapati orang Palestina.

Ketika melihat si perempuan, dan bayinya, seorang tentara menghardik, “Siapa ini?”

“Dia bayiku.” Jawab perempuan itu.

“Dan apa kepentingannya ia di sini? Apa yang ia lakukan di sini?”

Perempuan itu terperangah mendengar pertanyaan itu, heran luar biasa. “Dia ini bayiku!!!”

“Kamu melanggar hukum. Dia (bayi ini) tak diizinkan masuk!” ujar si tentara dengan sinis.

“Apa? Dia hanya seorang bayi.” Perempuan itu berteriak, tak percaya dengan apa yang ia alami.

“Dia tak diizinkan masuk, dan kamu melanggar hukum. Lain kali, kamu bakal dihukum!”

“Apa? Apa maksudnya….?”

“Dia bukan anggota keluarga pertama, jadi dia tak punya izin masuk.” Si tentara itu marah.

Perempuan itu menangis. Tak bersuara. Ia menatap si tentara yang balas nyengir kepadanya, sambil mempermain-mainkan senjatanya.

Itulah rasisme Israel. Mereka hanya mengizinkan keluarga pertama yang boleh menjenguk tahanan. Adam, bayi berumur 54 hari, tak diizinkan masuk karena ia hanya seorang keponakan saja. Perempuan itu sudah tak bertemu dengan adiknya untuk tujuh bulan. Perempuan itu tinggal bersama ayahnya yang berumur 70 tahun. Ayahnya sudah menganjurkan agar Adam dititipkan dahulu kepadanya sampai perempuan itu kembali dari kunjungannya ke penjara, karena jika bersikeras membawa Adam, maka perempuan itu tak akan pernah bertemu dengan adiknya.

Ayah Adam, bernama Sami, adalah seorang Palestina zaman dulu. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai orang badui. Sami akan mengajarkan Adam bertempur melawan Israel untuk merebut kembali tanahnya yang dirampas, dan mengusir bangsa rasis dan kejam itu dari Palestina. Sami akan mengajari anaknya untuk mendapatkan martabat diri dan bangsanya, walaupun harus kehilangan nyawa. Peduli setan dengan hukum rezim Israel, karena itulah yang Sami pahami sebagai seorang badui yang terjajah. (sa/ptt)